Sudut Pandang (SUP)

Tipuan Dalam Nubuatan Dan Penglihatan

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Wed, 18 November 2009 - 16:20 | Dilihat : 8571
Tags : Isu Kontemporer Nubuat

Terkait


Pdt. Bigman Sirait

YEREMIA hidup di tengah situasi kehidupan Yehuda yang tak menentu. Secara politis ada kekalahan besar di sana, yakni rontoknya kekuasaan Yehuda dan kuatnya cengkeraman kerajaan Babel yang kafir. Ah, sebuah ironi, bangsa pilihan takluk bahkan menjadi bangsa buangan. Ini adalah fakta yang tak terbantahkan, yang perlu disadari umat di sepanjang perguliran waktu. Kalimat-kalimat semu yang mengatakan bahwa umat Tuhan tak akan pernah kalah, harus diteliti dengan cermat. Di situasi yang seperti apa? Ketaatan yang sejati, atau kepalsuan ritual agamawi. Yeremia sendiri, betul-betul menjadi sendiri, ketika dia memilih taat sepenuhnya pada kehendak Allah.


Di tengah kehidupan Yehuda, Yeremia bersikap tegas bahkan tak segan beroposisi dengan istana. Yeremia memang kalah secara politis, namun dia memiliki catatan kemenangan tersendiri dalam keberimanannya. Yeremia kalah secara kuantitas, tetapi menang secara kualitas. Sebuah situasi yang seringkali tak disukai oleh kebanyakan orang, bahkan oleh mereka yang menyebut diri pelayan Tuhan. Namun Yeremia secara konsisten menempatkan diri dengan benar, tak terbawa arus kebanyakan. Di sisi lain, ternyata cukup panjang deretan nabi yang bernubuat palsu dengan penglihatan bohong mereka.


Tuhan berfirman kepada Yeremia: “Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-KU! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerin-tahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuat-kan kepadamu penglihatan bo-hong, ramalan kosong, dan tipuan rekaan hatinya sendiri” (Yeremia 14:14).
Yeremia coba memohon kepada Tuhan, agar murka-NYA tak melebar kepada umat, tapi hanya kepada para nabi yang bernubuat palsu itu. Tapi dengan tegas pula Tuhan berkata tak akan menunda hukuman bagi bangsa itu (Yeremia 15:1). Yeremia coba memohon, karena berpikir bahwa umat hanyalah korban dari penyesatan para nabi dengan nubuat palsu mereka (Yeremia 14:17-22). Namun menarik, Tuhan tak berpandangan seperti itu. Tuhan memandang umat bersalah, karena sudah seharusnya mereka tak mengikuti nubuatan palsu, bahkan sebaliknya, sudah seharusnya mereka mengenali kepalsuan itu.


Menarik situasi ini. Ada umat yang tertipu dengan nubuatan palsu dari nabi-nabi penyeleweng, padahal saat yang bersamaan Yeremia selalu meneriakkan kebenaran. Dari sini dengan mudah kita segera menangkap kesalahan posisi umat di Yehuda. Mereka lebih tertarik pada nubuatan palsu yang memang selalu cenderung menyenangkan telinga, dan menarik untuk dinalar. Bahkan raja pun memberi telinga untuk nubuatan mereka. Me-ngapa? Lagi-lagi karena sangat berpusat pada diri dan memuaskan hati. Mereka mengabaikan kebe-naran Tuhan yang disampaikan Yeremia, karena tidak populis, dan sangat berpusat kepada Tuhan. Ini seringkali dinilai mengabaikan kemanusiaan, yaitu kemudahan dan kepuasan diri.
Nubuatan-nubuatan palsu lebih mendapat tempat di hati umat. Mereka tetap menyebut nama Tuhan, sekalipun itu bukan kehendak Tuhan. Mereka memuji Tuhan sekalipun diselimuti oleh kepalsuan. Ya, mereka merasa nikmat, karena mereka ada dalam posisi beragama lengkap dengan segala ritualnya, namun di sisi lain keinginan hati terpenuhi. Jika mengikut ucapan Yeremia sang nabi yang berjalan dalam kebenaran, ya sudah pasti mereka berjalan dalam jalan Tuhan, namun keinginan hati tak akan terpenuhi. Karena kehendak Tuhan selalu menuntut penyangkalan diri, dan keberanian menikmati kepahitan hidup dalam menjalani kebenaran.
Ya, pilihan hidup benar memang tak populer, tak menyenangkan. Terlalu murni, tak ada seni tipu di sana. Mungkin Anda kaget. Tapi ternyata memang benar, seni tipu yang mewarnai tiap langkah manusia berdosa memberi warna dan kenikmatan tersendiri. Ada ketegangan dalam tipuan, namun kenikmatan karena bisa memainkan tipuan, dan semua kendali ada pada diri. Baik si nabi penubuat palsu maupun umat si penikmat, sama-sama terperangkap oleh kepuasan yang ditawarkan setan. Dan yang namanya palsu memang selalu lebih banyak penggemarnya. Jadi, dari situasi di mana ada nabi sekelas Yeremia yang konsisten menyuara-kan kebenaran, di mana ada penglihatan dan nubuatan, tetap saja menjadi kalah populer dibanding nabi yang menubuatkan kepalsuan.
Melihat kenyataan ini, tak heran jika sepanjang jaman nabi palsu dengan jutaan tipuannya selalu memiliki pengikut dalam jumlah yang banyak. Bahkan di masa Tuhan Yesus sendiri, lebih banyak umat yang selalu beribadat, berdoa siang dan malam, berpuasa satu minggu dua kali, tak pernah alpa dalam persembahan dan perpuluhan, membuktikan diri sebagai si munafik. Kepalsuan mereka dengan segera nyata ketika mereka menyatu dalam teriakan: “Salibkan DIA!” Arus itu begitu derasnya, padahal sebagian besar dari mereka telah melihat bahkan menikmati anugerah dan kuasa ilahi dalam Yesus Kristus.


