Sudut Pandang (SUP)

Gereja, Teror, Teroris dan Terorisme

Penulis : Pdt Bigman Sirait |
Tags : Doktrin Gereja Eklesiologi

Terkait


SECARA sederhana, terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan yang diyakininya. Tindakan TEROR ini dilakukan secara kontiniu dan konsisten. Teroris atau si penebar teror itu mengharapkan agar masyarakat—pribadi atau kelom-pok, bahkan institusi merasa takut dan akhirnya memenuhi keinginan si penabur teror. Teror itu bisa muncul dalam bentuk pembunuhan berantai se-cara sporadis. Juga bisa dengan pola dan sasaran tertentu.

Si pe-nabur teror bisa  perorangan atau kelompok. Dan ini biasanya dilaku-kan sebagai ekspresi kekecewaan yang mendalam atas suatu hal atau kebijakan yang dianggap merugi-kan diri atau kelompoknya. Atau seseorang yang mempunyai gang-guan kejiwaan. Dia selalu punya hasrat untuk membalaskan sakit hati atau obsesinya itu dengan se-gala cara tanpa peduli apakah tin-dakan  itu menimbulkan kerusakan atau kerugian bagi banyak pihak. Yang penting “AKU”.

Namun, masa kini, terorisme ke-banyakan berasal dari kelompok yang memiliki ideologi radikal, eks-klusif, yang meyakini hanya kelom-pok mereka saja yang benar. Mere-ka juga berpendapat bahwa tuju-an yang hendak diperjuangkan oleh kelompok ini adalah kebenaran satu-satunya. Indoktrinasi di dalam kelompok ini berlangsung ketat, sampai-sampai nalar sehat pun dimatikan atas nama tujuan mulia. Semua hal, bahkan keluarga sekali-pun harus dinomorduakan demi tu-juan kelompok dan sang pemimpin yang kultuskan.

Kelompok yang dinamakan teroris ini tampil dalam warna keras dan menghalalkan segala cara untuk meraih tujuannya. Mereka yakin bahwa tujuan atau cita-cita mere-ka akan dapat dicapai dengan teror. Dan cita-cita itu dicanangkan oleh pemimpinnya, yang diyakini oleh setiap pengikutnya. Si pemimpin yang memiliki kharisma dan wibawa besar dalam kelompoknya. Unik-nya, kelompok yang nyata-nyata teroris ini malah menuduh balik pi-hak-pihak yang menghalangi me-reka itu sebagai teroris. Semboyan-nya “KAMI” yang benar. Nah, para TERORIS ini menebar TEROR, yang mereka yakini sebagai cara berjuang yang paling efektif. Yang sangat menakutkan adalah model yang mereka pilih seperti BOM bunuh diri.

Menakutkan, karena siapa saja bisa jadi korban: tua, muda, besar, kecil, kaya, mis-kin. Cara ini sesungguhnya tidak efektif, (terkesan frustrasi), karena sasarannya tidak jelas dan tidak tepat. Karena ulah mereka, deret-an orang yang sakit hati pun sema-kin panjang karena nyawa anggota keluarganya terenggut oleh BOM bunuh diri.  Volunter obesesif yang mele-dakkan diri dengan BOM jumlah-nya semakin banyak, sementara para pemimpinnya tetap saja ber-keliaran bahkan sempat menikah dan merasakan kenikmatan di da-lam pelariannya. Ini merupakan sisi paradoks yang seharusnya bisa menjadi pintu masuk untuk menyi-bak dan menyobek gerakan radikal ini.

Dan ini tentu saja tugas berat aparat keamanan yang perlu mendapat dukungan dari setiap komponen bangsa. Aparat ke-amanan, dituntut mampu me-nampilkan diri dengan baik dan mampu memberi rasa aman, bukan sebaliknya. Kerja sama yang ber-kualitas kita butuhkan dalam men-jaga keamanan bangsa yang besar ini. Ingat “SATU” kita menang.  Peran apa yang bisa dimainkan gereja di tengah situasi seperti ini? Pertanyaan ini penting, apalagi mengingat gereja seringkali men-jadi sasaran pertama dan utama.

Gereja harus sadar dan berbenah diri dalam mengaktualisasi keha-dirannya di muka bumi sebagai pembawa damai, khususnya di bumi pertiwi, Indonesia yang kita cintai, yang sering diwarnai aneka gejolak manusia maupun alamnya. Gereja, jangan berdiam diri di atas mercusuar, tapi perlu turun mem-bumi, seperti Yesus Kristus, yang membumi dengan meninggalkan surga yang mulia. Gereja tidak cu-kup hanya menyampaikan untaian kata sebagai khotbah atau him-bauan, tetapi dituntut untuk me-realisasikannya. Seperti Yesus Kristus yang mengasihi umat-NYA, dan untuk itu Dia datang di dalam kehidupan manusia, dan menghidupi kehidupan kita, de-ngan menanggung segala kesa-lahan dan dosa kita.

Kekerasan memang tidak akan pernah habis dari muka bumi yang semakin ber-dosa, namun, panggilan tugas orang percaya juga tidak pernah selesai hingga kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Ketika aparat keamanan, men-coba membongkar jaringan keke-rasan, bukankah itu waktu yang sangat tepat bagi gereja untuk menabur benih damai? Gereja tak diminta membangun menara me-gah, tapi hadir dan berbagilah de-ngan rakyat kebanyakan yang terbilang sangat susah.

Belajar mendengar keluh kesah rakyat, dan memberikan titipan yang Tu-han titipkan pada kita, dan jangan berdalih, “itu milikku semuanya”. Gereja, dituntut memberi pence-rahan dalam bahasa surga yang membumi, yang dipahami sean-tero pertiwi, bukan bahasa “sur-ga” ciptaan agama, yang seakan membuat gereja suci tak terja-mah. Dibutuhkan sebuah kesa-daran spritual konkrit.

Ketika teroris—demi keyakinan akan tujuannya—berani meledak-kan diri bersama bom, mengapa gereja justru bersembunyi (ber-kelit dan berdalih) untuk sebuah kebenaran yang Tuhan Yesus ajarkan? Ketika teroris bergerak tanpa henti dan berusaha kom-pak tak mengkhiananti kelompok-nya, mengapa gereja justru terpecah, saling menunding dan mengklaim sebagai wakil surga? Padahal Yesus berkata, “hendak-lah engkau saling mengasihi dan menjadi satu…” (Yohanes 17).

Ah, semoga masih ada waktu bagi gereja berbenah diri, menjadi seperti apa yang dikehendaki Yesus,  kepala gereja. Ya, semo-ga, nyata Gereja jauh lebih baik dari TERORIS..*

Komentar


Group

Top