Sudut Pandang (SUP)

Ketika Menjilat Terasa Manis

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Thu, 17 September 2009 - 10:52 | Dilihat : 2096
Tags : Agama Dan Politik Artikel Politik Artikel Politik Politik

Terkait


Follow Twitter: @bigmansirait

Hiruk-pikuk penghitungan suara hasil Pemilu 2004 masih berlangsung, namun pemenangnya sudah semakin jelas. Yang menarik adalah Partai Golkar. Sebelum pemilu berlangsung banyak tokoh Golkar dimasukkan ke dalam ‘keranjang sampah’ tempat khusus bagi para ‘politikus busuk’. Bukan hanya dihujat, Partai Golkar juga ‘dinubuatkan’ akan mengalami kemunduran. Tapi, kenyataan berkata lain. Entah ini murni pilihan rakyat, ataukah cara penghitungan suara yang direkayasa, atau mungkin juga lantaran kepongahan sekaligus kebodohan partai politik (parpol) lainnya. Yang pasti, Golkar memimpin dalam perolehan suara sementara, bersaing dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di peringkat dua, dengan perbedaan suara yang sangat tipis. Besar kemungkinan Golkar akan tampil sebagai pemenang pertama.

Di sisi lain muncul pula kuda hitam, yaitu Partai Demokrat, partai baru dengan prestasi wah, yang menembus peringkat ke-5. Sementara itu, partai bernuansa agama semakin hari semakin nyata bukan merupakan pilihan pertama dari umat beragama. Apalagi di era globalisasi ini manusia cenderung membangun persatuan secara kebangsaan sehingga warna keagamaan yang dimasukkan dalam partai kurang disukai. Warna keagamaan dalam kepartaian dinilai dapat menjadi pemicu pertikaian yang serius. Karena itu partai bernuansa nasionalis lebih diminati. Realita ini tentu saja mengganggu mereka yang sangat pede (percaya diri) dan merasa beriman besar. Sebelum pemilu berlangsung, mereka selalu membawa-bawa nama jutaan umat dan mengklaim, seluruh umat adalah pemilih mereka. Hasilnya, perasaan terkejut dan gelisah yang amat sangat, melanda hati para politikus berwarna keagamaan.

Sebelum pemilu, banyak politikus menempatkan diri sebagai pahlawan terbaik, bahkan ‘juru selamat’ bangsa ini. Mereka berlomba-lomba meneriakkan diri sebagai paling bersih, paling demokratis, dan so pasti paling layak menjadi RI 1. Namun apa yang terjadi, penghitungan suara belum selesai, sudah muncul sekelompok politikus yang menyatakan diri ‘Aliansi 19 Partai’, dan bertekad menolak hasil pemilu. Mengkritisi cara kerja KPU tentu penting, bahkan harus. Tapi menyatakan penolakan sebelum proses selesai, tentu sangat sulit dipahami. Belum selesai, belum ada kesimpulan, lha, kok sudah ditolak. Bukankah ada jalur hukum sebagai kereta demokrasi? Biarlah pengadilan yang memutuskan, bukan aliansi partai yang nggak jelas arahnya itu. Mungkin ada kecurigaan bahwa pengadilan akan curang, tapi itulah jalur resmi yang ada. Dan sekaligus itulah konsekwensi yang harus diterima dalam berbangsa dan bernegara yang secara terus- menerus memerlukan perbaikan.

Dengan demikian, kita belajar berdemokrasi sekalipun terasa sangat pahit. Berbeda bukan untuk terpecah. Tapi bagi para tokoh kita yang ‘agung dan selalu benar itu’, sulit menerima kenyataan ini, karena mereka merasa sebagai pihak yang selalu benar. Sementara rakyat hanya termangu. Usai memilih kok malah jadi ramai. “Tahu begini, mending nggak usah memilih,” kata rakyat kebanyakan. Tapi ada lagi yang lebih menarik, sangat menarik, bahkan membuat kita tercengang. Ada tokoh mau pun partai yang sebelum pemilu secara terbuka atau tersamar mengutuki Partai Golkar atau partai pemenang lainnya sebagai hunian para politikus busuk, namun kini dengan malu-malu kucing mulai menyatakan cinta. Lamaran koalisi pun mulai dikumandangkan secara halus tapi jelas, sejelas busuknya hati mereka. Jatuh cinta pada yang dikutuk busuk, sungguh pembusukan yang sangat busuk. Ada juga yang mencoba melamar partai lainnya yang dulu dianggap tidak se-visi. Tidak jelas kenapa kok sekarang mereka mendadak se-visi. Tidak jelas mereka mimpi apa seusai pemilu. Wahyu baru atau tipuan lama? Namun sudah dapat dipastikan, jawabannya pasti sangat klise: ini kan politik, kita harus realistis dan taktis.

