Sudut Pandang (SUP)

Gereja Yang Mempersatukan

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Mon, 28 September 2009 - 13:20 | Dilihat : 2643
Tags : Doktrin Gereja Eklesiologi

Terkait


Pdt.Bigman Sirait

Follow Twitter: @bigmansirait

“Bukankah mereka semua orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita, tentang perbuatan perbuatan besar yang dilakukan Allah.” Kalimat ini merupakan cuplikan dari peristiwa Pentakosta di Kisah Para Rasul 2:1-13, berisi kekaguman banyak orang dari banyak bahasa, namun mengerti bahasa para rasul, dalam bahasa mereka sendiri. Ya, peristiwa Pentakosta dalam konteks ini, memang menjadi momentum penting bagi gereja Tuhan di muka bumi.

Adalah merupakan kebiasaan penting orang Yahudi di Israel maupun perantauan (diaspora) untuk berkumpul di Yerusalem, setiap hari raya Pentakosta. Di tengah keramaian orang dan keragaman bahasa itulah, para rasul dipenuhi oleh Roh Kudus, dan berkata-kata dalam bahasa lain yang bukan bahasa mereka. Xenolalia (bahasa yang dikenal), seperti Partia, Mesopotamia, Kreta, bahkan bahasa Arab (jadi, jauh sebelum ada ribut-ribut soal nama Allah oleh oknum Kristen, rasul-rasul sudah memakainya oleh pimpinan Roh Kudus).

Semuanya memuliakan Allah dan perbuatan-Nya yang besar. Dan, Anda pasti tahu apa yang diucapkan para rasul dalam bahasa Arab, untuk mengatakan Allah yang mahabesar itu. Sangat menarik, bahwa para pendengar sangat mengerti apa yang diucapkan oleh para rasul. Bahasa yang membumi. Sekalipun ada yang mencemooh dan berkata kalau rasul-rasul sedang mabuk, itu bukan karena mereka tidak mengerti, tetapi lebih karena tidak mau mengerti.

Bahasa yang membumi pada peresmian pendirian gereja Tuhan oleh Roh Kudus, sungguh luar biasa. Hal ini menjadi catatan penting bagi gereja, bahwa kehadiran gereja haruslah dapat dimengerti. Fakta ini sangat kontras dengan realita Babel (Kej 11:4-9), di mana usaha manusia membangun “gereja” (dengan membangun menara), hanya menghasilkan perpecahan (bahasa yang kacau-balau). Gereja Babel, hanyalah gereja bermenara tapi memecah-belah. Sementara, Pentakosta adalah gereja tanpa menara namun mempersatukan.

Gereja yang sejati bukan sekadar menaranya, apalagi sekadar arogansi denominasinya, yang selalu menuai perpecahan. Gereja yang sejati, adalah manusianya, yang takut akan Tuhan dan merupakan agen pembaharuan dan persatuan tubuh Kristus. Ribuan dalih tersedia, jutaan argumentasi dilemparkan dalam perdebatan kepentingan denominasi, tetapi kasih tak kunjung muncul ke permukaan untuk membangun pengertian antartubuh Kristus, mencari persamaan dan mencairkan perbedaan yang tidak esensial. Alkitab “diperkosa”, tak lagi merdeka menerjemahkan dirinya sendiri. Gereja yang benar harus berani tunduk pada pesan Alkitab secara utuh, bukan Alkitab menurut “pemahamanku”.

“Pertikaian aneh” ini membuat umat semakin tidak mengerti hakekat gereja. Di sini bilang begini yang benar, sementara di sana bilang bukan (inilah akibat “pemerkosaan” Alkitab). Andaikata semua umat memahami Alkitab seperti apa yang dikatakan Alkitab, alangkah dekatnya persatuaan itu (maklum, Alkitab toh memang cuma satu, penafsirnya yang banyak). Bahasa gereja harus dimengerti orang banyak. Dan, bahasa itu bukan sekadar bahasa bumi atau planet, melainkan bahasa kasih. Bahasa kasih sangat dimengerti oleh manusia di permukaan bumi ini.

Bahasa kasih juga sangat disukai karena konkrit dalam kualitatif dan tidak manipulatif. Ingat orang Samaria yang baik hati, semua orang tahu bahasa yang diucapkanya, bukan dengan mulut berbusa, melainkan hati yang berbagi. Jika bahasa gereja yang dulu, yakni bahasa kasih yang dapat dimengerti dan dipahami seluruh pendengarnya menjadi bahasa gereja di masa kini, tentu tidak lagi membuat umat merasa asing. Sekarang ini, banyak sekali gereja memakai bahasa yang tidak dapat dipahami umat. Mungkin mereka beranggapan, semakin asing berarti semakin hebat, oalah. Belum lagi bahasa matre, kata kawula muda, bahasa sensasi, hingga bahasa preman yang melahirkan pertikaian.

Hari raya Pentakosta, kiranya mengingatkan kita untuk rendah hati dalam memahami perbedaan tanpa terjebak pada pertikaian. Membangun kebersamaan untuk saling membangun bukan menggembosi seperti kebiasaan para politikus yang haus kekuasaan. Tapi, ini tidak berarti kita mengabaikan ketajaman pisau bedah (Firman bagaikan pedang bermata dua), untuk membedah kesalahan dan kesesatan yang memang kini semakin menjadi-jadi seturut dengan mendekatnya waktu kedatangan Yesus untuk yang kedua kali. Gereja yang mempersatukan tubuh Kristus, sudah semestinya. Para pemimpin gereja yang hanya menabur dan menuai pertikaian, harus berani mengoreksi diri, bukannya mencari pembenaran diri. Sementara umat dituntut untuk mawas diri dan tidak hanyut dalam pertikaian yang tidak bertepi.*

Lihat juga

Komentar


Group

Top