Sudut Pandang (SUP)

Tuhan Atau Mamon

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Tue, 29 September 2009 - 14:31 | Dilihat : 8326
Tags : Isu Kontemporer Spiritual Kristen

Terkait


Pdt.Bigman Sirait

Follow Twitter: bigmansirait

Reformata.com - TAK seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon (Matius 6: 24).

Ucapan Yesus ini sangat tegas dan jelas. DIA menuntut setiap orang menentukan sikap dalam memilih pengabdiannya. Hanya saja, terasa tak lazim ketika pilihan yang diperhadapakan adalah Allah atau mamon. Biasanya pilihan umat yang berakhir pada kesalahan adalah penyembahan berhala, bukan penyembahan mamon. Dalam Perjanjian Lama (PL), berulang kali bangsa Israel terjebak pada penyembahan berhala. Jejak kegagalan kerohanian itu tampak jelas dalam berbagai peristiwa, seperti penyembahan pada Baal Berit yang berarti tuhan perjanjian (Hakim-Hakim 8: 33), atau Baal Zebub yaitu tuan dari lalat, dewa dari Ekron (2 Raja-raja 1:2).

Sementara dalam Perjanjian Baru (PB), orang Farisi menuduh Yesus telah bertindak mengusir setan dengan kekuatan dari Beelzebul, yang berarti raja atau penghulu setan-setan (Matius 12: 24). Baal sendiri dalam bahasa Ibrani berarti tuan atau pemilik. Penyembahan pada Baal berarti pemberontakan kepada TUHAN. Jadi, Israel sering kali gagal untuk taat kepada TUHAN karena jatuh pada penyembahan Baal. Baal mereka jadikan tuan atas kematian rohani mereka, pilihan atas kebebalan. Karena itu, berdasarkan tradisi kejatuhan Israel, adalah tepat jika Yesus menegaskan pada umat untuk memilih TUHAN atau Baal, bukan mamon.

Mengapa kini Yesus mengatakan pilihan antara Allah atau mamon? Menarik bukan? Dalam surat Paulus kepada Timotius, Paulus memperingatkan bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan. Uang telah mengakibatkan orang menyimpang dari kesejatian iman (1 Timotius 6: 10). Mereka terjebak jerat uang dan menjadi budak uang. Lalu, dalam surat yang kedua kepada Timotius, Paulus juga mengingatkan bahwa di jaman akhir ini manusia menjadi hamba uang (2 Timotius 3: 2). Uang bukanlah dosa, tetapi cinta uang, apalagi menjadi hambanya uang, itulah yang dosa.

Mamon, berasal dari kata Aram “mamona”, yang secara umum berarti kekayaan atau keuntungan, dan dalam pemakaiannya mengacu kepada harta atau uang. Memiliki mamon yang banyak bukan masalah jika cara memilikinya benar. Pilih Allah atau mamon (baca: uang)? Pilihan ini tidak berarti mamon itu salah, karena mamon yang kita miliki adalah berkat Allah juga. Tetapi memilih mencintai mamon, apalagi menghambakan diri pada mamon, bukan Allah, itulah yang salah. Seperti Yesus juga memperingatkan: “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”. Jadi, kepada siapa engkau jatuh cinta dan menaklukkan diri, itu adalah pilihan hidup mati.

Pertanyaan pilihan ini menunjukkan betapa dahsyatnya akibat yang ditimbulkan mamon. Mengapa mamon, bukan Baal? Karena, dalam konteks jaman PB, Baal dianggap simbol kesesatan dan bernilai rendah di mata umat Israel, khususnya di lingkungan orang Farisi. Orang Farisi yang selalu merasa suci, ogah dengan Baal, mencibir Baal. Namun, di sisi lain meraka sangat mencintai uang. Para imam Israel banyak mengumpulkan uang atas nama ibadah dan persembahan untuk rumah Tuhan. Mereka juga memakai uang untuk mempengaruhi khalayak ramai agar sepakat menyalibkan Yesus. Mereka sangat suka “mandi uang”, menjadi kekasih uang, sekalipun mereka membenci Baal. Di sisi lain, Baal ternyata semakin hari semakin terpinggirkan. Baal terlau mencolok untuk sebuah kesesatan, sementara mamon sangat halus dan mudah disembunyikan. Seperti Yudas yang selalu tampak mencintai orang miskin dan rindu membagikan uang, ternyata sangat mencintai uang dengan memakai topeng kemiskinan. Atau para imam PB yang selalu mengkhotbahkan kebenaran dan mengajak umat memberi persembahan, namun “menjarahnya” untuk kepentingan pribadi dan keluarganya.

