Sudut Pandang (SUP)

Cinta, Oh Cinta

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Thu, 17 September 2009 - 11:18 | Dilihat : 2567
Tags : Artikel Cinta

Follow Twitter: @bigmansirait

CINTA, kini bagaikan dewa baru di abad ini. Dia dinamakan dewa baru, karena atas nama CINTA, sepasang homoseks (gay) merasa kalau perilakunya  yang abnormal itu benar, dan berhak menjalin hubungan sebagaimana layaknya antara pria dan wanita. Bahkan, pasangan yang sama-sama berjenis kelamin laki-laki ini dapat menikah. Argumentasinya sederhana saja: Daripada pria dan wanita menikah namun tidak ada CINTA, lebih baik sepasang pria (gay) menikah dengan dilandasi CINTA. Padahal, perilaku homoseks – meski dengan alasan CINTA – adalah perbuatan dosa dan secara jelas dilarang dalam Alkitab (Imamat 18:22, Roma 1:27)

Dengan alasan  CINTA pula, sepasang pria dan wanita menikah, diberkati di gereja, dan terikat secara sah sebagai suami-istri. Kemudian tidak jarang, dengan alasan sudah tidak saling CINTA lagi, pasangan ini merasa benar dan sah untuk bercerai.  Sebaliknya, karena saling CINTA pula, pasangan yang sudah bercerai dengan alasan sudah tidak lagi saling CINTA, merasa benar dan sah untuk menikah lagi untuk kedua atau kesekian kalinya dengan pasangan yang berbeda. CINTA, oh… CINTA, kau sungguh dewa yang mampu meggelapkan mata dan memutarbalikkan kebenaran.

 

Trend DEMI CINTA, kini semakin mengemuka dan menjadi berita di berbagai media, menjadi jiwa lagu, bahkan nafas utama yang mudah dan nikmat untuk dicerna anak manusia. Lalu apa kata Alkitab tentang CINTA?

 

CINTA, sama tuanya dengan sejarah manusia. Ketika Tuhan menciptakan manusia, Adam dan Hawa, mereka terdiri dari laki laki dan perempuan (Kejadian 1:26). Manusia diciptakan dengan kemampuan saling mencintai, bersatu dalam perbedaan (Kejadian 2:24). CINTA adalah kekuatan yang mempersatukan manusia dalam perbedaan dan keunikannya sebagai laki-laki dan perempuan. CINTA, tidak dirancang Tuhan untuk memisahkan sepasang suami-istri meskipun ada perbedaan di antara mereka. CINTA ada pada semua manusia dan semua manusia memiliki kemampuan untuk saling mencintai, bukan mengobralnya.

 

Namun setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, muncullah berbagai persoalan di sekitar CINTA. Paling tidak, CINTA antara laki-laki dan perempuan harus dibedakan antara romantic love dengan real love. Pasalnya, romantic love bersifat subjektif dan manipulatif, berorientasi pada diri dan pemenuhan kebutuhan rasa, sangat kondisional karena bergantung pada kalimat singkat:  I love you.

 

Sementara real love adalah kebalikannya. Dia bersifat objektif dan bertanggungjawab. Semangatnya berbagi diri dan tidak kondisional. Nah, romantic love inilah CINTA yang menjadi dewa baru itu. Atas nama romantic love, manusia berkajang dalam dosa. Sementara real love tidak menyakiti, bahkan sebaliknya memiliki kemampuan mengampuni, tidak menuntut tetapi memberi, bukan memisahkan diri melainkan menyatukan diri. Jadi, jika semangat real love hidup dalam setiap pasangan suami-istri, maka sulit membayangkan terjadinya perceraiaan. Apalagi jika itu menimbulkan luka yang menyakitkan.

 

Di sisi lain, romantic love memang penuh dengan asesoris manis yang tampak menggairahkan, seakan-akan pasangan itu saling mengisi dan menyatu. Namun jangan cepat puas, karena cepat bersatunya, cepat pula berpisahnya. Asesoris, seperti ucapan- ucapan mesra dan manja: aku sangat cinta dia, tanpa dia aku tidak mungkin bisa hidup, apa pun yang terjadi kami tetap bersama, dan… ah masih banyak lagi. Juga simbol simbol seperti hadiah ini dan itu yang bernuansa romantis termasuk tempat bulan madu.

CINTA, oh …CINTA, entah berapa panjang lagi korbanmu, yang menjadi gelap mata dan menganggap benar dan sah setiap tindakannya, dan mengabaikan kebenaran yang hakiki. Bagi mereka yang masih menghormati CINTA, semoga terpacu untuk mendemonstrasikan real love dengan semangat dan pengalaman dikasihi Tuhan, sumber cinta yang sejati. CINTA sejati ibarat proyek berkesinambungan yang tidak pernah usai hingga maut merenggut hidup, namun penuh makna, indah dan luar biasa.*           

Lihat juga

Komentar


Group

Top