MENJADI ORANG YANG BISA DIPERCAYA

Penulis : Bigman Sirait | Mon, 26 April 2010 - 11:25 | Dilihat : 3137

 Pdt. Bigman Sirait

Reformata.com - Kisah Yusuf di Mesir, telah menjadi legenda sukses yang luar biasa. Bagaikan dongeng seribu satu malam, Yusuf ke Mesir sebagai budak, namun kemudian, terkenal sebagai orang berkuasa kedua setelah Firaun. Tak ada kisah yang sebanding dengan kisah kesuksesan Yusuf. Ada apa, atau apa rahasia suksesnya? Ini akan selalu menjadi pertanyaan menarik sepanjang masa. Apalagi di era menjamurnya para motivator, dan trainer, hingga yang disebut guru sukses. Berlomba saling mengklaim sebagai orang tersukses, atau yang terhebat, dan “ter” lainnya.  
Yusuf terlahir sebagai anak Yakub dari istri yang sangat dicintainya, yaitu Rahel. “Allah telah menghapus aibku,” kata Rahel tentang kelahiran Yusuf, dan itu pulalah arti nama itu (Kej. 30: 22-24). Ucapan Rahel tentang Yusuf, karena dia sudah lama menikah namun tak kunjung hamil. Yusuf menjadi simbol buah cinta, dan sekaligus, menjadi anak kesayangan Yakub. Tak segan-segan Yakub membuatkan jubah yang sangat indah bagi Yusuf, yang dalam bahasa Ibrani disebut ketonet passim, yang berarti beraneka warna, atau bertangan panjang (Kej. 37: 3).
Yusuf menjadi anak kesayangan Yakub, dan ini menjadi permasalahan yang cukup serius. Semua saudara Yusuf berbalik dan membecinya karena iri yang terus meninggi. Yusuf muda memang terkenal selalu berbicara benar, tulus dan apa adanya. Tak ada sikap tersembunyi pada tiap ucapannya. Kesungguhannya berbicara, sebagai kecintaannya pada kebenaran memang luar biasa. Yusuf tak segan memberitahukan kepada ayahnya atas kejahatan yang dilakukan saudaranya (Kej. 37: 2). Tapi jangan salah paham, Yusuf bukan penjilat, dia memang pecinta kebenaran, dan hal itu tampak jelas dalam track record-nya.


Istilah penjilat sengaja dipakai untuk mengoreksi kesalahpahaman banyak orang dalam menilai Yusuf. Ada yang berkata Yusuf sombong atas apa yang dikatakannya, termasuk tentang mimpinya, sehingga dia dimusuhi saudara-saudaranya. Atau, ada juga yang coba meneropong dari sudut strategi dan menyebut Yusuf tidak stategis dalam memilih langkah. Dengan cara terburu-buru banyak kesimpulan yang tak pas disampaikan.
Mimpi Yusuf memang luar bisa. Dalam mimpinya Yusuf melihat dirinya dan saudara- saudaranya sedang mengikat berkas-berkas gandum. Lalu berkas gandum Yusuf tegak berdiri, sementara berkas para saudaranya menyembah kepada berkasnya. Dan, lebih hebat lagi, mimpi Yusuf lainnya. Dia bermimpi tampak matahari, bulan, dan sebelas bintang sujud menyembah kepadanya. Jelas sekeluarga kaget mendengar mimpi Yusuf yang dianggap kurang ajar. Bagimana tidak, karena dalam mimpi itu seluruh keluarga termasuk ayah dan ibunya sujud menyembah kepadanya (Kej. 37: 5-11). Ayahnya menegurnya, sementara saudara saudaranya marah dan semakin membenci Yusuf. Anak kesayangan ayah, bermimpi kurang ajar pula, itulah ungkapan jengkel saudara saudaranya. Padahal, Yusuf hanya menceritakan kebenaran, tanpa ada maksud terselubung.


