Belief Dan Gaya Hidup

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

MENGAPA kita kita  melakukan apa yang kita lakukan? Misalnya, mengapa kita makan makanan tertentu. Ada yang suka masakan Padang, masakan Cina, goreng-goreng, atau bakar-bakar. Kita bisa mempunyai hobi, seperti nonton film, membaca novel, koleksi berbagai barang. Ibu-ibu banyak yang mempunyai kebiasaan shopping, khususnya mode-mode pakaian baru. Ada banyak kegiatan-kegiatan kita lakukan tanpa kesadaran lagi akan alasannya, seperti menonton televisi, main games, ngemil, olahraga, dsb. 
Mungkin mula-mula kita memikirkan ketika mulai melakukan hal itu tapi kemudian semua sudah menjadi kebiasaan dan spontanitas. Tanpa kesadaran akan apa yang dilakukan manusia bisa menjadi budak dari lingkungannya, apakah itu latar belakangnya, tekanan pe er, media atau budaya kontemporer di samping kebutuhan-kebutuhan manusiawinya. 
Tergantung apakah kebiasaan-kebiasaan atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan itu produktif atau tidak untuk pertumbuhan pribadinya, maka dia akan menuai apakah suatu kehidupan yang berhasil, biasa-biasa atau kegagalan. Menurut suatu penelitian di Barat, rata-rata seorang menonton televisi selama 6,5 jam per hari. Oleh karena itu seumur hidupnya tanpa sadar dia akan menghabiskan waktu 11 tahun untuk menonton televisi dan 3 tahun untuk menonton iklan. Bisa dipastikan kebanyakan dari kegiatan menonton ini tidak produktif lagi untuk menunjang kehidupannya (pekerjaan, kegiatan sosial atau rekreasi) karena sudah tidak melalui seleksi lagi apa yang ditonton, waktu yang dipakai sudah berlebihan dan tidak terjadi interaksi dengan informasi yang didapat.
Ketika manusia tidak me-ngarahkan dirinya maka kemanu-siaannya akan  mengarahkan apa yang dia lakukan. Apa itu? Salah satu adalah memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusiawinya. Maslow menjelaskan kebutuhan manusia bisa bersifat fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan untuk dihormati dan kebutuhan aktualisasi diri. Keberdosaan manusia menye-babkan mengikuti dorongan-dorongan motivasi ini tidak cukup untuk menggapai suatu hidup yang bernilai, bahkan ketika dia tiba pada hierarki kebutuhan yang tertinggi. Aktualisasi diri betapa pun adalah berpusat pada diri sendiri, dan ini bisa mengorbankan orang lain seperti keluarga.
Cara mengubah suatu kebiasaan adalah dengan membangun keyakinan yang baru melalui internalisasi prinsip-prinsip yang benar. Kebiasaan merokok, misalnya, sering tidak cukup dihentikan dengan alasan kesehatan yang nyata-nyata. Namun seringkali seorang perokok perlu tiba pada kesadaran bahwa ketika dia merusak fisiknya dengan rokok dia telah melawan kehendak Sang Pencipta yang akan menuntut pertanggungan-jawab pada waktu dia bertemu dengan-Nya di dunia berikut. Kesadaran akan prinsip bahwa manusia adalah sekadar pengelola sumber daya yang dipercayakan kepadanya, bukan pemilik apa yang ada padanya, dan kembali kinerjanya harus dia pertanggung-jawabkan pada waktunya akan menolong dia menghentikan kebiasaannya menghabiskan waktunya di depan televisi atau games. 
Sebagai orang percaya, sudah pasti kita terus-menerus mengalami perubahan, bukan karena kita mau tapi ada kuasa ilahi yang terus mengerjakan perubahan itu dalam diri kita. Kita memiliki buku kehidupan yang berisi kebenaran-kebenaran yang lebih dari cukup untuk mengarahkan perubahan-perubahan hidup kita menuju kepada kesempurnaan. Kebiasaan ibadah dan meditasi prinsip-prinsip dari buku itu seharusnya menanamkan kebenaran-kebenaran dalam dirinya yang memerdekakan dan mengubahkan dia, dari batinnya hingga ke perilakunya.
Keyakinan penting lain yang mendorong orang berubah adalah ketika dia menyadari dan terus diingatkan bahwa kehadirannya pada suatu tempat dan suatu masa di bumi ini menyandang suatu misi ilahi. Misi ini menjadi semakin nyata dalam diri seseorang ketika dia memasukkan menjadi dasar dari goal setting yang dibuat untuk mengarahkan hidupnya melalui suatu tulisan ’personal mission statement’. Misi yang diyakini akan mengarahkan dia kepada hal-hal bernilai apa saya yang harus dia kerjakan dalam masa hidupnya yang singkat, hal-hal apa yang boleh dia lakukan, apa yang sebaiknya tidak dia lakukan dan apa yang tidak boleh dia lakukan. Jika sudah demikian, bukan saja dia akan menghindari kegiatan-kegiatan yang ’minus’, merusak dan sia-sia tapi dia akan sangat sadar perlunya memprioritaskan apa-apa yang akan dia lakukan.
Kesimpulannya, kalau kita ingin berubah secara signifikan menuju suatu kehidupan yang bernilai, kita perlu terus-menerus mengisi dan me-refresh diri dengan prinsip-prinsip yang bernilai; menggumuli misi yang Allah titipkan pada kita dan merencanakan kehidupan atas dasar misi itu; dan, menjadikan dua belief atau keyakinan ini mendasari gaya hidup kita.  Tuhan memberkati.v

*Penulis adalah Partner di Trisewu Leadership Institute

 

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *