Khotbah Populer

Natal Di Antara Kehancuran Dan Pengharapan

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Sun, 14 December 2008 - 11:22 | Dilihat : 4759
Tags : Artikel Natal Natal

Terkait


Follow Twitter: @bigmansirait

Memahami makna Natal bukan hal sederhana. Tetapi fenomena Natal, itulah yang hidup sekarang. Apa beda makna dengan fenomena? Istilah makna adalah memahami kedalaman daripada Natal, memahami pesan yang ingin Tuhan sampaikan. Sementara fenomena adalah sebuah gejala yang ditangkap oleh indra manusia lalu dijadikan semacam satu ukuran.

 

Fenomena menyebabkan seluruh atribut Natal mewarnai dan menguasai, bahkan menenggelamkan makna Natal, sehingga boleh dikatakan, gereja kehilangan arah itu. Gereja mengidentikkan Natal dengan damai, artinya tidak ada perang, tidak ada kesulitan, tidak ada pertikaian. Gereja mengidentikkan Natal dengan sukacita, artinya bahwa apa yang kita mau, ada. Gereja mengidentikkan Natal dengan kebahagiaan, artinya seluruhnya menjadi lain dari hari yang lain. Semua kesalahpahaman ini sudah berlanjut, sehingga Natal lebih banyak menjadi penantian para bisnismen, industri-industri, daripada penantian akan Tuhan. Gereja pun terjerumus ke dalam perkara yang lebih menakutkan lagi. Natal identik dengan semacam showbiz.

Sekarang Natal dipergelarkan dalam bentuk wah. Itu tidak salah, yang menjadi salah jika hal itu diwujudkan dengan biaya yang luar biasa. Pada saat bersamaan, berapa banyak orang menanti maut karena kelaparan? Berapa banyak orang meratap dan merintih? Damai hanya ada di dalam gedung gereja. Pengharapan hanya ada di dalam khotbah, bukan dalam kenyataan. Bukankah itu suatu kegentingan di mana orang Kristen perlu merenung ulang, apa itu Natal?

Coba kita renungkan. Apakah kita harus kasihan kepada orang-orang yang tidak bisa merayakan Natal seperti kita karena mengalami banyak kendala? Mungkin perayaan Natal kita akan membawa kita ke neraka, tetapi mungkin Natal yang dirayakan dalam keprihatinan akan membawa mereka ke sorga. Natal yang serba kecukupan dan luar biasa mungkin membuat kita lupa sungguh-sungguh berdoa. Tetapi Natal penuh tangisan dan airmata, doa yang dinaikkan bisa menjadi gegap gempita di dalam sorga.

Bagaimana dengan Natal pertama? Natal yang sangat simbolik dengan kehancuran, Di sana muncul tokoh bernama Herodes. Dia memerintahkan sesuatu yang sangat menakutkan dan mengerikan dan tidak pernah terbayangkan, dan menjadi satu noda yang menyakitkan bagi Betlehem: membunuh anak-anak di bawah usia dua tahun!

Kehancuran di Natal pertama itu apa? Yang pertama adalah banjir darah, kematian anak-anak di bawah usia 2 tahun. Mereka harus mengalami pembunuhan, mati demi ambisi Herodes yang tidak ingin ada saingan. Menakutkan dan mengerikan. Natal pertama harus dibayar dengan darah.

Bagaimana jika sekarang ada bom? Marilah berdoa, kalaupun bom itu meledak semoga kita masuk sorga. Kenapa mesti pusing? Kita toh tidak bisa melarang, kita tidak bisa marah. Orang mau marah silakan, itu urusan mereka. Tetapi bagaimana menyatakan cinta kasih, itu tanggung jawab kita. Itu sebab bagi saya tidak terlalu masalah ketika menyikapi apa yang sedang terjadi. Bagi saya, tidak terlalu penting apa yang sedang terjadi di dunia, tetapi bagaimana kita berjalan dan bekerja melakukan apa yang Tuhan mau.