Ingatlah berbagai peristiwa mukjizat yang dilakukan Yesus, dan betapa banyaknya mereka yang terlibat di sana. Di kebenaran dengan segera mereka berganti posisi, tak berpihak pada Kristus Sang Kebenaran, melainkan kenikmatan posisi sesaat. Kepalsuan demi kepalsuan terus bergulir hingga saat ini. Bahkan di era kini tipuan semakin menggila karena terfasilitasi oleh kecanggihan teknologi. Keunggulan teknologi dengan segera menjadi alat ampuh nabi-nabi palsu. Nabi-nabi yang mengangkat diri sendiri dengan konfirmasi di lingkungannya sendiri, dan lebih ironis lagi, dilegalitas hanya karena berbagai keunggulan yang tampak seperti bersaing dengan dunia paranormal, atau perdukunan. Mereka bernubuat, yang oleh Tuhan disebut sebagai ramalan kosong. Namun hebatnya, ada ketepatan yang terjadi di sana.


Bagaimana ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana dan amat sangat mudah: karena setan adalah pemalsu terbaik, bahkan dengan berbagai fenomena keajaiban. Dan, Alkitab sudah mengatakan ini berulangkali sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Tapi saat yang bersamaan berulangkali pula umat tertipu dengan tipuan nabi-nabi palsu. Persis seperti jaman Yeremia, padahal di waktu lampau sudah ada berbagai contoh, seperti Bileam, atau pun Zedekia si nabi palsu di era raja Ahab, dan berbagai kisah lainnya. Tapi, lagi-lagi umat terperosok di lobang yang sama. Karena itu, juga tidak mengheran-kan jika Tuhan murka kepada umat, dan tidak mendengarkan rintihan Yeremia. Ya, Yeremia yang masih berharap belas kasihan Tuhan atas bangsanya. Yeremia sadar, jika Tuhan murka umat akan binasa. Namun ketakutan Yeremia tak mampu memahami murka Allah karena kesuciaan-NYA dinodai. Betapa pentingnya kepekaan umat akan kebenaran Allah. Umat harus terus was-was, karena kepalsuan tak pernah berhenti, bahkan cenderung semakin menghebat dan tampak sangat bersahabat. Berbagai tipuan akan menyesatkan. Awas, Tuhan akan murka karenanya.
Karena itu, agar tak dimurkai Allah hendaklan kita dapat mengenali kebenaran. Nabi-nabi palsu adalah mereka yang selalu berceramah betapa mudahnya jalan hidup, betapa hebatnya Anda. Kemudahan dan pujian akan terus ditumpahkan, hingga Anda terlena. Lalu berbagai fenomena, atau hal-hal yang dibesar-besarkan, akan terus dikisahkan. Dan, tak berhenti sampai di situ, mereka akan banyak berkisah tentang sukses, materi, kuasa yang memang Anda inginkan. Tepatnya, semua cocok dengan keinginan kita, yang walaupun dengan jujur kita sadari itu bukan kehendak Tuhan. Namun hati ditekan, telinga dimanjakan, dan umat bersembunyi di balik kata-kata: “Ini hamba Tuhan”.
Dulu mereka menyebut langsung tentang materi, tapi kini mereka sembunyikan dalam ucapan bersayap. Tapi yang pasti, hamba kepalsuan selalu berambisi hidup dalam kegelimangan materi yang tak bertepi. Semoga Anda tak terjebak dalam kepalsuan nubuatan dan penglihatan, agar murka Tuhan tak jatuh atas diri Anda. Semoga Anda setia, dan semakin mencitai kebenaran, agar kepalsuan ditelanjangi. Ya, semoga.v

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top