Sudut Pandang (SUP)

Berkarya Tanpa Suara

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Thu, 17 September 2009 - 10:36 | Dilihat : 2619

Follow Twitter: @bigmansirait

Sekitar abad ke-6 SM, di Babel, tempat pembuangan bagi bangsa Israel, tercatatlah nama Daniel, anak muda dengan bibit, bebet, dan bobot, yang luar biasa. Nama Daniel berarti “Allah adalah hakimku”. Kemungkinan besar Daniel berasal dari garis keturunan Raja Hizkia (II Raja Raja 20: 17-18). Hampir dapat dipastikan dia berasal dari kalangan atas Yerusalem (Daniel 1:3), karena tidak mungkin Raja Nebukadnezar, penguasa Babel, memilih sembarang orang dari kalangan bawah untuk bekerja di istananya. Kalangan atas di sini, identik dengan orang yang berilmu tinggi serta memiliki integritas yang teruji. Tidak heran, ketika Raja Nebukadnezar mengadakan seleksi ketat untuk mendapatkan SDM terbaik bagi kerajaannya, Daniel lulus. Daniel memenuhi kriteria sebagai pemuda yang tidak punya cacat cela, berperawakan baik, memahami berbagai hikmat, berpengetahuan luas, menguasai banyak ilmu. Singkat kata, dia adalah orang yang cakap bekerja untuk tingkat istana (Daniel 1:4).

Yang membuat Daniel terpilih adalah karena kemampuan kerjanya yang sangat menonjol. Terpilihnya Daniel bukan lantaran dia piawai mempromosikan diri atau ahli dalam bidang ilmu jilatisasi yang sangat populer belakangan ini. Daniel terpilih bukan karena permintaannya sendiri, namun justru karena diminta orang lain. Mengapa? Karena dia memiliki segala aspek yang dibutuhkan untuk pekerjaannya. Dan orang yang memilki kemampuan yang bagus di bidangnya, sudah pasti akan menjadi SDM yang dicari-cari. Daniel tidak sekadar berilmu tinggi tetapi juga punya integritas yang terpuji. Dari sudut keimanan, yang memang sangat diperlukan dan menentukan, Daniel sangat teguh. Imannya telah mengalami pengujian yang sangat berat, dan Daniel lolos. Sikap iman yang tanpa kompromi itu sudah tampak jelas pada waktu seleksi, terlebih lagi pada waktu menghadapi hujan fitnah dan siasat jahat orang yang tidak senang terhadap dirinya. Singkat kata, Daniel adalah sosok dengan perpaduan langka, yaitu usia muda, berilmu tinggi, beriman teguh dengan integrasi yang terpuji. Sungguh sebuah perpaduan yang sempurna. Jadi, tidaklah mengherankan jika Daniel mendulang kesuksesan di negeri orang, meskipun statusnya orang buangan, minoritas.

Sikap Daniel sungguh kontras dengan kebanyakan orang Kristen masa kini yang bercita-cita meraup kesuksesan besar – sesukses Daniel – sekalipun tidak memiliki ilmu pengetahuan yang memadai, integritas belum teruji, serta keimanan yang tidak jelas. Sebaliknya, sangat mengherankan melihat orang Kristen yang dianugerahi Tuhan banyak talenta dan kemampuan, namun ketakutan untuk berkarya, dan selalu memakai alasan berhikmat ketika menyembunyikan dirinya di dinding kemapanan hidup. Sebuah ironi dari realita kondisi orang Kristen yang tak mampu mengenal atau menggali potensi diri. Dalam realita hidup di Indonesia, umat Kristen yang selalu menyuarakan diri sebagai minoritas dan berharap dapat mencetak ulang prestasi Daniel ‘si minoritas’ di Babel. Tetapi sekali lagi, kurang peka berkalkulasi tentang diri dan membaca situasi.

