Sudut Pandang (SUP)

Merdeka Atau Mati

Penulis : Pdt Bigman Sirait |

Merdeka atau mati! Adalah jerit heroik para pahlawan bangsa, tua atau muda, pria atau wanita, yang membahana di seantero Nusan-tara. Ya, pekik kemerdekaan yang diwarnai darah merah para pahlawan bangsa dan melayang-nya nyawa dari raga demi kemer-dekaan. Perjuangan dalam kebe-ranian dan ketulusan, bukan keku-asaan apalagi popularitas murahan, itulah yang terasa dari jerit mereka. Tentu saja, itu tidak berarti per-juangan kemerdekaan tidak diisi para Brutus, si pengkhianat mura-han. Murahan, karena mereka mengobral harga diri dengan membunuh nuraninya.

Para Brutus yang sangat cinta uang, dan sege-ra gelap mata karena aneka kenik-matan yang disuguhkan .Kini, 60 tahun sudah perjuangan itu usai, dan berakhir dengan satu kata: “merdeka”. Nah, mungkin Anda akan berkata tulisan ini kan tepatnya edisi Agustus seturut hari kemerdekaan itu sendiri. Tak ada yang salah, tulisan ini memang sengaja dirancang setelah hari kemerdekaan untuk mengamati perilaku mereka yang merayakan-nya.

Aneka cara anak bangsa ini dalam merayakan hari kemerdeka-an, mulai, dari tingkat RT/RW dengan berbagai pertandingan yang biasanya “berpuncak” pada dangdutan. Sementara di setiap instansi tampak acara seremonial yang juga berujung di berbagai perlombaan. Lalu, toko dan mal pun berhias diri dengan warna merah putih, dan, tentu saja, discount “merdeka”. Pub, diskotik tak ketinggalan dengan kostum spesial merah putih.

Dan, tentu saja yang satu ini ti-dak ketinggalan, yaitu gereja. Lagu “Indonesia Raya” berkumandang di mana-mana. Semua serba spesial, lain dari hari biasanya. Yang tidak beru-bah, ada satu, yang men-jengkelkan, yang tampak nyata, yaitu kemunafikan dari kebanyakan para pemimpin. Pemimpin yang korup, biang keributan, yang cuma pintar ber-mulut manis, pidato ria, kunjungan ke desa yang manipulatif dan sangat cinta diri, bukan bangsa, apalagi sesama. Para pemimpin di berbagai strata ini sangat miskin semangat pejuang kemerdekaan. Mereka bisa menaikkan gaji, ayun kaki ke luar negeri, dan juga rajin korupsi. Ada yang bisa membeli mobil mewah yang wah, sekalipun gajinya tak akan pernah mencukupi. Di sisi lain, para petinggi rohani pun sama aibnya. Atas nama “diberkati”, banyak yang hidup serba wah, tanpa semangat berbagi. Andaikan saja mereka memilih fungsi bukan prestise, berapa banyak yang bisa kecipratan rejeki mereka. Rumah, mobil, tentu hal yang lumrah, tetapi berlebih di saat orang lain kekurangan apakah bijak? Bukankah itu berarti kita ini masih belum merdeka? Para pejabat tinggi kita, kebanya-kan dijajah oleh ambisi peri-badi yang tidak bertepi. Petinggi rohani pun ba-nyak yang mirip, terjajah oleh arogansi mayoritas, kehausan popularitas dan tentu saja tumpu-kan mammon yang tidak terba-tas. Sekarang, konglomerat tidak hanya meliputi pebisnis, tetapi juga rohaniawan. Sementara kemiskinan terus menjajah rakyat kebanyakan, belum lagi pasukan kebodohan, tekanan hidup tak sehat. Dan, yang paling menyakitkan, virus kebencian yang menjajah dengan gagah perkasa, membuat anak bangsa saling menyakiti dan meniadakan. Atas nama agama, umat jadi mesin keributan.

Di sisi lain, atas nama Tuhan, umat pun jadi domba perahan. Sementara banyak gembala mencari perteduhan yang menyenangkan, bukan lagi berada di padang penggembalaan, berta-rung menghadapi keganasan serigala? Merdekakah kita setelah 60 tahun ini? Jawabannya tidak ada pada petinggi negeri atau rohani, jika Anda mau kejujuran. Jawaban sejati, ada pada kenyataan kehidupan. Pergilah ke tepi negeri, banyak rakyat tak lagi mampu menya-nyi. Di tengah kota, banyak warga yang terpaksa meminta-minta. Ke dasar lautan, Anda pun kecewa karena alam laut pun tidak aman.

Di tengah hutan, kicauan burung yang tak nyaman, binatang yang ketakutan dan pepohonan yang tidak lagi bisa jadi tempat perteduhan. Sementara, mau lari ke udara pun gelap gulita, berasap, menyesakkan. Lari ke rumah ibadah? Ah, di sana banyak kepalsuan. Jadi, di mana kemerdekaan? Tak perlu lari dan mencari, karena Anda dan sayalah kemerdekaan itu. Mari merde-ka, supaya bangsa ini sungguh-sungguh merdeka.

Bukankah kebenaran itu telah memerde-kakan kita? (Yohanes 8:32). Ya, Anak Manusia itu benar-benar telah memerdekakan kita (Yohanes 8:36). Untuk sebuah kemerdekaan Yesus Kristus telah mati di salib, bang-kit dari kubur dan naik ke surga. Giliran kita, jika kita memang telah dimerdekakan-Nya, me-ngisi kemerdekaan bangsa ini dengan kemerdekaan yang sejati. Yang dapat dilihat de-ngan kasat mata, dirasa dan nyata, bukan sekadar retorika, apalagi seminar tak berujung.

Selamat merdeka, menik-mati kemerdekaan dan mem-bagikan kemerdekaan, agar kemerdekaan menjadi leng-kap. Merdeka atau mati!!!*

Komentar


Group

Top