Pernikahan yang Sepadan

Pdt. Bigman SiraitBapak Pengasuh yang kami hormati, setelah mengikuti Penelaahan Alkitab (PA) dengan sangat seru tentang seks dan pernikahan, kami masuk pada topik “sepadan”. Berikut ini beberapa pertanyaan, semoga Bapak dapat menolong kami menjawabnya:
1. Apakah benar konteks sepadan di Kejadian 2, itu secara fisik?
2. Apakah kata sepadan itu harus disamakan secara intelektual, kehidupan sosial, seperti tafsiran yang berkembang sekarang ini?
3. Apakah benar sepadan itu lebih berkaitan dengan pilihan seseorang?
4. Apakah pilihan itu boleh berarti memilih sesuai keinginan, meskipun melampaui kebenaran kolektif yang berkembang? Seperti memilih pasangan yang sejenis?
Met
Jakarta 
PERTANYAAN yang menggelitik, khususnya di konteks kekinian. Met, yang dikasihi Tuhan, mari kita lihat konsep dan tujuan penciptaan, khususnya ketika Tuhan mencipta manusia. Tuhan menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada (ex-nihilo). Di sini kedaulatan Tuhan atas penciptan bersifat total dan final. Dengan membaca Kejadian 1 dan 2, maka kita mene-mukan tujuan penciptaan adalah agar manusia sebagai ciptaan men-jalankan apa yang diperintahkan Tuhan, dan jangan melakukan apa yang dilarang Tuhan. Secara sederhana bisa dikatakan manusia diciptakan untuk memuliakan Tuhan, dengan melakukan segala ketetapan Tuhan.
Nah, penciptan manusia sangat menarik. Konsepnya sangat jelas, yaitu Tuhan menciptakan manusia (bentuk yang dipakai singular, Kejadian 1: 26), diciptakan Tuhan-lah manusia itu, laki-laki dan pe-rempuan (plural, Kejadian 1: 27). Dengan segera kita dapat mema-hami bahwa Alkitab mengajarkan, manusia itu cuma satu, hanya jenis kelaminnya dua yaitu laki-laki dan perempuan. Dalam perbedaan kelamin, manusia itu sama dan sehakekat, sekalipun memiliki pe-ran yang berbeda. Jadi perbedaan jenis kelamin bukanlah perbedaan hakekat, melainkan perbedaan peran.
Jika Alkitab membicarakan pasa-ngan yang sepadan (Kejadian 2:18), artinya jelas sekali dalam ayat 20, yaitu manusia dengan ma-nusia. Ada banyak binatang cip-taan di sana, tetapi tidak ada yang sepadan dengan manusia. Jadi kesepadanan yang pertama berarti sesama manusia. Lalu yang berikut kesepadanan adalah kebisaan untuk menjadi satu, bukan sama (ayat 24). Di sini artinya sangat jelas, yaitu bisa berkomunikasi, berelasi dan saling melengkapi. Apa yang dibutuhkan untuk itu menjadi mudah untuk dipahami bukan? Bagaimana agar dua orang bisa berkomunikasi dengan baik, perlu tingkat pemahaman yang sepa-dan. Tapi yang terpenting di sini adalah pemahaman dasarnya, di mana kesepadanan membuat pasangan bisa menyatu karena ada kesesuaian, sementara aspek konkritnya bisa dalam banyak aplikasi.
Dalam kesepadanan itu manusia sebagai pasangan dapat bertum-buh bersama dalam hidup memu-liakan Tuhan. Jika tidak maka akan muncul berbagai kepincangan. Da-lam konteks masa kini, keimanan kepada Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat menjadi dasar utama. Dari sisi seksual, kesepadanan adalah laki-laki dan perempuan, bukan laki-laki dengan laki-laki atau sebaliknya. Laki-laki dengan laki-laki adalah sama, bukan sepadan. Sepadan lebih kepada kesatuan yang saling melengkapi, jadi ada perbedaan di sana, tapi bukan pemisah. Tuhan menciptakan ma-nusia berpasangan laki-laki dengan perempuan, berbeda jenis (hete-roseksual), bukan sejenis (homoseksual). Alkitab dengan tegas melarang hubungan homoseksual, dengan oleh alasan apa pun (lihat; Imamat 18: 22, laki-laki dengan laki-laki, 1 Korintus 6: 9, pemburit, dari belakang).
