Khotbah Populer

Gereja Itu Adalah Kita Sendiri

Tue, 2 February 2010 - 11:26 | Dilihat : 11228
Tags : Doktrin Gereja Eklesiologi

Terkait


 Pdt. Bigman Sirait

Reformata.com - DALAM Perjanjian Lama  (PL) gereja itu  digambarkan sebagai orang-orang pilihan yang dipanggil untuk berkumpul. Dalam Perjanjian Baru (PB), kata yang biasa dipakai mengacu kepada gereja adalah: eklesia, yang artinya memanggil keluar. Dalam pengertian teologis, eklesia adalah orang-orang yang dipanggil keluar, yang dipilih keluar dari kumpulannya yang dulu gelap, menjadi terang.
Nah, gereja adalah eklesia yang dipanggil keluar itu. Dia mempunyai keunikan pada dirinya. Maka orang-orang Kristen adalah orang-orang yang keluar dari kumpulan yang gelap itu masuk ke tempat terang. Maka gereja dengan sendirinya mempunyai perbedaan yang amat sangat kontras dengan dunia di sekitarnya. Itu sebab Tuhan menuntut gereja men-jadi garam dan terang. Tetapi sekarang, gereja dengan dunia mirip-mirip. Kadang-kadang dunia malah lebih bagus. Misal, banyak tokoh atau organisasi non-Kristen yang melakukan pekerjaan luar biasa bagi kemanusiaan.


Romo Mangun (alm) berkata dalam bukunya: “Gereja sering kali mengkudeta ibadah”. Mak-sudnya, karena kita berpikir bahwa beribadah itu hanya kalau di gereja, padahal ibadah adalah bagaimana menjadi orang kudus, yang menjalankan tugas-nya. Dikatakan gereja mengkudeta ibadah, karena ibadah hanya di sini (gereja), kalau di luar enggak. Romo Mangun adalah orang yang luar biasa dalam pemikirannya, dan dia mengubah Kali Code di Yogya-karta sehingga warga yang mukim di sekitar kali itu, yang tadinya hidup kumuh, menjadi lebih teratur, rapi dan menye-nangkan. Maka waktu kita dipanggil keluar, harus berbeda dengan dunia, kita harus menjaga betul situasi dan kondisi kita, supaya hidup kita tidak menjadi batu sandungan, karena memang kita sudah dipanggil keluar dari kumpulan itu dan tidak ada di kumpulan itu, dan harus berbeda dengan kumpulan itu. Nah, itu semangat teologis yang seharusnya mewarnai gereja Tuhan.
Alkitab mengatakan: “Bait Allah yang ada di Yerusalem itu, adalah kamu”. Dalam diskusi Ye-sus dengan perempuan Samaria (Yohanes 4), perempuan itu mengatakan: “Kalian orang Yahudi berkata Yerusalem-lah tempat beribadah. Kami orang Samaria berkata di gunung ini. Yesus menjawab, bukan Yeru-salem bukan pula di gunung ini, tetapi akan tiba saatnya penyem-bah yang benar akan menyem-bah dalam Roh dan kebenaran”. Maksudnya apa? Kita harus me-nyembah di dalam Roh, karena Allah itu roh, bukan ruang atau tempat, sehingga tidak perlu Yerusalem, atau gunung. Karena Allah roh, maka sembah Dia, sebagaimana engkau berhadapan dengan roh. Roh tidak terikat ruang dan waktu. Mau ketemu Tuhan tidak harus ke gereja, di rumah juga bisa berdoa.


Pensakralan gedung gereja sebagai tempat tinggal Tuhan itu sangat berbahaya. Bait Allah yang sejati itu diri kita. Makanya ibadah yang sejati juga diri kita. Tentang hal ini Paulus berkata dalam Roma 12: 1, “supaya kamu memer-sembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, sebab itulah ibadahmu yang sejati”. Maka dirimulah Bait Allah, dan hidupmulah ibadah yang sejati itu. Hidupmu harus eklesia, orang yang dipanggil keluar yang tidak sama dengan yang dulu, yang tidak sama dengan yang lama. Itulah gereja. Jadi, kita dituntut untuk menjadi saksi personal per personal. Waktu kita kumpul, menjadi gereja universal, tetapi kita merupakan gereja individual-individual.