Memang kebenaran yang disampaikan seringkali menyakit-kan, apalagi jika berbeda dengan apa yang lazim kita terima atau pahami. Soal ini dengan terang benderang segera terlihat, konsis-tensi seorang Yusuf dalam berkata dan bertindak benar. Itu tak perlu diragukan lagi. Karena itu sangatlah lucu jika dianggap Yusuf kurang bijaksana. Sangatlah naif memandang Yusuf sebagai kurang bijak menyampaikan semuanya, sehingga dimusuhi saudaranya. Sama juga dengan mengatakan Yesus kurang bijak, karena mengkritik tajam para ahli Taurat di depan umum, yang kemudian membencinya, dan menyalibkan DIA. Kebenaran Yusuf yang tak mengenal basa-basi memang mengakibatkan dia tersingkir dari dalam rumah. Namun tak ada yang salah dengan Yusuf di situasi itu.
Konsekuensi kebenaran kisah Yusuf direspon jahat oleh saudaranya sendiri. Saudara seayahnya dengan tega berniat hendak menghabisi nyawanya. Namun kemudian mereka mengubahnya setelah saling berargumentasi, dan menjual Yusuf sebagai budak, dan membuat Yusuf terdampar di Mesir. Berita tipu daya dirancang oleh anak anak jahat ini, bukan saja membuat Yusuf tercoret dari daftar keluarga, tetapi juga kedukaan yang mendalam bagi sang ibu dan ayahnya. Ya, Yusuf anak tercinta dikabarkan telah mati dengan cara tragis. Sebagai budak Yusuf dibeli oleh Potifar pegawai penting di istana Firaun. Lagi lagi terbukti perilaku Yusuf yang terpuji, bekerja dan berlaku benar. Yusuf menjadi kebanggaan dan andalan Potifar untuk urusan rumahnya.
Pembuangan tak membuat sinar Yusuf meredup, bahkan sebaliknya semakin terang. Dia berkarya dan menjadi orang yang dipercaya. Hingga kemudian, satu waktu, istri Potifar menyatakan birahinya kepada Yusuf. Dia bukan saja menggoda, bahkan mengajak Yusuf berjinah. Jawaban Yusuf sangat mengagumkan: “Tuanku memberiku kepercayaan, berkuasa atas seluruh rumah ini, kecuali engkau yang adalah istrinya”. Yusuf tak rela menodai kepercayaan yang diterimanya, dia tak ingin menjadi pengkhianat. Dia bertahan sebagai orang yang bisa dipercaya. Istri Potifar merasa terhina dan marah. Memfitnah Yusuf akan memper-kosanya. Potifar termakan isu, menangkap dan memenjarakan Yusuf. Tak selalu orang yang benar berada di tempat yang benar. Kini Yusuf dipenjara karena ingin hidup benar. Di rumah dia dimusuhi dan dibuang oleh saudaranya juga karena berkata dan bertindak benar.


Sampai di sini, tampak jelas betapa susahnya untuk senantiasa menjadi orang benar yang memelihara kepercayaan yang diterima. Di penjara, lagi-lagi Yusuf menunjukkan kelasnya, dia menjadi orang kepercayaan kepala penjara. Tempat senang rumah Potifar, atau tempat susah seperti penjara, tak melunturkan kualitas moral Yusuf. Bagaimana mungkin ada orang berkata Yusuf kurang bijak, atau sombong, hanya karena dia mengatakan kebenaran. Ini adalah sebuah kecelakaan dalam menilai berdasarkan strategi belaka, atau tak memandang secara utuh sebuah permasalahan.
Di penjara Yusuf memenangkan puncak pertarungannya, ketika Tuhan membuka jalan yang lua biasa. Rekan sesama di penjara percaya bahwa Yusuf memiliki kemampuan menafsirkan mimpi. Di waktu lampau banyak penafsir mimpi dalam berbagai kepercayaan. Namun Yusuf memiliki keunggulan sebagai anak Tuhan. Bukan saja bermoral benar, tetapi Yusuf dengan kemampuan menafsirnya dikenal sebagai orang berintelek-tual tinggi. Tuhan melengkapi Yusuf secara luar biasa, dan dia juga terus belajar hidup taat dan benar di hadapan Tuhan. Kesempatan emas tiba pada waktunya, dan dari penjara Yusuf menuju istana. Lagi-lagi Yusuf menjadi orang kepercayaan penuh Firaun. Seperti menjadi orang kedua setelah Potifar di rumah Potifar, begitu pula di istana Firaun. Seperti dia disayang ayahnya, begitu pula kepala penjara menyayangi dia. Ya, di mana pun Yusuf berada dia selalu menjadi orang yang disayang, orang yang dipercaya. Yusuf bertanggung jawab penuh atas kepercayaan yang diberikan padanya. Dia tak mau mengkhianati Potifar, sekalipun akhirnya Potifar termakan isu dan menghantar Yusuf ke penjara. Yusuf berani menanggung risiko atas akibat kebenaran yang diyakininya. Dia memang layak dipercaya.


Sementara kini, di era kita, yang bertumbuh justru sifat oportunis, mencari keuntungan untuk diri. Kepemimpinan Kristen juga terimbas virus oportunis. Semakin hari, terasa semakin sulit mencari kebenaran sejati, mencari pemimpin yang layak dipercaya. Ini menjadi tantangan bagi setiap pemimpin Kristen agar tak hanya mampu menjadi pembicara di mimbar, tapi juga bisa dipercaya di kehidupan ini. Akankah muncul pemimpin sekelas Yusuf, yang bisa dipercaya, tak rela menjual diri hanya untuk keuntungan pribadi? Yusuf yang hanya mau melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan, dengan segala risiko yang datang silih berganti. Menjadi orang yang bisa dipercaya sudah seharusnya menjadi kerinduan orang percaya. Agar dunia melihat, ternyata masih ada yang bisa dipercaya, karena yang bisa di”beli”, itu sih banyak.
Selamat menjadi orang yang bisa dipercaya, yang berintegritas.v 

Komentar

Top