Sudut Pandang (SUP)

Kepalsuan Yang Semakin Menggila

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Tue, 2 February 2010 - 11:23 | Dilihat : 2631
Tags : Spiritual Kristen

Terkait


Pdt. Bigman Sirait

Reformata.com - DI pasaran, produk barang terserang wabah kepalsuan. Aksi palsu-memalsu melanda tiap produk, khususnya produk branded. Bagaimana tidak, karena kegiatan memalsu sangat menjanjikan keuntungan yang sangat besar. Tak perlu berpikir, apalagi berkeringat, cukup “copy” langsung jadi. Biaya riset, desain, promosi, yang memang terbilang tinggi, tak tercatat dalam cost produk palsu. Dalam memalsu memang tak ada etika, bahkan hukum yang mengaturnya pun ditabrak sudah. Bahkan lebih gila lagi, barang palsu pun ada tingkatan kualitasnya. Sangat menyakitkan, tapi itulah kenyataan. Mereka yang berhak atas ide dan kreativitas dirampok habis-habisan. Aktivitas bajak-membajak CD, DVD, lebih sadis lagi karena berlangsung di depan mata dan mudah dikenali sekaligus dihabisi. Tapi itu tak terjadi. Nah, semakin parah lagi, hukum pun tampaknya sudah mulai dipalsukan di lapangan.
Sudah lama saya mendisplinkan diri untuk tak membeli VCD, DVD bajakan, sekalipun hujan protes muncul dari anak-anak. Jika mau beli, kita beli yang asli, dan anak-anak bisa belajar hidup punya prinsip. Tak mudah, karena jadi tertinggal banyak film-film baru yang beredar. Tapi jika tidak menahan diri bagaimana kita bisa memerangi kepalsuaan, yang memang jelas merupakan kesalahan. Ini adalah potret asli di republik ini, yang punya komitmen tinggi untuk mewujudkan supremasi hukum, tapi tak jelas prosesnya apalagi hasil nyata. Tapi yang jelas, pembajakan, penistaan, kekecewaan terhadap hukum semakin tinggi. Tak heran jika dalam riset sebuah media ternyata kepuasan masyarakat terhadap hukum terus menurun dari tahun ke tahun.


Ya, kita hanya punya retorika bagus, tapi bukan aksi bagus. Bahkan nyaris hampir pasti, apa yang diucapkan dengan apa yang berlangsung tak sejalan. Sehingga Anda jangan membangun harapan jika tak ingin merasakan kekecewaan. Kepalsuan, ternyata bukan hanya menyangkut produk saja, tapi juga integritas. Semua orang berlomba membangun citra baik, tapi tidak terlihat dalam tindakan yang baik. Ironis, itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan semua ini. Karena semua orang belajar membangun citra tapi menelikung kebenaran. Dalam tiap diskusi tentang republik ini semua tampak indah, tapi dalam kenyataan Anda pasti mengerti. Semua berbicara normatif tapi bukan tindakan yang aktif, apalagi efektif. Jika dalam ranah bisnis ada banyak kepalsuan, ternyata setali tiga uang dengan dunia sospolek, dalam konteks bernegara.
Lalu bagaimana dengan gereja yang adalah terang dunia itu? Ah, ini yang lebih memprihatinkan, karena ternyata sama saja. Gereja juga telah terkontaminasi dengan virus kepalsuan. Semakin langka mencari gereja yang berjalan lurus dengan motivasi yang lurus. Kelemahan, kekurangan, adalah manusiawi, asal masih dalam trek ketulusan. Nah, jika gereja juga terjangkit penyakit yang sama, bukankah itu berarti betapa gelapnya gereja. Di gereja selalu ada tarik-menarik kekuasaan, karena selalu ada yang berminat berkuasa sendirian. Berita yang dikumandangkan di mimbar bukan merupakan nilai hidup keseharian, bahkan berlaku terbalik.
Lalu lintas uang memang sangat menggiurkan, membuat banyak gereja berdiri, di mana aset gereja atas nama pribadi. Gereja bagaikan perusahaan, dan domba-domba tak lebih dari perahan. Susunya diperas, dosanya disucikan. Domba-domba tak keberatan diperas susunya, asal suci statusnya. Apalagi janji berkat materi terus mengalir setiap minggu bahkan nyaris setiap hari. Tak perlu pikul salib di sana. Kepalsuan, ya jelas pemalsuan. Gereja berubah menjadi perusahaan. Nama Tuhan disebutkan, tapi sejatinya Tuhan kembali disalibkan, di mana kisah Golgota terulang kembali.


