Berlari Menuju Garis Akhir

Ardo Ryan Dwitanto, SE, MSM*
 
DALAM suatu lomba lari, para  pelari bersiap-siap di garis  start menunggu aba-aba dari wasit. Ketika wasit memberi aba-aba, serentak para pelari mengambil sikap bersedia me-nunggu pistol ditembakkan sebagai tanda perlombaan dimulai. Dalam posisi bersedia, para pelari meman-dang garis yang ada di depan mereka. Garis apa itu? Ya, itu adalah garis akhir. 
Bayangkan jika ketika lomba dimulai, salah satu peserta berlari sambil menoleh ke belakang. Apa yang terjadi? Pelari tersebut pasti akan kehilangkan keseimbangan dan akhirnya terjatuh. Bayangkan pula jika salah satu peserta yang lain berlari mundur. Pelari tersebut bukannya memandang garis akhir, melainkan garis start. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Pasti pe-lari tersebut akan kalah dan mung-kin juga akan terjatuh, karena dia tidak dapat melihat rintangan-rintangan yang ada di depannya.
Tentu, tidak ada pelari yang ber-lari mundur atau sambil menoleh ke belakang. Namun, di dalam per-jalanan kehidupan, sering dijumpai banyak orang terlalu memikirkan masa lalunya dan tenggelam di dalamnya, sehingga mereka men-jalani hidup ini seperti para pelari yang berlari mundur atau sambil menoleh ke belakang. Akhirnya mereka sering terjatuh karena kehi-langan keseimbangan hidup atau tersandung dengan masalah-masa-lah yang mereka tidak antisipasi.
Tahun 2010 telah dimulai. Hal yang lumrah dilakukan oleh banyak orang ketika memasuki tahun baru adalah evaluasi terhadap kinerja di tahun yang lalu dan selanjutnya membuat resolusi untuk tahun yang baru. Namun, tetap saja banyak dari antara mereka gagal menggenapi resolusinya dan tetap tidak berubah dibandingkan de-ngan tahun yang lalu. Hal ini sung-guh menyedihkan! Mengapa hal ini dapat terjadi? Ada dua alasan yang perlu digarisbawahi, yaitu kemauan yang lemah dan tidak fokus kepada resolusinya.

Mengapa harus berlari?
Bukankah kita dapat berjalan saja menuju garis akhir? Bukankah ber-jalan lebih mudah daripada berlari? Ya, berjalan memang lebih mudah. Namun, berjalan tentu lebih lambat daripada berlari. Apa maksudnya? Berlari mencerminkan kemauan yang kuat.
Sebagai contoh, seorang remaja berniat untuk menonton film yang telah dinanti-nantinya di bioskop. Dia mengetahui bahwa dia mungkin tidak akan dapat tiket karena banyak orang yang akan menon-ton film yang sama di bioskop tersebut. Apa yang akan dia akan lakukan? Dia pasti akan berlari secepat mungkin menuju loket tiket untuk posisi yang paling depan dalam antrian. Dia berlari karena dia sangat ingin untuk menonton film tersebut.
Banyak orang yang gagal meng-genapkan resolusinya karena me-reka tidak mempunyai kemauan yang kuat untuk mencapainya. Resolusi yang dibuat hanyalah suatu lip service, supaya terlihat mantap memasuki tahun yang baru. Resolusi hanyalah tujuan-tujuan yang tidak pernah dikejar.  
Kemauan merupakan suatu ketetapan hati atau komitmen. Ke-mauan yang kuat pasti merupakan hasil dari suatu komitmen yang teguh. Orang yang memiliki ke-mauan yang kuat pasti akan survive dari segala bentuk tantangan.

Fokus pada tujuan
Seorang pemuda dengan perala-tan lengkap siap untuk meluncur dalam  permainan flying fox. Keta-kutan terhadap ketinggian mem-buatnya tidak berani untuk melom-pat. Di bawah, teman-temannya berseru-seru kepadanya untuk segera melompat, “Ayo, kamu pasti bisa! Jangan takut!” teriak mereka. Sesekali seruan teman-temannya membuatnya hampir melompat. Waktu makin berlalu. Karena pemuda tersebut tidak melompat juga, beberapa dari temannya mulai melemahkan pemuda ini dan berseru kepadanya untuk mem-batalkan lompatan dan kembali ke bawah. 
Hal yang sama dapat terjadi pada setiap kita. Ketika kita gagal dalam memenuhi resolusi kita, pasti ada orang-orang yang tetap mendu-kung dan ada juga yang melemah-kan. Hal tersebut tidak dapat dihindari. Lalu bagaimana sikap kita? Kita harus memilih orang-orang yang akan kita dengar. Jika kita ingin tetap maju untuk mengge-napi resolusi kita, dengarkanlah orang-orang yang mendukung dan mengabaikan orang-orang yang melemahkan. 
Bagaimanapun, kegagalan-ke-gagalan di masa yang lalu akan terus membayang-bayangi dan terus-menerus memojokkan. Na-mun, hal itu dapat diatasi ketika kita fokus kepada tujuan. Satu hal lagi yang membuat kita kehilangan fokus, adalah keletihan.
Perlu dimengerti bahwa keleti-han tidak hanya disebabkan oleh masalah-masalah melainkan juga oleh tidak adanya tantangan. Masalah-masalah yang bertubi-tubi dan tidak adanya tantangan dapat menurunkan moril. Keletihan da-pat membuat kita kehilangan fokus dan akhirnya menyerah.  Dalam permainan bulutangkis, ketika seorang pemain kehilangan fokus terhadap permainannya, maka dia akan membuat kesalahan-kesala-han dan akhirnya menyerah. 
Karena itu, kita sangat memer-lukan pemandu sorak dalam kehidu-pan kita. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang terus-me-nerus memberikan kita perbaikan dan dorongan.

Tancap gas
Hal yang menarik dari para pelari adalah mereka menambah kecepa-tan ketika mereka mendekati garis akhir. Mereka tidak melambat atau menjaga kecepatan konstan, melainkan mereka berlari lebih kencang. 
Bukankah mereka terlalu letih untuk menambah kecepatan? Tidak, justru ketika mereka me-nambah kecepatan, keletihan me-reka hilang. Mereka akan merasa-kan kelelahan ketika mereka ber-henti dan ketika mereka melambat.
Itulah mengapa kita seharusnya tidak berhenti atau santai dalam mengejar resolusi-resolusi kita, karena itu akan membuat kita cepat letih dan akhirnya menyerah. Jus-tru, seiring waktu berjalan, kita per-lu berusaha lebih keras dan lebih smart untuk menggenapi resolusi-resolusi kita. Selamat tahun baru!v
*Dosen UPH Business School

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *