Sudut Pandang (SUP)

Songsong Tahun Baru Bersama Dengan Tuhan

Penulis : Pdt Bigman Sirait |
Tags : Artikel Tahun Baru

Terkait


MENYONGSONG pergantian tahun, kita perlu selalu diingatkan akan perubahan zaman yang sangat dahsyat dan cepat karena era informasi yang berkembang sangat luar biasa. Dalam situasi seperti ini,  sebetulnya banyak se-kali anak Tuhan, gereja, dipenga-ruhi oleh pemikiran yang sebenar-nya bukan pemikiran Kristen. Kita mengadopsi pemikiran-pemikiran yang datang dari dunia, kita mengadopsi berbagai statement yang sebetulnya statement dunia, dan hanya mencoba mencocok-cocokkannya dengan ayat-ayat Alkitab. Dan sedihnya, kita tidak menyadari hal itu, bahkan sebalik-nya bangga dan menganggapnya sebagai pemikiran Kristen.

Memasuki tahun 2006, kita dituntut memiliki kesadaran sekali-gus pertobatan supaya tidak terje-bak dan berlama-lama di tempat yang salah seperti ini. Bagaimana kita membangun konsep yang utuh memahami hal-hal yang per-lu, itu menjadi penting. Ini tentu suatu pergumulan yang tidak se-derhana. Karena itulah kita perlu belajar menemukan satu keseja-tian prinsip hidup kristiani yang tepat. Bacalah Alkitab, dengarkan khotbah, observasi semuanya, perhatikan baik-baik dan kembali-lah kepada Alkitab sebagai tempat yang final.

Pengkhotbah 1: 9-11 mengata-kan, Apa yang pernah ada, akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat kagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari Pengkhotbah meli-hat, ketika manusia hidup jauh dari Tuhan, hidup hanya dalam perpu-taran lingkaran kesementaraan. Karena itulah, hanya bersama dengan Tuhan hidup penuh dengan pengharapan, dan kita melakukan karya seperti yang dimaui oleh Tuhan.

Kalau kita membicarakan sesuatu yang disebut baru semisal karya baru, penemuan baru, tahun baru, dan sebagainya, hal itu sebetulnya tidak lebih dari simbol manusia di dalam kesementaraannya. Manusia yang dikurung oleh waktu sehingga merasa perubahan tahun 2005 ke 2006 disebut baru. Istilah baru hanya untuk menunjukkan bahwa kita punya sesuatu yang plus . Nah, karena itu, di dalam perpu-taran waktu sebenarnya tidak ada yang sejati. Segala sesuatu ber-jalan dan terus bergulir, tidak ada sesuatu yang baru. Jika Alkitab mengatakan tidak ada yang baru, itu sangat betul. Karena toh hidup kita hanya pengulangan.

 Maka yang disebut baru itu sa-ngat relatif. Dalam perputaran wak-tu, apa yang sekarang ada, dulu sudah ada, termasuk bumi dan isinya. Perputaran matahari, perpu-taran bumi, bulan bintang dan sebagainya, dari dulu sudah ada. Yang namanya pagi, siang, petang, malam, juga sudah ada dari dulu. Jadi, perputaran di dalam hidup tidak ada yang baru, karena semua dikurung di dalam suatu perjalanan waktu. Tetapi sekali lagi, karena kita hidup di dalam kesementaraan, dikurung dalam penanggalan, maka kita menyebut pergantian waktu itu baru, karena keterbatasan kita.

Dengan demikian, dalam kurung-an-kurungan seperti itu, hal-hal yang kita sebut baru itu hanyalah suatu pemikiran yang sangat duniawi. Semangat dunialah yang kita tangkap. Padahal semangat kekristenan itu mesti melihat dengan hal yang berbeda. Jika kita berkutat hanya pada pengalaman baru, mobil baru, rumah baru, itu akan aneh dan lucu, karena seakan-akan itulah hidup bagi kita. Itu hanya asesoris, bukan hidup. Jika kita beranggapan demikian, kita sudah terjebak pada perangkap yang salah.

