Sudut Pandang (SUP)

KKR, KPI, KKI, Yang Mana, Dong?

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Wed, 16 September 2009 - 13:45 | Dilihat : 14317
Tags : Isu Kontemporer

Terkait


Follow Twitter: @bigmansirait

Apa gerangan kepanjangan judul Mata Hati kali ini? KKR adalah singkatan dari kebaktian kebangunan rohani, dan paling populer di antara ke-3  ‘rekan’nya di atas itu. KPI berarti kebaktian penyegaran/pemupukan iman. Sementara KKI tak lain adalah singkatan dari kebaktian kebangunan iman. Persoalannya, mana yang lebih pas?

 

            Jawabannya sederhana saja, tergantung siapa yang memakai istilah tersebut. Rupa-rupanya, perbedaan denominasi gereja pun harus ditampilkan dalam istilah yang dipakai. Jadi bukan lagi masalah definisi. Namun harus diakui, istilah KKR bukan saja yang paling populer tetapi juga yang pertama kali digunakan.

Alkisah, di Los Angeles, California, Amerika Serikat, tepatnya di Azusa Street, sekitar tahun 1906 digelar KKR secara maraton. Acara itu dimotori oleh William J.Seymour (1870-1922), seorang pengkhotbah berkulit hitam yang sangat populer saat itu. Apa yang dilakukan Seymour, dapat dikatakan sebagai sebuah terobosan dari kemapanan gereja dalam beribadah, yakni mengadakan ibadah di lapangan terbuka. Biasanya saat itu gereja sangat terikat pada gedung gereja. Meski sikap pro-kontra muncul seputar gerakan ini, namun semakin hari jumlah orang yang mengikuti ibadah KKR ini semakin banyak. Hal ini sebenarnya dapat dimengerti, mengingat kondisi gereja pada saat itu  cenderung ‘mendingin’, terjebak dalam  rutinitas ritual, serta penyakralan gedung gereja.

 

KKR di masa itu betul-betul menjadi sebuah aktivitas kebangunan rohani yang diminati banyak orang. Hanya saja, seiring dengan itu muncul pula permasalahan teologis, perdebatan yang tak kunjung usai.  Tetapi hal itu sangat logis dalam perjalanan gereja yang terus mencari jati diri. Perbedaan visi pasti akan menyebabkan perbedaan aksi. Namun dalam kesempatan ini, Mata Hati tidak hendak membedah ’kericuhan teologi’ atau ‘perbedaan visi’ yang terjadi, melainkan hanya mengambil cuplikan kecil dari kisah lahirnya istilah KKR ini.

 

Seturut perjalanan waktu, suara KKR terus menggema, dan kini KKR tidak lagi didominasi oleh kelompok tertentu, tetapi oleh banyak gereja. KKR yang kita bicarakan di atas adanya di Amerika yang penduduknya mayoritas Kristen, tetapi sedang ‘tertidur’ dan perlu dibangunkan.

 

Kini, di Indonesia yang notabene bukan berpenduduk mayoritas Kristen, apakah KKR tidak boleh digelar? Kembali sikap bernada pro-kontra mengemuka. Terbit aneka pandangan, dari sudut teologi, psikologi massa, sosiologi, hingga logi-logi lainnya. Berbagai argumentasi coba digelar, hasilnya perbedaan saling melebar, dari sekadar istilah hingga latar belakang gereja dan denominasi. Silang pendapat itu tidak akan pernah usai jika tidak ditengahi. Namun adalah bijak menyimak perkataan  Rasul Paulus (I Korintus 9:20) yang sekalipun bebas namun mengambil sikap menjadi: seperti Yahudi jika bersama orang-orang Yahudi, dan menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat jika berada di lingkungan orang-orang  yang hidup di bawah hukum Taurat. 

