Khotbah Populer

Selamat Tahun Baru Yang Lama

Tags : Artikel Tahun Baru Tahun Baru

Terkait


Oleh: Pdt. Bigman Sirait

TAHUN baru (1 Januari), sebagai perayaan terus melesat maju memimpin Natal (25 Desember). Apa mak-sudnya? Apakah ini sebuah per-saingan sehingga ada yang maju dan ada pula yang tertinggal? Yang pasti, Alkitab tidak pernah menganjurkan, apalagi memerin-tahkan umat kristiani berbondong-bondong bertahun baru. Natal (25 Desember), memang memiliki makna teologis dan historis bagi iman Kristen. Momen ini penting sebagai perhentian bagi umat, untuk merenung kesediaan Juru Selamat, melawat umat yang bejat karena dosa.

Berabad-abad, peringatan itu bergerak dinamis dalam pasang su-rut kesadaran umat. Hanya saja, kecenderungan akhir-akhir ini tam-pak agak menjebak, yakni lumuran kemewahan atas Natal dengan alasan perayaan besar. Padahal, sejatinya kebesaran Natal tidak pernah digambarkan Alkitab dalam perayaan, melainkan dalam kerela-an Sang Juru Selamat, untuk ber-temu umat (sekalipun berlang-sung dalam nuansa penolakan, dan tidak ada tempat yang tersedia bagi DIA).

Nah, dalam kebesaran perayaan Natal inilah tahun baru mendom-pleng. Dari semula hanya sekadar menempel, kini tahun baru telah menjadi bagian yang sejajar de-ngan Natal. Namanya selalu tertera bersama Natal (Selamat Hari Natal dan Tahun Baru Merry Christ-mas and Happy New Year). Lalu, dalam perjalanan menuju era modern hingga ke pang-kuan postmo, kini, perayaan ini didominasi oleh tahun baru. Ajang populernya disebut Old & New. Ditunggu orang di sean-tero dunia, dirayakan semua komunitas, mulai dari yang bermoral hingga amoral.

Yah, tahun baru memang telah menjadi peristiwa besar, dan akan terus semakin besar, seturut dengan gairah manusia akan perayaan-perayaan yang besar. Malam Natal (24 Desem-ber) tidak lagi semegah malam tahun baru (31 Desember). Dan, ironisnya, dalam kesyah-duan pun, Natal kehilangan gregetnya. Natal hanya syahdu dalam lagu Malam Kudus , sele-bihnya tidak. Untuk ukuran mewah , Natal kalah dari tahun baru. Ringkasnya, Natal telah krisis identitas akibat ulah umat yang kurang hikmat. Padahal sejatinya, semangat Natal harus tetap pada nuansa Natal pertama: syahdu, sarat renungan, tapi penuh suka-cita karena DIA telah datang di dalam hidup orang yang percaya.

Sementara itu, tahun baru se-makin megah dan pongah, sepo-ngah semangat manusia yang selalu merasa paling hebat. Mereka yang tidak berpunya tersingkir ke pinggir, tidak ada yang mau berbagi dengan mereka. Dan yang paling menyedihkan adalah, semakin mewahnya perayaan tahun baru, Natal seakan tidak mau kalah, ia terpancing ikut bertanding. Dan ini membuat Natal semakin jauh dari jati dirinya, kekhusukan malam yang kudus itu tiada lagi. Keber-sahajaan Maria dan Yusuf saat menjaga Bayi Kudus, makin sulit diimajinasikan, apalagi pribadi Sang Bayi Kudus. Kesukacitaan para gembala tak lagi kita punya, karena itu hanya tinggal kisah saja. Natal telah berubah menjadi hingar bingar tanpa arah.

Keprihatinan semakin besar dengan fakta yang tidak terban-tah ketika tahun baru yang dise-but baru itu ternyata tidak mem-bawa hal-hal yang baru. Manusia tidak mengalami pembaharuan seperti yang dikatakan Rasul Paulus (Roma 12: 2). Manusia tidak semakin baik, kualitas hidup juga tidak semakin baik, bahkan gereja pun tidak lebih baik. Yang ada justru sebaliknya. Manusia semakin bejat, sementara gereja semakin tersesat. Dunia semakin gelap karena terang umat se-makin meredup dan tak berdaya.

Tahun baru, apanya yang ba-ru? gugat Pengkhotbah 1:10. Pengkhotbah betul, fakta di kesementaraan hidup berkisah tentang kegagalan manusia menjaga diri sebagai citra Allah. Tahun baru malah membuktikan manusia hanya semakin bertam-bah dalam dosa-dosa yang baru (kuantitasnya bukan kualitas do-sa). Di sinilah gereja dituntut memainkan perannya memenga-ruhi dunia, bukan sebaliknya dipe-ngaruhi dunia. Tarik-menarik ge-reja dan dunia tidak akan pernah berhenti hingga kesudahan bumi. Yang menjadi pertanyaan, siapakah pemenangnya? Sayang-nya, kedudukan sementara berkisah, bahwa dunia menjadi pemimpin dalam pengumpulan angka. Tahun baru menjadi salah satu parameter (sekalipun bukan satu-satunya).

Gereja harus bangun dari mimpi panjang, melepaskan diri dari pelukan dunia, melupakan kenik-matan sesaat, dan kembali ke ha-bitatnya, yaitu berani menyangkal diri dan memikul salib dalam me-ngikut Yesus. Jangan lagi mema-nipulasi ayat-ayat suci demi kenikmatan diri. Tampil hidup mewah dengan dalih diberkati. Gereja dipanggil untuk berbagi atas berkat besar yang diterima dari kemurahan Sang Pencipta, bukan untuk menumpuknya.

Semoga di Tahun baru ini gereja mengalami pembaharuan budi agar bisa menciptakan peru-bahan kehidupan. Namun, semo-ga gereja tidak terjebak pada pe-rubahan tanpa pembaharuan. Perubahan yang hanya sebatas asesoris (ritualitas) bukan pemba-haruan oleh Roh (spiritualitas). Semoga masih ada tersisa keju-juran untuk mengevalusi diri sen-diri tanpa terjebak menghakimi. Akhirnya, selamat tahun baru, bukan karena tahunnya, melain-kan karena pembaharuan yang terjadi dalam hidup kita semua.*

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top