Sudut Pandang (SUP)

Ketika Nubuatan Diuangkan

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Tue, 29 September 2009 - 14:52 | Dilihat : 3906
Tags : Isu Kontemporer Nubuat

Terkait


Pdt.Bigman Sirait

BILEAM bin Beor adalah nama klasik dalam Alkitab, yang tercatat sebagai penjual nu-buat (2 Petrus 2:15-16). Dalam kisah Bileam di kitab Bilangan 22, digambarkan Bileam selalu berusaha untuk mencari peluang untuk mendapat keuntungan dari Balak, namun dia selalu dihalangi Tuhan untuk mengutuki Israel.

Balak berusaha keras untuk membeli Bileam dengan harga yang sangat tinggi untuk mengu-tuki Israel. Sementara Bileam berusaha keras untuk mendapat-kan kesempatan beroleh keuntu-ngan ekstra sesuai job nya sebagai penenung. Namun Tuhan tak pernah membiarkannya, sehingga Bileam tak mampu mengutuki Israel, bahkan sebaliknya menyata-kan berkat Tuhan atas Israel. Nama Bileam di dalam Perjanjian Baru (PB), dijadikan simbol kesesatan dan keserakahan.

“Meng-uang-kan nubuatan” ternyata telah menjadi trend sejak dulu kala. Banyak orang mengaku menjadi orang bijak dan suci, ternyata tak lebih dari hamba uang yang bekerja dengan pertolongan setan. Setan menolong mereka dengan kemampuan melihat, me-ngetahui, dan mengatakan de-ngan daya tarik, bahkan kuasa. Na-mun sesuatu yang namanya dari setan, tentu saja serba imitasi alias palsu, sekalipun nama TUHAN disebut disana. Hanya, repotnya, banyak umat yang tergoda dan tak mampu membedakan mana yang dari Tuhan atau setan.

Paulus berkata, iblis itu bisa tampil seperti malaikat terang (2 Korintus 11:14), menyebut diri utusan Tuhan dan suci. Bahkan dalam san-diwaranya, mereka men-setan-kan setan, yang menjadi tuannya. Me-reka mengutuknya, seakan mereka anti-setan padahal pengikutnya. Sebuah sandiwara tingkat tinggi ala setan. Memanipulasi ayat-ayat suci, seakan mereka pelaku, bahkan ekstra membuktikan diri dengan hal-hal yang fisik. Padahal Alkitab jelas berkata pohon dikenal dari buah-nya, perbuatannya. Lihatlah buah kehidupan mereka, maka pasti akan mengejutkan. Mereka mengajar memberi kepada Tuhan tanpa hi-tung-hitungan, tapi mereka sendiri menumpuk uang untuk diri. Aneh tapi nyata, tapi itulah realitanya.

Di era raja Ahab (1 Raja-raja 22), tersebutlah nama Nabi Zedekia. Dia kepala 400 nabi (ay.6). Zedekia ber-nubuat bersama para nabi yang berjumlah 400 itu (ay.12). Nubua-tan yang bermaksud meneguhkan persekutuan Yosafat raja Yehuda, dengan Ahab raja Israel, untuk melawan raja Aram. Melihat jum-lahnya, nubuatan para nabi itu sa-ngat meyakinkan saling menguat-kan. Konfirmasi, istilah kerennya. Mana mungkin 400 nabi salah.

Di situasi itu rupanya Yosafat masih merasa kurang nyaman, sehingga diundanglah Nabi Mikha yang terkenal lurus. Ketika utusan menemui Mikha, pesan sponsor pun disampaikan (ay.9, 13-14). Namun Mikha bernubuat sesuai kehendak TUHAN, yang ternyata berbeda dengan Zedekia, bahkan membuat Zedekia marah dan menampar Mikha (ay.24). Zedekia beragurmentasi bahwa Roh TUHAN ada pada dirinya. Dengan segera kita akan melihat dua kubu.

Zedekia adalah nabi istana yang dihidupi istana, yang mendapat kekayaan dan tumpukan materi, yang membuat dia bernubuat se-suai orderan raja. Zedekia sebagai pemimpin para nabi memang ahli meng-uang-kan nubuatan. Baginya itu adalah berkat Tuhan yang melimpah.
Sementara Mikha adalah seorang abdi sejati yang hanya bernubuat sesuai kehendak TUHAN. Hidup dalam kesederhanaan, bahkan be-rakhir di penjara karena berani ber-beda dengan raja. Orang berprinsip kebenaran seperti Mikha, semakin hari memang semakin langka.

Melompat ke PB, kita dengan segera bertemu Simon si tukang sihir, yang bermaksud membeli kuasa Roh Kudus dari Petrus (Kisah 8:9,18-20). Tentu saja Petrus me-negurnya dengan keras. Simon berpikir kuasa Roh Kudus bisa diperjualbelikan dan akan menda-tangkan keuntungan. Paulus di Ko-rintus dengan tegas berkata tidak mencari keuntungan dari pembe-ritaan Firman, tidak seperti yang lainnya meraup uang (2 Kor 2: 17).

Rupanya, meng-uang-kan nubuat juga ramai di era Paulus. Untuk itu Paulus mengingatkan Timotius agar dalam memilih penilik jemaat jangan yang doyan uang (1 Tim 3: 3). Dari PL hingga PB, dan kini di era kita tak juga berhenti. Uang memang memberi kenik-matan tersendiri, dan gereja menjadi tempat pencari uang yang terbilang empuk. Kata manis terucap, bahkan perilaku suci yang palsu, hingga sumpah dan terkutuk terucap. Semuanya untuk meyakinkan umat bahwa dia benar, layak dipercaya.

Karena itu perlu kehati-hatian dan kejelian umat. Kenalilah para penjaja nubuat agar Anda tak terkecoh, mereka hanya menum-puk uang untuk diri. Jadi memalsu nubuat itu sudah biasa sejak dulu. Meng-uang-kan nubuat itu ke-biasaan mereka yang menyebut diri nabi. Akhirnya umat dituntut akrab dengan Alkitab sehinga me-ngerti isi dan tak mudah dikibuli. Selamat bijak atau akan terinjak.

Lihat juga

Komentar


Group

Top