Jadi segala jenis homo-seksual dilarang oleh Alki-tab dan dipandang sebagai sangat najis. Sodom dan Gomora dihukum Tuhan ka-rena dosa homoseksual (sodomi, Kejadian 18-19). Pernikahan yang didesain Allah adalah heterosek-sual, bukan homoseksual ataupun biseksual. Di luar heteroseksual adalah dosa. Kebebasan masa kini memang menjadi dewa bagi ma-nusia modern. Sehingga setiap ada pembatasan selalu dianggap gerak mundur, pengekangan hak asasi manusia dan seterusnya. Manusia berlaku sebagai “tuhan” atas diri dan kehidupannya. Isu-isu kebe-basan seperti ini sangatlah liar dan mem-bahayakan keimanan kita. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa sejak awal penciptaan tidak ada kebebasan yang tanpa batas. Ingat, manusia itu adalah makhluk yang sempurna justru dalam keterbatasannya.
Keterbatasan manusia menjadi wujud terindah dalam hakekatnya sebagai ciptaan Tuhan. Keterba-tasan bukanlah malapetaka. Sudah pada tempatnya pasangan yang sepadan diciptakan dalam saling melengkapi dalam keterbatasan, sehingga keduanya diharuskan proaktif dalam mengisi kesepada-nan hubungan. Jadi di sini tidak ada kebebasan untuk memilih pasa-ngan homoseksual atau biseksual. Bahkan dalam memilih pasangan heteroseksual pun, manusia tidak bisa bebas yang sebebasnya, ada batasannya. Manusia perlu tertib dalam memilih pasangannya, harus sesuai dengan tuntutan Alkitab. Dalam konteks sepadan, maka pilihan yang sepadan adalah yang sesuai kehendak Allah, bukan sekadar sesuai dengan kehendak diri (band; 2 Korintus 6:14).
Nah, ketaatan kepada ketetapan Allah bukanlah penjara, melainkan menjadi pusat kemerdekaan sejati. Dalam ketaatan terhadap keteta-pan Allah maka pernikahan menjadi terjamin seutuhnya. Tetapi sebalik-nya, alasan kebebasan sehingga menghindari keterikatan adalah ancaman terhadap pernikahan.
Met yang dikasihi Tuhan, saat ini semua anak manusia yang merasa sudah sangat maju, menganggap kesepadanan adalah kebebasan memilih yang disukai, atau lebih berorientasi kepada fisik. Keadaan fisik bukanlah sesuatu yang salah, tetapi jika itu menjadi ukuran uta-ma sangatlah berbahaya. Kesepa-danan harus dilihat dalam konteks kualitas diri, terutama iman percaya.
Akhirnya, biarlah kita terus men-dalami tiap apa yang direncanakan Allah, agar kita bisa mengisi kehidu-pan ini dengan tetap se-suai rencana Allah. Kese-padaan menjadi sangat indah dan kunci keba-hagiaan jika dihayati dan dilakoni dengan bemar. Tuhan memang hebat merencanakan dan mem-bentuk hubungan ma-nusia dalam kesepada-nan, bukan dalam keti-dakteraturan. Dia mem-buat hubungan yang se-pada dalam sebuah kete-rikatan, bukan kebebasan yang semaunya. Dalam kesepadanan, tiap pasa-ngan terbuka untuk membahagiakan pasangannya dan bersama bertumbuh untuk men-jadi semakin dewasa.
Selamat menikmati kesepadan yang memang hanya milik orang dewasa. Anak-anak tidak akan mampu memahami kesepadanan, karena sangat egosentris. Semoga kita tidak kekanak-kanakan dalam memahami kesepadanan.
Met yang dikasihi Tuhan, semoga ini bisa menjadi berkat dan menam-bah luas wawasan pikir kita akan kekayaan Alkitab.

Recommended For You

About the Author: Pdt Bigman Sirait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *