Meramu Informasi

Ardo Ryan Dwitanto, SE, MSM*
DI suatu jamuan makan bersama teman-teman sepermainan, seorang pemuda terkesima dengan makanan yang dipesan oleh salah seorang temannya: es campur. Ya, itu makanan yang dipesannya. Suatu hal yang membuatnya terkesima adalah begitu “rame” isi dari es campur itu dan terlihat sangat enak. Temannya membiarkan dia untuk mencicipi dan rasanya memang benar sangat enak.
Es campur merupakan salah satu makanan yang terdiri dari macam jenis bahan makanan yang dicampur sedemikian rupa sesuai resep dan menghasilkan suatu makanan yang sangat enak. Sama halnya dengan informasi. Kumpulan informasi dapat dikombinasikan sedemikian rupa dan menghasilkan sebuah pengetahuan (knowledge), pemahaman (understanding), dan hikmat (wisdom).
Kita hidup di jaman atau era informasi. Apa maksudnya? Kita dapat memperoleh informasi dengan sangat mudah. Apalagi dengan adanya internet dan kecanggihan teknologi informasi, kita dapat mengunggah dan mengunduh data dengan sangat mudah. Selain itu, melalui internet kita dapat belajar banyak hal. Kita dapat mengunduh rekaman kuliah, seminar, temu wicara, baik dalam bentuk audio maupun video secara cuma-cuma. Sungguh luar biasa.
Selain keuntungan yang dapat diperoleh melalui kelimpahan informasi ini, terdapat dampak negatif pula. Menerima terlalu banyak informasi tanpa ditelaah justru malah bisa berakhir dengan kebingungan dan disintegrasi. Dengan kata lain, tahu banyak namun tidak mengerti apa-apa. Banyak orang mungkin dapat memperoleh banyak informasi, namun kemampuan untuk mengolah informasi-informasi perlu dilatih.

Pengetahuan, pengertian, dan hikmat
Salah satu serial televisi terkenal, CSI, kependekan dari Crime Scene Investigation, memberikan gambaran yang menarik tentang pengolahan informasi. Film tersebut mengisahkan tentang para penyidik dari laboratorium forensik. Mereka mengumpulkan fakta-fakta yang mereka temukan di tempat kejadian perkara (TKP), keterangan para saksi, dan informasi-informasi lainnya, dan setelah itu mereka integrasikan dan akhirnya menuntun mereka kepada pelaku dan bahkan motif dari suatu kejahatan.
Jika dalam proses produksi, segala input produksi, seperti bahan baku, diolah sedemikian rupa sehingga akhirnya menjadi suatu produk. Begitu pula informasi, perlu dikelola sedemikian rupa menjadi sesuatu yang bermanfaat. Apakah itu? Pertama, pengetahuan (knowledge). Kedua, pengertian (understanding). Ketiga, hikmat (wisdom).
Suatu kamus elektronik memberikan arti atau definisi yang menarik dari ketiga hal tersebut. Pengetahuan adalah fakta-fakta yang terstruktur yang didapat melalui studi dan pengalaman-pengalaman. Selain itu, pengetahuan juga diartikan sebagai kumpulan ide yang merupakan hasil dari penarikan kesimpulan dari fakta-fakta atau informasi-informasi. Sebagai contoh, suatu riset pada bursa saham di Jakarta menyimpulkan bahwa harga saham naik ketika nilai tukar rupiah menguat.
Pengertian (understanding) mengacu kepada suatu judgment (kemampuan untuk menarik kesimpulan) atas situasi yang dihadapi. Misalnya, seorang manajer menghadapi masalah penurunan moril dari para anak buahnya. Lalu, dia mengolah semua pengetahuan yang pernah dia dapat melalui bangku sekolah maupun pengalaman-pengalamannya untuk memahami masalah yang dihadapi.
Hikmat (wisdom) mengacu kepada suatu tindakan atau keputusan yang merupakan tindak lanjut dari pengetahuan yang dimiliki dan judgment yang baik. Jadi, hikmat lahir dari sebuah judgment yang baik. Dan judgment yang baik lahir dari pengetahuan yang benar.

Pengelolaan informasi
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mengelola informasi menjadi sebuah pengetahuan, selanjutnya pengetahuan digunakan untuk membuat judgment yang baik, dan akhirnya melahirkan tindakan atau keputusan yang bijak. Hal ini tidaklah mudah dan butuh latihan. Jika proses ini menjadi suatu gaya hidup kita, maka kita akan menjadi orang yang bijaksana.
Pengetahuan merupakan struktur dari kumpulan fakta dan informasi. Untuk menyusun struktur tersebut, seseorang harus melakukan studi. Apa yang dilakukan dalam studi? Studi dapat dilakukan melalui mendengarkan, observasi (pengamatan), dan mengalami. Ketiga hal ini yang sering dikenal dengan learning by hearing, learning by seeing, dan learning by doing.
Selanjutnya, pengetahuan dapat menghasilkan sebuah judgment. Bagaimana caranya? Judgment dibuat ketika berada dalam suatu situasi atau kasus. Jadi, melalui kasus atau masalah, seseorang dapat mengolah pengetahuan-pengetahuan yang dimilikinya untuk mengambil kesimpulan. Banyak orang takut dengan masalah dan begitu takutnya sedapat mungkin menghindarinya. Padahal, di dalam masalah, kita dapat belajar untuk membuat judgment yang baik. Ingat tanpa judgment yang baik, seseorang tidak akan mungkin menjadi orang yang bijak. Orang yang takut terhadap masalah, tidak terlatih dengan baik untuk membuat judgment yang baik. Sikap menghindari masalah adalah sikap yang keliru dan merupakan usaha untuk bunuh diri mengingat dunia ini selalu dirudung dengan masalah-masalah.

Selanjutnya, berdasarkan judgment yang dibuat, seseorang harus mengambil tindakan atau keputusan. Hal ini merupakan tingkatan yang paling tinggi dalam pengelolaan informasi. Pertanyaan kunci dalam proses mengubah judgment menjadi sebuah hikmat adalah “bagaimana kesimpulan ini diterapkan dalam konteks saya?” atau “apa yang harus saya lakukan dalam hal ini?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak mungkin dapat dijawab tanpa memahami situasi atau masalah yang sedang dihadapi. Sebagai contoh, seorang manajer memahami bahwa penurunan moril dari para karyawannya disebabkan oleh ketidakjelasan visi yang dimiliki. Pertanyaan berikutnya yang perlu manajer tanyakan dalam dirinya adalah “Bagaimana saya dapat menolong karyawan-karyawan saya ini?”
Jika pengelolaan informasi sudah sampai tingkat hikmat, maka kita akan mengalami suatu kehidupan yang penuh arti, bukan kehidupan yang hampa. Pada krisis keuangan dalam beberapa tahun berakhir ini, sempat mencuat berita mengenai orang-orang yang melakukan bunuh diri. Beberapa diantara mereka adalah investor dan pialang saham. Saya yakin mereka mempunyai.

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *