Sudut Pandang (SUP)

Membeli Cinta

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Tue, 29 September 2009 - 14:46 | Dilihat : 3583
Tags : Cinta

Pdt.Bigman Sirait

AIR yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina (Kidung Agung 8: 7).

Agungnya cinta dalam Kidung Agung, sangat terasa dan tampak nyata. Cinta tepat berada di posisinya, terhormat dan tak terbeli. Sudah selayaknya cinta mendapat tempat terhormat, karena cinta adalah ekspresi diri, harga diri, yang sudah pasti tak ternilai. Tanpa cinta manusia bukan lagi manusia. Kehilangan cinta, manusia kehilangan jati dirinya, kehilangan rasa kemanusiaannya, dan juga kehilangan potensi relasinya dengan sesama. Mencintai dan dicintai menjadikan hidup manusia utuh, mampu mengaktualisasi diri dan menikmati nilai hidup yang tinggi. Tuhan telah menaruh benih cinta dalam hati setiap anak manusia, baik cinta terhadap sesama, maupun cinta dalam relasi khusus pria dan wanita.

Ketika seseorang berjuang, terperangkap di medan tempur, di antara desingan peluru, tak ada yang berada di sana tanpa cinta. Entah cinta pada bangsa dan negara, cinta pada keluarga, atau bahkan cinta pada diri untuk menjadi berarti. Dalam keliaran yang tak terkendali, cinta itu, juga bisa jadi cinta pada perang itu sendiri. Cinta yang kehilangan orientasi bisa jadi liar. Tapi yang pasti, cinta dalam jalur yang benar atau salah, selalu membuahkan hasil yang mencengangkan. Di kehangatan cinta anak remaja, ungkapan cinta buta membahana. Bukan saja keberanian membohongi orang tua demi “cinta buta”, atau bolos dari sekolah, bahkan tak sedikit yang berakhir pada racun yang mematikan demi mempertahankan apa yang diyakininya sebagai cinta. Cinta memang membutakan, menghanguskan sekaligus menggairahkan. Tapi yang pasti, dari berbagai sudut mata memandang tampak nyata keberanian berkorban demi cinta, bukan sebaliknya transaksi menjual cinta.

Cinta tak bisa diperjualbelikan, kecuali orang yang menjualnya sudah tak lagi memilikinya. Lukisan Kidung Agung tentang bara cinta sangat hebat: air banyak tak akan pernah mampu memadamkannya. Api yang membara boleh mati, tapi api cinta tak akan pernah berhenti. Tak ada pemadam cinta, yang ada pengkhianat cinta. Kerasnya arus sungai pun tak mampu menghanyutkan cinta. Bahkan sebaliknya, cintalah yang menghanyutkannya. Dan, uang yang punya daya tarik tinggi, uang yang menggoda hati, tak bisa membeli cinta sejati, kecuali cinta imitasi yang memang tak bernilai. Cinta imitasi, mungkin ungkapan yang tak pas, karena memang cinta seharusnya tak ada yang imitasi. Cinta hanya ada atau tidak ada. Namun biarlah ungkapan ini terpakai dalam tulisan ini untuk membedah nilai cinta.

Dalam realita kekuasaan uang, hawa materialistis semakin terasa. Para materialis berbaris, menjual atau membeli apa saja, termasuk cinta imitasi. Penjaja cinta imitasi yang menjual diri semakin hari semakin menjamur. Aneka alasan dikumandangkan untuk pembenaran pilihan diri. Mereka seakan korban, yang terpaksa “mengorbankan diri” dalam transaksi. Padahal di sisi lain mereka piawai menentukan harga, bahkan menggaet pembeli cinta imitasi. Memang ada yang jadi korban pemaksaan, namun mereka tak pernah mampu menikmati uang. Bahkan uang yang diterima pun adalah pemaksaan. Hidup mereka sangat mengenaskan, karena cinta sejati dirampas dari hidupnya. Mereka tak pernah rela. Mereka hanya merindukan kebebasan untuk kembali pada cinta sejati, cinta yang tidak mungkin terganti. Jeritan hati mereka sangat menyayat. Beda dengan penjaja cinta imitasi, yang mampu menikmati keuntungan transaksi yang diterima.

Penjaja cinta imitasi juga kreatif mencipta kreasi untuk meningkatkan harga beli bagi pemburu cinta imitasi. Transaksi yang lebih halus bahkan berujung di pelaminan. Wow, pelaminan? Bukankah itu tempat sakral di mana janji sehidup-semati dikrarkan? Seharusnya begitu. Tapi rupanya para pemburu cinta imitasi bisa saling memangsa. Yang satu butuh tumpukan uang yang tak berbatas. Yang lainnya, juga butuh penampilan muda energik dengan daya tarik seksual yang wah.

Nah, transaksi tak terhindar, pernikahan pun ternoda. Pernikahan bisa jadi penuh balutan imitasi yang hanya asli dalam selembar surat yang bernama akta pernikahan. Bagaimana mungkin cinta direkatkan dengan lem uang? Cinta adalah rasa, hati, batin dua anak manusia, bukan materi, bahkan dalam tumpukan setinggi apa pun. Tapi materi memang luar biasa, dan yang materialistis pun semakin menggila. Pindah agama, ganti kewarganegaraan, putus ikatan keluarga, bahkan cacian sekalipun, tetap saja dilakoni demi materi. Cinta imitasi memang sarat transaksi. Semua ungkapan murni cinta, saling mencintai, tak memperhatikan ini-itu, tak lebih dari bumbu-bumbu yang juga imitasi. Pembelaan diri yang tak berlangsung lama.