Kalau yang kita bicarakan hanya asesoris, mestinya kita malu. Padahal Tuhan selalu berbicara pada kita tentang hidup, bukan asesoris. Tetapi begitulah sema-ngat kebanyakan orang Kristen saat ini, yang dipikirkan cuma asesoris hidupnya, bukan hidupnya itu sendiri. Sebagai orang Kristen, kita sudah terjebak pada pemikiran dunia ini, tapi kita selalu berani menyebut diri sebagai orang Kristen yang beriman, tapi pola pikir kita tidak karu-karuan. Kita berani mengatakan beda dengan produk dunia, padahal sama saja. Kalaupun ada bedanya, kita ke gereja, mereka ke night club, tapi toh akhirnya yang keluar produk yang sama saja. Maka berhati-hatilah. Kalau mau jadi Kristen, jadilah Kristen yang utuh, sehing-ga tampak berbeda dengan orang dunia, yang membuat orang lain kagum. Dan memang itulah tugas kita untuk membawa orang lain datang kepada Tuhan. 

Dalam hal waktu, ada istilah kronos dan khairos . Kronos hanya perputaran waktu semata (kronologis). Sedangkan khairos, adalah waktu di mana Tuhan turut serta. Jadi, hari-hari kita hanya kronos jika tidak ada penyertaan Tuhan. Padahal yang paling penting dari hidup kita adalah khairos, yakni pengabdian pada Tuhan, pertemuan dengan Tu-han. Pertemuan dengan Tuhan harus selalu baru dalam pengertian setiap hari kita mengalaminya. Karena apa? Karena pertemuan dengan Tuhan akan bisa memper-baharui hidup kita.

Roma 12: 2 Janganlah kau serupa dengan dunia ini tapi berubahlah oleh pembaharuan budimu . Siapa yang mengerjakan pembaharuan dalam diri kita? Roh Allah. Roh Kudus-lah yang bisa memberi pembaharuan yang sejati. Tetapi justru itu tidak kita kejar. Kita hanya sekadar berkata bahwa Roh Kudus memper-baharui, tapi dalam nuansa dan suasana kronos. Ibadah berulang-ulang kita kerjakan, namun dalam suasana kronos. Itulah kesalahan kita selaku orang Kristen, yang berhitung secara kuantitatif dalam ibadah. Kita tidak memerhatikan secara kualitatif, yakni bagaimana sikap iman, dan motivasi di dalam batin. Akhirnya kita munafik.

Karena itu, kembalilah pada Alkitab dan firman Tuhan. Perhati-kan dirimu, bergaullah dengan Tuhan secara jujur, supaya yang terjadi dalam hidupmu benar-benar khairos. Bukan soal tahun 2006 tahun baru, tetapi barulah karena pemahaman kita akan Tuhan terus bertumbuh. Penga-laman kita bersama dengan Tuhan terus berkembang, membawa kita pada pemahaman yang lebih baik lagi. Maka dengan demikian, kita semakin bijak dalam menilai jaman, dan menilai diri kita, karena ada sesuatu yang baru dan selalu baru di dalam hidup kita.

Dan satu hal yang pasti, pem-baharuan hanya terjadi di dalam hidup bersama Tuhan. Orang yang dekat dengan Tuhan dan dikuasai Tuhan, semakin bercaha-yalah hidupnya, makin indah pulalah masa depannya. Di dalam takut akan Tuhan kita menemu-kan kesejatian hidup. Bukankah itu sesuatu yang baru? Karena  itu, baru bukan tahunnya, tetapi baru itu sangat bergantung ke-pada mutu iman: khairos. Adakah Tuhan hadir dalam hidup kita? Jika tidak, menangislah, karena kita tidak mendapatkan yang baru. Masuki tahun 2006 dengan khairos, bersama Tuhan.*

Komentar


Group

Top