Sudut Pandang (SUP)

Megabencana Indonesia

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Mon, 28 September 2009 - 13:07 | Dilihat : 1726

Follow Twitter: @bigmansirait

Tsunami mendadak menjadi nama akrab bagi telinga seluruh anak bangsa. Akrab, bukan karena dia penghibur atau pahlawan, tetapi sebaliknya: penghancur yang sangat menakutkan. Tsunami lahir dari rangkaian ombak dengan gelombang yang tinggi dan besar. Tsunami timbul karena dipicu oleh gempa, letusan gunung atau longsor di dasar laut. Di sisi lain, posisi Indonesia yang berada di antara tiga lempengan tektonik (lempengan Eropa–Asia, lempengan Indonesia – Australia, dan lempengan Pasifik), merupakan posisi yang cukup riskan.

Tsunami, yang asalnya dari bahasa Jepang, yang artinya ‘ombak pelabuhan’, merupakan bencana laut yang sangat menakutkan karena dapat meratakan pemukiman penduduk di daerah pesisir dalam waktu yang sangat singkat. Karena itu tsunami yang melanda Thailand, India, Sri Lanka, Malaysia, dan Indonesia pada Minggu pagi 26 Desember 2004 lalu, telah menimbulkan kerugian yang tak terhitung jumlahnya, bukan saja dari segi materi, tetapi juga dari segi moril. Diperlukan waktu yang sangat panjang untuk memulihkannya. Bagi Indonesia sendiri, badai gelombang tsunami yang menerjang Aceh dan Nias (Sumatera Utara) itu bukan peristiwa pertama. Namun, ini merupakan bencana tsunami yang terbesar, yang telah menelan korban lebih dari 105 ribu jiwa dari segala usia.

Berbagai perspektif bermunculan menyikapi bencana ini. Bagi para ilmuwan, peristiwa ini menjadi tantangan tersendiri, bagaimana mendeteksi gejalanya sedini mungkin, bahkan kalau bisa menaklukkannya. Sedangkan bagi para sosiolog, yang menjadi perhatian adalah upaya pemulihan kehidupan para korban secepatnya. Kerja sama dengan para psikolog tentu sangat diperlukan untuk pemulihan dari segi kejiwaan, sementara petugas medis mengobati fisik. Kalangan ekonom, akan sibuk menghitung jumlah kerugian dan biaya yang dibutuhkan untuk membangun kembali kawasan yang sudah luluh lantak itu. Sementara para sarjana teknik sibuk memikirkan konstruksi yang aman bagi bangunan yang berada di daerah rawan tsunami.

Lalu apa yang akan dikerjakan oleh para ‘teolog’ (baca: agamawan)? Kalangan yang satu ini memang paling sulit untuk bersepakat memahami apa saja. Tetapi yang pasti, mereka akan bersatu pendapat untuk berkata, “Mari kita berdoa.” Atas musibah seperti ini, agamawan segera berhitung tentang berapa besar dosa umat sehingga Tuhan menjatuhkan hukuman. Namun mereka seringkali lupa bahwa tanpa bencana tsunami, masyarakat Jakarta selalu panen besar aneka dosa. Korupsi dan manipulasi bukan lagi persoalan aparatur negara, tetapi juga pelayan gereja.

Kemarahan tsunami harus juga dipahami sebagai kelalaian umat manusia mengelola alam yang diberikan Tuhan. Alam ini diberikan untuk dipelihara, bukan untuk diekploitasi, dijaga bukan dijarah (Kejadian 1: 27-28). Tetapi manusia merusaknya atas nama meneruskan kehidupan. Lihat saja hutan yang semakin rusak parah, digunduli demi keuntungan yang tidak terbilang tanpa ada usaha reboisasi. Belum lagi penggalian pertambangan yang menghalalkan perusakan lingkungan. Akibatnya sederhana saja, panas bumi meningkat, erosi menelan pulau, gempa muncul semakin menggila. Bumi sakit parah karena disakiti manusia yang serakah. Jadi secara ilmiah, tsunami hanyalah bagian kecil dari kerusakan sistem alam yang dizalimi manusia (untuk ini perlu riset lebih lanjut dari para saintis).

Jadi apakah dengan adanya musibah ini berarti Tuhan marah dan merusak bumi? Jawaban saya sangat pasti TIDAK! Sebaliknya, Tuhan marah karena manusia merusak bumi yang diberikan-Nya untuk didiami dan dipelihara manusia. Manusia merusak bumi, siapa yang membantahnya? Hanya mereka yang tidak mau belajarlah yang tidak memahaminya. Karena itu, sebagai ciptaan unggulan, manusia harus melengkapi diri agar dapat menjadi pengendali hidup dan bumi ini, khususnya kepada mereka yang mengaku orang percaya. Ingat, Tuhan memberi kita kuasa untuk mengelola alam semesta. Namun, Tuhan tidak pernah memberi sedikit pun ruang bagi kita untuk merusaknya.

Tsunami adalah salah satu dari sekian kisah betapa manusia gagal menjalankan tugas mulianya memelihara alam semesta. Di sisi lain, tsunami memang secara gemilang menghapus berbagai perbedaan yang seringkali menjadi bibit permusuhan. Semua orang (tanpa memandang perbedaan latar belakang suku, agama, ras,), bahu- membahu saling bantu. Namun bukan berarti Anda hanya berkata, “Mari kita ambil maknanya (persaudaraan)”, lalu lupa bahwa kita adalah tersangka utama kasus tsunami. Haruskah, untuk tetap bersatu dan jauh dari diskriminasi akibat arogansi mayoritas maka kita mengharapkan bencana lagi? Ah… ini saja sudah megabencana, beritanya lebih dari megakorupsi. Atau megabencana akan berubah menjadi megakorupsi Indonesia? Oala, kasus perusakan alam saja belum dipertanggungjawabkan, sudah ditambah lagi dengan kasus baru. Ini, megakrisis Indonesia namanya (gereja, kayaknya …masuk, lho).

Lihat juga

Komentar


Group

Top