 

Air mata suka cita

Yang kedua, banjir air mata. Di sana ada hawa nafsu. Darah tumpah di mana-mana, maka air mata mengalir pula di mana-mana. Bahwa Natal suka cita itu betul, tetapi sukacita yang belum “titik”, tapi “koma”. Tidak mungkin orang Kristen bersuka cita waktu Natal, tanpa mengeluarkan air mata. Tidak mungkin orang Kristen bersuka cita waktu Natal tanpa menangis. Kenapa? Karena begitu Anda suka cita merenungkan kasih Tuhan, bisakah Anda merenungkan dan merasakan itu tanpa menangis? Tidak mungkin engkau tidak akan menangis di dalam suka cita, “Tuhan, kenapa Kau pilih aku? Kenapa Kau cintai aku?” Maka keluarlah air mata penuh suka cita. Kalau suka cita lalu mabok, itu orang sekarang.

Orang-orang Barat sangat sentimen romantis waktu memanfaatkan Natal. Bagi mereka, itu malam yang sangat indah. Tetapi karena sudah bercampur dengan budaya maka mabuk karena minuman keras menjadi hal yang biasa. Jika itu terjadi di malam Natal tentu sangat menyedihkan. Di Barat, orang sudah biasa mengekspresikan suka cita di dalam emosi yang sering kali salah.

Natal, adalah saat kita diam dan bertanya, “Tuhan, sebenarnya waktu saya mau percaya sama Tuhan, cari kesenangan buat saya, atau saya mau menyenangkan Tuhan? Jika memang mau menyenangkan Tuhan, susah pun kau bahagia.

Ketiga, banjir amarah. Karena Herodes sudah gelap mata tidak tahu lagi kawan atau lawan. Karena gelap mata, dia tidak berhitung lagi. Baginya, yang penting tidak boleh ada orang lain menjadi raja, sekalipun dia tidak mengerti apa yang dimaksud orang Majus sebagai “Raja Orang Yahudi”.

Maka Natal pertama memang porak poranda, hancur berantakan, tetapi justru di situlah paradosks daripada Natal itu. Justru di kehancuran itulah damai bersemi. Justru di kehancuran itulah damai dinyatakan bagi orang yang diperkenannya. Anugerah Natal bukan murahan. Tidak semua orang bisa berbahagia karena Natal kecuali yang diperkenan Tuhan. Anda berhak atas kebahagiaan Natal jika hidup berkenan dan diperkenan Tuhan. Kebahagiaan itu menjadi milik orang yang kuat, sehingga Natal membuat dia teguh di tengah kepahitan. Natal membuat dia teguh di tengah ancaman.

Kehancuran memang ada dan tidak terhindarkan. Jangan pernah mimpi akan ada saat di mana tidak ada kehancuran. Itu nanti di sorga. Jangan pernah mimpi akan ada saat tidak ada kesusahan, lalu kita menjadi orang Kristen yang begitu mulus. Kitab Wahyu mengatakan: “Makin lama manusia makin jahat, makin lama manusia makin memberontak”. Itu gambarannya. Tetapi berbahagialah mereka yang teguh berharap kepada Dia, karena di antara puing-puing kehancuran itu muncul pengharapan yang luar biasa dari Yesus, simbol pengharapan.(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)

DOWNLOAD PDF (EBOOK)

 

 

 

REFORMATA:

Tabloid Kristen Berwawasan Nasional, Menyuarakan Kebenaran dan Keadilan.

Pendiri: Pendeta Bigman Sirait

 

website: www.reformata.com

 

Alamat Redaksi

WISMA BERSAMA
Jl. Salemba Raya No. 24B, Jakarta Pusat 10430
Telp: +62 21 392 4229 (Hunting), Fax: +62 21 314 8543

Lihat juga

Komentar


Group

Top