Memang cinta bisa jadi tidak memandang ini dan itu, namun tetap dalam kewajaran yang terukur, dan pembuktian yang tak lekang oleh waktu. Hari-hari kini memang didominasi warna-warni cinta imitasi. Alasan pernikahan karena cinta sejati semakin menipis. Kenyataan tuntutan gaya hidup yang semakin materialistis, semakin mempersubur transaksi cinta imitasi, mulai dari yang halus hingga yang vulgar. Cinta sejati, mendapat lawan berat, seperti masa depan, karier, dinasti, bahkan gengsi. Tak heran jika pernikahan tak hanya melahirkan akta nikah, tetapi juga pemisahan harta tanpa alasan yang jelas, kecuali ya harus terpisah. Ini bahkan sudah menjadi gaya. Belum lagi “kerelaan berbagi cinta” yang menyuburkan poligami. Apakah cinta sejati bisa terbagi? Apakah cinta jika terbagi? Bukankah cinta itu mempersatukan yang dua menjadi satu, menjadi satu pikiran, satu perasaan, sepenanggungan, sehingga saling menguatkan.

Bagaimana mungkin cinta terbagi, kecuali cinta adalah materi. Materi memang bisa dibagi jujur, dibagi rata, dibagi adil, dibagi sesuai hukum, atau apa pun namanya. Tapi cinta sejati bukan materi, cinta adalah rasa, hati, batin yang tak terbagi. Haruskah cinta dijaja? Haruskah cinta dibeli? Haruskan cinta dibagi? Haruskah cinta yang mempersatukan pria dan wanita ternoda? Pertanyaan yang menggugat semua anak manusia. Cinta terhadap sesama, memang harus dibagi pada semua anak manusia. Tapi cinta yang mengikat pria dan wanita tak sama. Semoga manusia masih mengingatnya, mengapa Tuhan menciptakan cinta (Kejadian 2: 23-25). Jangan lagi pernah menjual atau membeli cinta, jika engkau tak ingin dihina.

kerohanian.
Dalam konteks kekinian, ternyata tak kurang panjang barisan pengikut Yudas, sama panjang dengan barisan penjual Yesus. Kini, tak sedikit orang yang sangat bernafsu menabikan atau merasulkan diri, atas nama ketetapan Tuhan. Tak pula kurang orang berjual-beli kebenaran, yang menjual Yesus dengan memutarbalikkan kebenaran. Kebenaran dibuat berpusat pada diri dan menguntungkan diri. Khotbah disampaikan untuk menyenangkan telinga umat, khususnya kamu berduit, untuk memancing duit mereka. “Hamba Tuhan” bajunya, hatinya hamba uang. Istilah “salesman Injil” semakin hari semakin terkenal, seturut terkuaknya gaya hidup banyak “pendeta besar” yang tak kalah dengan selebritis kelas atas.
Banyak orang telah mengambil keuntungan besar dengan mengobral Yesus. Celakanya, semua berjalan tepat waktu, karena market juga dipenuhi manusia bermental hati ahli Taurat. Yang mau tampak benar di arena keseharian, tampak rohani, bersih dan berbudi, sekalipun mereka benci terhadap kejujuran dan kesucian. Karena itu “obral kebenaran” mereka serbu. Mereka suka mengonsumsi produk obral ini, mereka tampak rohani tanpa harus sungguh-sungguh rohani. Cukup dengan kata-kata amin, sedikit kegiatan, dan besarnya sumbangan semua menjadi benar dan “dipakai Tuhan” sesuai label yang diberikan para “hamba Tuhan”. Semakin tinggi bayaran, semakin rohani si pemberi dalam khotbah “hamba Tuhan”. Transaksi jual-beli terus meninggi, limpahan materi mengalir deras ke pundi-pundi “hamba Tuhan”. Gaya hidup supermewah mewarnai sepak terjang mereka atas nama berkat Ilahi, padahal hasil menjual kebenaran.
Yesus dijual dengan mengobral berkat besar, dan menutupi penyangkalan diri apalagi memikul salib sesuai perintah Yesus sendiri. Ya, Yesus dijual dengan mengorupsi, memanipulasi kebenaran, bahkan membangun kebenaran baru atas nama wahyu baru. Maka klaim diri semakin meninggi, dan ini akan diikuti dengan “harga jual” yang juga semakin tinggi. Lagi-lagi Yesus terjual murah. Dan, lagi-lagi yang salah tampaknya benar secara suara, mereka tampaknya mayoritas, sama persis seperti Yesus tersalib. Yesus tampak minoritas, para ahli Taurat-lah yang mayoritas. Dan ini didukung pada kebiasaan kita tentang suara terbayak sebagai yang benar dan menentukan. Menyakitkan, tapi itulah kenyataan. Dosa akan pesta pora, sukses menggaet banyak pengikut, hingga kedatangan Yesus yang kedua kali.
Akankah pencinta kebenaran sejati akan bertahan di tengah polusi jual-beli Yesus? Sebuah pertanyaan yang harus dijawab dengan hidup menjalani kebenaran tanpa kompromi. Berani miskin tanpa harus memiskinkan diri, sebaliknya juga berani kaya tanpa harus memperkaya diri, melainkan berkarya penuh dengan pasrah penuh pada berkat Ilahi. Biarlah aku menerima bagianku yang Tuhanku, bukan apa yang aku mau (Amsal 30: 7-9). Apakah “jual beli Yesus” akan berhenti? Sekali lagi tidak, dan tidak akan! Transaksi akan terus berlangsung, yang penting Anda tak terlibat di sana. Atau, jika sudah terjebak ada di dalam, segera keluar memisahkan diri, jika tak ingin hangus diri. Dijual : Yesus! Tapi, semoga Anda dan saya bukan penjual ataupun pembelinya.

Lihat juga

Komentar


Group

Top