Dalam kondisi kehidupan kita berbangsa dan bernegara di bumi pertiwi Indonesia ini, ada beberapa hal yang perlu diluruskan agar pengertian minoritas tidak semakin menyesatkan dan menciptakan prediksi yang tidak tepat. Umat Kristen harus mampu melepaskan diri dari jebakan ini. Kita hanya menjadi minoritas apabila tinggal di negeri orang, negeri yang bukan Indonesia. Republik Indonesia adalah tanah tumpah darah kita. Kita adalah bagian dari kehidupan bangsa ini, bagaimana bisa disebut minoritas? Agama bukanlah darah kebangsaan kita. Untuk itu, koreksi perlu diluncurkan terus-menerus kepada mereka yang seakan menjadi pemilik dan penguasa negeri tercinta ini. Di Indonesia, semua anak bangsa adalah mayoritas. Untuk itu, sebagai anak bangsa, kita perlu menjalin benang kasih sebagai saudara satu nusa, satu bangsa Indonesia. Belajarlah untuk tidak eksklusif dalam tatanan pergaulan sebagai sesama anak bangsa, apalagi merecoki dan menghakimi sesama bangsa dengan baju agama. Iman kita adalah tanggungjawab pribadi kita kepada Tuhan, bukan untuk diperdebatkan tetapi didemonstrasikan menjadi sumbangan aktual bagi bangsa ini. Kalau ada satu agama merasa diri paling benar, biarlah mereka membuktikannya, tidak sekadar meneriakkannya. Umat Kristen jangan sampai terjebak di sana, membuang-buang waktu dengan berteriak-teriak. Lebih baik menabur karya nyata sebagai buah iman. Jadi umat Kristen jangan menempatkan diri sebagai minoritas, sebab itu adalah sebuah kesalahan yang tidak perlu diteruskan.

Di sisi lain, umat Kristen juga perlu belajar agar tidak memperlihatkan sikap ‘euforia keimanan’, tidak melontarkan kalimat tak bersahabat, ber-apologetika dengan ‘gelap mata’, monolog bukan dialog. Umat Kristen membutuhkan pencerahan dalam menampilkan diri sebagai berkat, bukan dengan tumpang tangan (merasa diri paling hebat) melainkan uluran tangan (sikap bersahabat). Lalu dalam keilmuan, jangan sampai anti klimaks, menolak pengetahuan atas dasar keimanan. Sikap menolak ilmu atas nama iman adalah sesuatu yang aneh tapi nyata. Tapi itulah realita pembodohan yang membuat umat semakin tidak tanggap pada tanggungjawab kehidupan berbangsa. Bicara tentang tanggungjawab terhadap bangsa (sosial politik) seakan membicarakan dosa, tidak rohaniah dan beribu dalih lainnya. Sementara di saat yang bersamaan kita semua tinggal di bumi Indonesia, bahkan bekerja, dan menikmati segala apa yang ada tanpa merasa bahwa itu dosa dan tidak rohaniah.

Kembali ke Daniel dan kesuksesannya. Kita semua pasti ingin seperti Daniel. Semua orang ingin beroleh sukses. Tapi jangan hanya mengimpikan sukses tanpa memperhitungkan kemampuan diri sendiri. Jangan hanya mengharapkan kedudukan tetapi mengabaikan ketaatan. Orang yang memiliki ilmu dan iman secara terpadu kini semakin langka. Mengapa kita tidak mencoba mengisinya, dengan melahirkan angkatan muda yang berilmu tinggi dan beriman teguh dengan integritas yang teruji? Daniel telah ‘berkarya nyata tanpa bersuara’, melengkapi diri sepenuh dan seutuhnya, sehingga menjadi orang yang dicari dan dibutuhkan. Kelengkapan diri Daniel penting untuk kita miliki pula, namun dalam konteks yang memang berbeda. Perjuangan Daniel untuk menjadi orang yang terbaik harus menjadi model bagi perjuangan kita. Akan menjadi nomor berapa, atau akan menduduki jabatan apa kita nanti, biarlah Tuhan yang akan menentukannya. DIA pasti lebih tahu soal di mana atau bagaimana kita ditempatkan.

Jadi dalam carut-marutnya kehidupan bangsa ini, pertanyaannya bukan pada apakah Anda mayoritas atau minoritas, bukan pada soal apa suku, atau apa agama yang Anda anut, melainkan apa kemampuan yang bisa Anda berikan untuk memperbaiki dan melengkapi kehidupan bangsa ini. Tidak terlalu penting apakah kita diakui, dihargai atau tidak. Yang paling penting adalah tindakan kita sebagai orang percaya yang nyata dan bermanfaat bagi kehidupan bangsa dan negara.

Waktu pasti akan bercerita kepada tiap generasi, siapa perusak dan siapa yang berkarya nyata bagi bangsa ini. Seluruh komponen bangsa harus bangun memberi sumbangsih, bukan menggerogoti. Bukan sekadar doa semalaman tapi tak hadir dalam kenyataan. Bagi umat Kristen bukankah ini tantangan ekstra yang sangat menarik? Akankah orang muda seperti Daniel dengan kelengkapan pengetahuan dan keteguhan imannya akan muncul lagi? Atau Daniel hanya ada dalam khotbah dengan retorika yang wah, namun impoten dalam realita. Atau, jangan-jangan Daniel itu cuma berupa euforia yang jauh dari harapan. Semuanya berpulang pada kita umat percaya, tapi yang pasti, jangan terlalu banyak bersuara, tapi buatlah banyak karya yang nyata.***

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top