Sudut Pandang (SUP)

Antara Kebebasan Dan Kebablasan

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Tue, 29 September 2009 - 14:26 | Dilihat : 3085
Tags : Artikel Kebebasan Artikel Kemerdekaan Toleransi

Terkait


Pdt.Bigman Sirait

Follow Twitter: bigmansirait

Reformata.com - MASIH hangat di ingatan, geger besar isu agama yang meledak di berbagai tempat akibat ulah media Denmark yang memuat karikatur Nabi Muhammad. Karikatur yang dinilai oleh umat Islam sebagai pelecehan agama. Pemerintah Denmark meminta maaf, namun tak berdaya mendisiplinkan media yang menciptakan masalah dengan alasan kebebasan berpendapat yang dilindungi undang-undang (UU). Tak jelas memang, apakah juga ada UU yang melindungi orang yang merasa dirugikan, dilecehkan, menurut keyakinannya, dan bukan keyakinan si pembuat yang berpendapat. Kalau tidak, betapa naifnya. Ini kan namanya kebablasan (bukan angine tapi nalare, meminjam iklan jamu Tolak Angin ala Basuki).

Nah, sekarang di bulan suci Rahmaddan bagi umat Islam, kembali geger datang, dan, gilanya dari negeri yang sama, Denmark. Kali ini adalah sebuah organisasi pemuda, yang dalam perkemahan musim panas mengadakan acara lomba lukis karikatur Nabi Muhammad. Dan, lebih gilanya lagi, si empunya gawean, yaitu sang ketua panitia yang merasa tidak ada yang salah, alias sah-sah saja. Naif betul. Sepertinya protes keras yang merebak di seantero tempat (bahkan di beberapa tempat hingga perusakan), tak membuat mereka belajar memakai kebebasan dengan cara yang santun dan bertanggung jawab.
Rupa-rupanya orang di Denmark merasa dunia hanya Eropa, dan penghuni dunia hanya mereka saja. Kebebasan berpendapat adalah satu nilai yang harus dijunjung tinggi, namun bukan berarti tak bertepi. Kalau semua orang boleh berpendapat dengan bebas tanpa batas yang jelas, betapa mengerikannya dunia ini. Di dalam sebuah keluarga yang satu darah saja ada batasan batasan yang harus diperhatikan, jika ingin keluarga bahagia, apalagi dalam konteks dunia yang beraneka. Kebablasan, memang menjadi musuh besar persatuan manusia dan kasih sayang, yang sangat membutuhkan toleransi tinggi dan keberanian besar, untuk hidup bersama dan saling menghargai dalam keanekaan perbedaan, yang memang tidak mungkin dihindarkan.
Perbedaan, adalah kekayaan yang dianugerahkan Tuhan bagi manusia. Kekayaan yang harus disyukuri yang membuat manusia itu manusia, pemaksaan untuk bisa diterima dengan terpaksa hanyalah produk yang dekat dengan kebebasan binatang, yang memang tak berbatas. Memang susah jadi manusia, sekaligus betapa mudah menjadi binatang. Kebablasan, bisa datang dari berbagai sudut pandang, seperti; kebebasan, mayoritas, kekuasaan politik, dan juga kekuatan ekonomi. Dari sudut kebebasan yang sering kali dibumbui atas nama HAM (yang ini masih perlu diperdebatkan), tampak nyata pada kasus karikatur Nabi Muhammad.
Dari sudut lain seperti mayoritas, juga banyak disuguhkan. Yang ini, bukan di luar negeri tapi di bumi pertiwi, Indonesia tercinta. Di republik ini, orang bisa mendemo, merusak bahkan menganiaya tanpa rasa bersalah, atas nama mayoritas. Tak jelas argumentasinya kecuali jumlah yang banyak, maka sah-sah saja apa yang mereka lakukan. Di sisi lain, polisi juga seakan “tak berdaya” atas nama massa. Maka massa merasa semakin berani dan benar. Lalu, tak kurang juga yang menjadi agen moral, mendemo bahkan merusak dengan cara yang justru tak bermoral, lagi lagi, polisi hanya menyaksikan, dan, korban yang belum tentu cacat moral pun berjatuhan. Kerugian bukan saja meliputi materiil tetapi yang terbesar justru moril, Belum lagi rasa takut yang berkepanjangan. Di situasi seperti ini pun hukum tak jelas ada di mana. Lalu, dengan mudah juga akan segera terlihat betapa kekuasaan dan kekuatan akan muncul bersanding gagah untuk menggusuir kebenaran.