Realistis memang harus, tapi tanpa etika itu sama saja dengan mengkhianati konstituennya, bahkan menghina diri sendiri. Tapi, siapa peduli. Toh yang dikejar oleh kebanyakan politikus, khususnya yang miskin etika (maklum, hati nuraninya sudah bangkrut), hanya kursi parlemen, bukan berjuang untuk konstituennya. Kursi yang bisa menebalkan kocek setiap bulan itulah yang membuat banyak ‘pendeta parlemen’ mengabaikan domba gembalaannya, atau politikus ‘tulen’ yang rela mengobral harga dirinya dengan special rate.

Golkar dan partai pemenang lainnya kini bagaikan madu yang diburu kumbang. Sang kumbang mencoba mendapatkan madu itu dengan sejuta cara. Kenyataan ini sungguh merupakan pembelajaran politik yang sangat penting bagi seluruh anak bangsa, khususnya umat Kristen. Semua harus mau belajar dari fakta di lapangan bahwa untuk berpolitik diperlukan modal dasar yang tidak bisa ditawar, yaitu I-4: Ilmu politik yang memadai; Iman yang dapat dipertanggungjawabkan; Integritas yang sudah teruji; dan Interaksi komunikasi yang melintasi batas kesukuan atau keagamaan. Kita mesti jeli menganalisis politikus yang mencalonkan diri, terutama caleg yang suka mempublikasikan diri dengan sejuta janji. Orang-orang semacam ini, biasanya cuma mulutnya yang besar, tetapi kecil ‘kemaluannya’ (baca : tidak ada rasa malunya). Model yang seperti ini tidak akan sungkan berpindah partai atas nama pengabdian pada rakyat, padahal yang ada dalam pikiran mereka hanya hasrat mencari kursi dan upeti.

Oleh sebab itulah umat dituntut untuk jeli dan tidak mudah terprovokasi dengan yel-yel yang tampaknya patriotik dan karismatik. Ingat, tidak kurang banyak politikus atau caleg yang menjual visi berbungkus baju rohani. Caleg model ini tidak akan risih mengutip ayat-ayat suci. Waspada pula terhadap sejumlah ‘pendeta provokator’ yang memberi dukungan secara membabi-buta kepada partai atau caleg tertentu tanpa catatan kaki yang berarti. Akibatnya umat terancam ke dalam perpecahan karena memang mempunyai pilihan yang berbeda. Anda jangan ikut menjadi buta dan terpecah, jangan memutuskan pilihan dengan emosional. Jangan lupa menganalisis dengan I-4 tadi.

Nah, kita kembali kepada politikus yang suka menjual diri kepada orang yang pernah mereka caci-maki sebagai busuk. Kini nyatalah sudah kalau mereka tidak memiliki integritas. Kemenangan partai dari masa ke masa masih ditentukan oleh rendahnya pendidikan politik sebagian besar rakyat pemilih. Rakyat yang jeli itu baru ada di kota besar saja, dan itu pun tidak seluruhnya. Situasi ini disadari dan dimanfaatkan betul oleh politikus yang mengisi pundi-pundinya atau popularitas dirinya dengan menjual program yang tak pasti juntrungannya. Bagi para politikus sekelas ini, menjual diri bukanlah masalah, apalagi menjual konstituennya. Itu pekerjaan rutin lima tahunan. Menjilat terasa manis, dan itulah yang mereka nikmati dengan penuh gairah. Mencaci kemudian memeluk, berkata benci tapi rindu setengah mati, mengutuk tapi kemudian bertekuk (lutut). “Menjilat itu manis,” kata mereka. Bahkan mereka sampai kecanduan menjilat.

Ah, politikus-politikus itu, profesor jilatisasi… Merekalah yang membuat banyak orang salah persepsi dan berteriak bahwa politik itu kotor. Padahal kelakuan kotor oknum-oknum inilah yang membuat orang alergi pada politik yang tujuan an sich-nya adalah mulia, karena untuk kebaikan bersama sebagai sebuah bangsa. Akhirnya, Mata Hati tak lagi punya kata-kata kecuali mengucapkan, “Hati-hati pada saat memilih.” Untuk para politikus yang hobbi menjilat, “Selamat menjilat, semoga nikmat.”***

Lihat juga

Komentar


Group

Top