 

Jangan salah paham, sikap seperti itu bukan bunglon atau kompromistis, tetapi menumbuhkan sikap toleransi yang tinggi dalam rangka memenangkan diri dan sesama agar terikat dalam tali kasih dan kesempatan memenangkan jiwa-jiwa baru bagi Yesus Kristus. Kita sangat mengenal Paulus sebagai rasul. Paulus tegas dan konsisten dalam berteologi. Kalimat ini menggambarkan betapa perlunya sikap yang bijaksana. Bijaksana menempatkan diri untuk memenangkan jiwa-jiwa baru bagi Kristus. Ketegasan sikap dan warna teologi yang ditampilkan dalam format bijaksana, pasti luar biasa membungkam lawan. Namun bukan berarti itu bebas dari perlawanan. Paulus sang rasul terus melanglang buana dari satu fitnahan,  juga penganiayaan, bahkan pemenjaraan. Artinya, format apa pun yang dipakai, perlawanan pasti tetap ada. Namun format yang tepat akan menempatkan kita pada posisi yang tepat pula. Tidak ada celah bagi pihak lawan untuk mencerca apalagi memutarbalikkan fakta. Sehingga ketika perlawanan itu muncul, orang lain (Kristen atau non-Kristen),  akan mudah menilai mana yang benar atau salah. Sementara, format yang kurang tepat mencipta lubang bagi pihak lawan untuk menggugat dan mempersalahkan. Bagaimana tidak, format yang tepat saja dipermasalahkan, apalagi yang kurang tepat.

 

Belajar dari berbagai pengalaman pahit pada acara akbar kristiani (didemo/dihentikan) yang kita sebut KKR ini, pastikanlah diri Anda agar jangan pernah berhenti memberitakan Injil, tetapi harus jeli. Toh, acara KKR tidak berarti harus dihadiri orang dalam jumlah yang banyak. Sedangkan pemberitaan Injil harus diikuti pertobatan yang sejati. Jadi perhatikan kualitas bukan sekadar kuantitas. Di sisi lain, KKR juga harus diselenggarakan secara bertanggung jawab, dengan  follow-up-nya (baca: menolong seseorang supaya bertumbuh dalam iman kepada Kristus), bukan follow me (mencari massa). Kebanyakan KKR akhirnya hanya follow me, bukan follow up.

 

Sikap pro-kontra seputar KKR di bumi pertiwi yang sedang lusuh ini perlu diselesaikan dalam suasana teduh. Mari menghitung  ‘rugi-laba’ model pelaksanaannya, tetapi jangan pernah mulai menghitung tugas pemberitaan injil (PI). Buat pemisahan antara KKR sebagai baju dengan PI sebagai jiwanya. Baju bisa saja diganti dengan dan oleh alasan apa pun. Mengganti jiwa, sama saja dengan kebinasaan. Menyelenggarakan KKR di daerah ‘teduh’ (di mana kerukunan antarumat beragama tidak ada masalah), mengapa tidak? Namun KKR di daerah ‘tidak teduh’, kenapa harus? Nah, di sinilah kita butuh kebijaksanaan.

 

Sebagai seorang pembicara KKR yang melayani di berbagai daerah, bahkan ke luar negeri, penulis memperoleh pelajaran penting bahwa setiap tempat punya kondisi tersendiri. Di Eropa, dalam sebuah KKR saya pernah diingatkan agar dalam menyampaikan khotbah jangan sampai melewati waktu pukul 22.00. Alasannya, tempat beribadah agak terbuka dan suara  bisa mengganggu warga sekitar yang notabene adalah penganut agama Kristen. Karena jika merasa terganggu, mereka berhak melapor kepada polisi, dan kejadian seperti itu memang pernah terjadi. Saya terpana, sulit dipercaya kalau hal ini bisa terjadi di wilayah yang warganya mayoritas menganut agama Kristen. Meski demikian,  khotbah toh tidak harus sampai pukul 22.00 bukan? Injil harus tetap diberitakan. Namun ibarat mengemudikan sepeda motor di jalan berlubang, perlu sedikit seni mengemudi guna menghindari lubang tanpa perlu turun dari sepeda motor, atau anda terjatuh sehingga terpaksa berjalan kaki. Sikap hati-hati kan bukan dosa atau penakut, melainkan bijaksana.

 

Akhir kata, tetap dan teruslah kita menyelenggarakan KKR, KPI, KKI. Tetapi di mana, bilamana, atau bagaimana? Ini yang lebih dahulu perlu kita pikirkan bersama, guna menghindari ekses-ekses yang tidak perlu. Kalau kita sudah benar namun masih saja muncul ‘perlawanan’, itu lain lagi permasalahannya. Adalah sangat terhormat jika kita dipersulit dalam menegakkan kebenaran bagi semua orang. Mudahkan?***

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top