Dalam kasus ini, korban lumpur panas Sidoarjo terasa semakin suram statusnya. Semakin hari semakin tak jelas siapa yang membuat mereka menjadi korban, apalagi menerima ganti rugi yang tuntas. “Pemerintah seakan tak berdaya” atau dibuat tak berdaya, atau mungkin juga pura-pura tak berdaya dalam kasus ini, entahlah. Tapi yang pasti, nama tersangka dimunculkan, anak perusahaan Lapindo dijual, penanggung jawab utama semakin tak jelas. Akankah, keluarga Bakrie bertanggung jawab penuh, seperti yang diucapkan Wapres Yusuf Kalla secara terbuka dalam pertemuan dengan para korban dan diliput media, bisa jadi pegangan para korban lumpur panas Lapindo Brantas.
Sekali lagi entahlah, tapi yang pasti lagi lagi hukum tak jelas ada di mana dan mengambil posisi apa. Kembali kepada kebablasan, saya sependapat dengan Din Syamsuddin, ketua PP Muhammadiah, atau sikap MUI, yang jelas dan tegas memprotes keras kebebasan ala Denmark yang menyakiti perasaan umat Islam. Apa pun alasan pemuda Denmark, mereka tak berhak menyakiti dengan mengganggu keyakinan orang lain atas nama kebebasan. Namun di sisi lain, kiranya ini juga menjadi pembelajaran bagi tiap anak bangsa di Indonesia tercinta, agar sadar, batapa tidak enaknya disakiti. Ketika bangsa lain menyakiti terasa sakit, lebih lagi jika itu bangsa sendiri yang seharusnya memberi proteksi.
Sebagai anak bangsa yang berdarah sama, merah putih, kita harusnya menyadari bahwa hak dan kewajiban yang kita emban adalah sama. Tak seorang pun mempunyai hak lebih atas nama mayoritas, karena bangsa ini cuma satu yaitu bangsa Indonesia. Kecuali jika memang bangsa ini adalah multi-bangsa yang kebetulan satu lokasi yaitu wilayah yang bernama Indonesia. Untuk ini, sudah pasti pemerintah akan melawannya. Disintegrasi adalah kata yang dibenci, sekalipun dalam kenyataannya seringkali diabaikan, yaitu, itu tadi, atas nama massa maka amuk massa hanya ditonton polisi. Atau perilaku pemerintah pusat yang tidak jarang mengabaikan perasaan tidak adil dari berbagai daerah, khususnya yang ditimpa bencana, atau pendistribusian kekuasaan.
Seringkali muncul kesan, anak emas dan bukan. Dalam wilayah penegakan hokum, nama kerennya tebang pilih. Bagaimana maju ke depan melintasi berbagai hambatan yang kita ciptakan dalam kesalahan? Perlu sebuah ketulusan dan keberanian. Dalam suasana Rahmaddan dan Idulfitri yang segera menjelang, rasanya tepat dijadikan momentum. Momentum untuk mengakui kesalahan karena merasa mayoritas, sehingga telah menyakiti hati sesama anak bangsa. Dan yang disakiti, tak perlu berhitung atau merasa minoritas, melainkan, dengan ikhlas mengampuni dan memaklumi kepedihan yang terjadi, sebagai lembaran masa lalu yang harus ditinggalkan. Kemudian bersilahturahmi, dalam kesopanan timur yang tinggi, saling mendahulukan dan bukan meniadakan.
Jika memang banyak lindungilah yang sedikit, jika memang berkuasa lindungilah yang tidak berdaya, dan jika memang kuat tolonglah yang lemah. Bukankah seluruh anak bangsa Indonesia, ada dalam satu atap keagamaan, yaitu falsafah bijak Pancasila yaitu ketuhanan yang mahaesa. Masak iya orang beragama itu barbar, mendzolimi sesama manusia, apalagi sesama anak bangsa. Semoga kita semua semakin dewasa beragama, dan kemudian berbangsa. Menghadirkan diri dalam hak yang penuh tanpa kebabablasan menyakiti diri atau sesama. Dalam semangat Rahmaddan, kita tak hanya menahan lapar tetapi juga kemarahan, dan dalam semangat Idufitri tak hanya sekedar memberi tangan tetapi juga hati. Semoga ini bukan mimpi belaka, kiranya DIA yang Illahi meridhoi kita semua dengan kasih dan rahmatnya. Selamat Idulfitri, dan kita tidak kebablasan lagi.

Lihat juga

Komentar


Group

Top