Jadi, berharap dunia terang sungguh tak terbayang, karena gereja, sang terang dunia, malah diliputi kegelapan. Kepalsuan semakin menggila, mewarnai hampir setiap sendi kehidupan. Belum lagi nubuatan demi nubuatan yang sangat digemari sebagai produk saingan ramalan paranormal. Nubuatan dibalut kesucian, sementara ramalan paranormal diberi sebutan produk setan. Di sini terjadi kompetisi perdagangan, dan berebut wilayah kekuasaan. Nubuat dalam kesejatiannya tunduk pada Alkitab, dan sudah pasti sesuai Alkitab. Nubuatan itu membangun, menasihati, menghibur (1 Korintus 14: 3), bukan meramalkan apa yang akan terjadi (kalaupun ada di Alkitab bersifat sangat spesifik dalam konteks khusus).
Memasuki tahun 2010, ada hal yang unik dalam mencermati minat baca masyarakat. Ternyata buku yang paling diburu adalah ramalan tentang tahun 2010. Buku ramalan laris manis, pertanda jelas kecenderungan masyarakat ke area mistis sekalipun dibalut dengan isu-isu ilmiah. Dalam dunia kekristenan buku-buku sejenis, dalam konteks yang berbeda juga selalu mendapat respon yang cukup tinggi. Soal nubuatan, mukjizat dan kesaksian seputar hal yang mistis sangat laris. Sementara buku-buku yang menggali Alkitab secara serius, buku doktrinal yang penting, tak mendapat penghargaan yang seharusnya. Kenyataan yang memilukan di dalam gereja.
Kesenangan umat ke ranah mistis telah mengorbitkan banyak pengkhotbah yang memang berlatar belakang perdukunan. Mereka memilih berkhotbah tematik seputar dunia roh, dan membesar-besarkan kisah dalam Alkitab. Tak kelihatan minat untuk menggali Alkitab secara akurat. Apalagi berkhotbah secara ekspositori. Dan, kalaupun tematik, terus berputar di seputar isu yang sama, tak berkembang. Padahal Alkitab sangat kaya dengan berbagai isu yang luar biasa untuk melengkapi umat dalam menjalani kehidupan ini. Tapi tingkat stres yang terus meninggi akibat ketatnya kompetisi kehidupan memang cenderung membuat orang sangat berminat terhadap khotbah bernuansa nubuatan. Melihat realita ini, yakni keselarasan minat gereja dan masyarakat umum cukup meresahkan. Karena seharusnya gereja memiliki panggilan yang khusus sebagai terang dunia, yang artinya tak berjalan selaras dengan minat dunia. Sebuah pergumulan yang patut dipandang serius dan disikapi dengan bijak.


Gereja harus bangun dari mimpi panjangnya, sadar diri, dan menguji visi. Ke mana sebetulnya kita sedang melangkah, karena ini memang menjadi tanggung jawab bersama. Kepalsuan demi kepalsuan akan semakin merajalela jika gereja tak segera memberi arah yang benar. Akan menjadi malapetaka besar jika gereja malah terseret dan menjadi penggerak ke arah yang salah. Siapa pun yang masih merindukan gereja Tuhan tegak dalam panggilannya, harus rela menyingsingkan lengan bajunya untuk berpacu dengan waktu mengatasi situasi yang ada. Tantangan memang tak akan pernah selesai sepanjang perjalanan di Bumi ini, gereja harus terus berperang melawan kejahatan dunia yang mencoba terus menyesatkan umat.


Peringatan tentang guru palsu, nabi palsu, rasul palsu, tak pernah berhenti di Alkitab, sejak masa Perjanjian Lama (PL) hingga Perjanjian Baru (PB). Begitu pula isu jual-beli nubuatan. Dan yang paling menyedihkan adalah banyaknya umat yang tersesatkan. Hingga masa kini, bahwa umat lebih banyak yang tersesat adalah fakta yang mudah dilihat dengan mata telanjang. Pesan Alkitab menjadi kenyataan, gereja harus mampu menjadi petarung unggulan yang sungguhan. Menghadapi kepalsuan yang semakin menggila, tak ada jalan lain, kecuali gereja terus melengkapi diri. Belajar menggali lebih mendalam lagi kebenaran Alkitab. Mencintai Alkitab lebih lagi, dan rela terluka demi kebenaran. Gereja harus mampu bertanding dan menelanjangi isu-isu yang dilem-parkan oleh dunia, termasuk gereja yang terbawa arusnya. Berpikir kritis berjiwa missioner, harus menjadi semangat gereja yang terpatri dalam dan kuat di sanubari setiap orang percaya.


Marilah, agar kita tak lagi ke gereja hanya untuk menjalani ibadah yang ritual. Tapi belajar bertumbuh dengan benar. Bertindak benar tanpa mengenal henti. Mengum-andangkan berita asli Alkitab, sehingga kepalsuan semakin ditelanjangi. Namun jangan pernah berpikir ini akan usai. Karena kesudahan jaman adalah kedatang-an Kristus yang kedua. Tapi yang pasti kita telah berkarya sesuai kehendak DIA, Kristus kepala gereja.
Selamat bertanding. Ingat, kita lebih dari pemenang (Roma 8:31-39).v

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top