Bukan saluran berkat
Dalam Yohanes 17, Yesus berdoa: “Bapa, mereka di dalam dunia tetapi bukan milik dunia, namun aku berdoa kepada-Mu tidak meminta mengangkat mereka dari dunia. Biar mereka dalam dunia tetapi bukan milik dunia, supaya mereka menerangi dunia”. Kompetisinya jelas, kita bertempur di dunia yang bukan tempat kita. Dunia yang sudah diwarnai kekerasan dan kekejian yang luar biasa dan kita harus bertarung dalam dunia. Maka Dia mengatakan kita seperti domba yang diutus ke tengah serigala. Mengapa para rasul itu mau babak belur dianiaya, masuk penjara? Karena mereka harus melakukan apa yang Tuhan mau.
Oleh karena itu semangat gereja itu harus semangat kompetisi. Saudara adalah gereja yang berjalan, sebagai gereja individu, yang harus hadir di kantor, di kampus, menjadi gereja yang bersaksi. Apakah kita gereja yang menjadi berkat, sehingga orang yang kesulitan kekurangan kita Bantu, orang yang tertinggal kita dorong untuk maju. Kita mesti berani menggugat diri, tetapi kita juga mesti menjadi gereja yang bijak, jangan sampai dimanfaatkan orang lain, jangan kecemplung ke tempat yang salah.


Sebagai gereja kita harus menjadi berkat. Ketika orang kesulitan keuangan, mungkin kita tidak bisa bantu dengan uang, namun jika kita bicara bahwa kita care dan memahami persoalan mereka, itu sudah mengurangi separuh dari persoalan dia. Jika stres-nya sudah hilang, dia bisa temukan ide: “Apa yang bisa saya lakukan untuk cari uang?” Dalam kondisi stres, orang tidak bisa dapat ide.
Betapa peran kita itu dibutuhkan sebagai gereja Tuhan. Jadi jangan pikirkan gereja itu as a ritual: datang, nyanyi, haleluya, pulang. Salah betul. Gereja juga tidak boleh terjebak hanya untuk menyelenggarakan ibadah-ibadah sesuai kalendernya. Gereja juga tidak boleh terjebak pada target-target kuantutatif, mengumpulkan banyak orang, banyak kolekte, bikin banyak hal, tetapi bagaimana menjadi gereja yang sejati, menjadi berkat. Hidup kita, kehadiran kita, jadi berkat bagi orang lain. Kita harus menjadi berkat, karena Tuhan sudah memberkati kita. Kita menjadi berkat bagi orang lain. Itu sebab menjadi berkat itu menyenangkan sekali. Itulah panggilan daripada gereja, itulah sebetulnya kenapa gereja dipanggil keluar untuk menjadi berkat di dalam hidup ini. Dia di dalam dunia, tetapi tidak sama dengan dunia, dan bukan milik dunia. Dia bertarung dalam dunia.
Kita sebagai gereja adalah manivestasi dari penyataan kerajaan Allah. Bisakah orang melihatnya? Allah yang me-merintah, di mana Kristus menjadi kepala untuk tiap kita, mengatur hidup kita, adakah hal itu terpancar dari hidup kita? Kita adalah orang yang dipanggil ke-luar untuk memberitakan perbuatan yang besar. Itulah tugas kenabian kita. Sekarang, jabatan rasul dan nabi sudah tidak ada, tetapi fungsi kena-bian, fungsi rasuli, itu menjadi peran kita. Karena kita harus menyuarakan kebenaran. Itulah gereja.v (Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)



 

Lihat juga

Komentar


Group

Top