Di jaman modern, berhala semodel Baal tidak lagi punya tempat. Dia terasa sangat kuno, kurang terhormat. Sementara Tuan Uang, semakin hebat pengaruhnya, bahkan bisa membuat pengikutnya menjadi orang terhormat dengan cara membeli kehormatan. Wow, hebat sekali si Tuan Mamon. Sudah terlalu banyak orang yang diantar ke singgasana kekuasaan oleh Tuan Mamon. Mereka duduk dengan pongah atas jaminan kekuatan uang, dan, setiap orang yang berbeda dengan mereka akan menghadapi kehancuran karena jangkauan Tuan Uang sungguh tak berbatas. Apa pun bisa mereka beli, termasuk imitasi “cinta, kebenaran, keadilan”, dan segala yang mereka inginkan.

Ada banyak orang rela berbuat apa saja, memenuhi tuntutan tuan mamon, demi ijin untuk menjadi pengikutnya. Orang tak segan mempersembahkan korban, termasuk anggota keluarganya, untuk menjadi tumbal kekayaan. Bahkan menjual diri, orang pun rela. Bahkan juga, jauh lebih mudah menemukan orang yang rela menjual Allah demi mamon, dibanding orang yang melepas mamon demi Allah.

Semakin hari dunia semakin menggila, seturut dengan degradasi moral yang semakin menjadi. Jadi, tidaklah heran jika Yesus membuat pilihan antara Allah dan mamon. Kenyataan ini menggugat kita sebagai orang percaya untuk membuat pilihan tepat, agar tidak tersesat di buaian maut Tuan Uang. Di sisi lain, semakin panjang pula barisan gereja yang cinta uang. Orang ber-uang selalu diperebutkan, sementara yang miskin ekonomi terus terabaikan. Belum lagi, menilai gereja berhasil atau tidak, bukan lagi diukur dari azas kualitas melainkan kuantitas. Bukan pertumbuhan iman, melainkan pertumbuhan aset. Umat berubah menjadi deretan angka yang berkaitan erat dengan kolekte.

Uang tentu saja dibutuhkan untuk biaya operasional pelayanan gereja, namun yang menjadi kesalahan adalah karena uang menjadi tuan di dalam gereja. Uang menggantikan posisi Allah, ini yang salah. Nama Allah hanya dipakai untuk mengoleksi uang. Nah, virus Tuan Uang memang telah merangsek masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan umat, khususnya di tengah konteks jaman yang sangat mempertuan uang. Tuan Uang telah membuat jual-beli tidak lagi sekadar meliputi barang, melainkan orang. Bukan untuk menjadi budak pada yang lainnya, melainkan saling memenuhi hasrat. Yang satu hasrat kepuasan rasa, sementara yang lain hasrat kepuasan uang. Tapi yang pasti, keduanya telah menjadi budak uang. Yang satu rusak karena mencari uang, sementara yang lainnya rusak karena menghamburkan uang. Tapi, sekali lagi, yang pasti keduanya rusak karena menjadi budak Tuan Uang.

Sekarang pilihan ada pada kita: pilih Allah atau mamon. Kita harus membuat keputusan bijak, atau kita akan terinjak. Ingat uang bukan dosa, tetapi juga bukan tuan. Uang memang bisa membeli segalanya, tetapi uang bukan segala-galanya. Semoga Anda dan saya mengabdi kepada yang sejati, yaitu Allah pencipta dan pemilik manusia dan alam semesta.

Lihat juga

Komentar


Group

Top