Manajemen

Memahami Takut

Penulis : Harry Puspito | Tue, 12 May 2020 - 14:33 | Dilihat : 146

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Filipi 4:6-7

Dalam membahas sikap terhadap Covid-19 pada tulisan yang lalu, penulis menekankan pentingnya berdoa untuk mendukung sikap yang sehat berdasarkan ayat Filipi 4:6-7. Dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana kita mengalami damai di tengah Covid-19 dengan segala krisis yang diakibatkan dari ayat yang sama.

Setiap orang mengalami kawatir, takut, cemas - tiga kata negatif yang terkait eratdan saling digunakan sebagai sinonim. Dalam krisis sekarang ini kita mengalami takut banyak hal sekaligus, masalah kesehatan, ancaman kematian, kehilangan pekerjaan, masalah keuangan, keamanan keluarga, dsb. Ketika kita takut, kawatir, cemas maka kita kehilangan damai dan sukacita. Karena kita perlu memahami mengenai hal ini dan bagaimana kita menghadapinya.

Agar lebih memahami dan menangani emosi negatif ini, kita bisa membedakan ketiga kata. Khawatir ('worry') berbicara tentang segi kognitif atau berpikir tentang masalah atau ketakutan yang menyebabkan rasa takut itu. Khawatir adalah berpikir tentang hal-hal di depan yang menciptakan perasaan cemas. Khawatir ada proses berpikir. Berpikir hal-hal yang membangunkan ketakutan akan mencuri sukacita kita.

Takut ('fear') itu sendiri adalah respon emosi terhadap suatu ancaman yang benar-benar ada, misalnya penyakit berat yang dialami, atau ancaman yang dibayangkan, misalnya membayangkan mengalami Covid-19 dan dirawat di rumah sakit. Dengan berpikir ancaman-ancaman itu menimbulkan perasaan negatif takut itu. Dan ini akan mencuri waktu kita sekarang karena ketika kita merasa takut bisa menyebabkan kita kehilangan kekuatan untuk menikmati dan melakukan hal-hal yang perlu kita lakukan sekarang.

Sedangkan kecemasan adalah antisipasi terhadap ancaman-ancaman ke depan. Kita cemas kapan Covid-19 akan selesai, akan kehilangan pekerjaan, akan mengalami gangguan kesehatan, dsb. Ketika kita cemas, dia akan mencuri damai kita.

Setiap orang mengalami kuatir. Sejumlah 7,3% atau 1 dari 13 orang menderita masalah kecemasan, khawatir yang sudah kronis (parah). Tidak heran Alkitab banyak berbicara tentang takut, khawatir dan cemas yang menunjukkan perhatian Tuhan terhadap masalah ini. Bisa dipahami karena takut ini mencuri anugerah Allah hidup dengan damai sejaterah dan sukacita-Nya. Bahkan ada yang mengatakan kalau dalam Alkitab ada 365 ungkapan 'Jangan takut!' seolah-olah Tuhan sangat sadar kekhawatiran yang dialami manusia dan mengingatkan dan memberikan dorongan setiap hari agar tidak takut.

Kita mengenal tiga jenis takut. Pertama, takut akan ancaman yang nyata sehingga kita bereaksi menghindarkan ancaman itu. Misalnya kita bahaya infeksi virus Corona, karena itu kita tinggal di rumah, sering cuci tangan, menjaga jarak dengan orang lain dan menjaga kesehatan. Ini adalah takut yang sehat, yaitu takut yang melindungi diri dari bahaya (Amsal 27:12).

Jenis kedua adalah 'takut Tuhan' yang sudah pernah kita bahas dalam tulisan terpisah. Takut Tuhan adalah sikap yang menghormati Tuhan karena siapa Dia adalah Allah. Sikap ini memiliki dampak luas karena berhubungan dekat dengan iman kepada Dia, takut melakukan dosa; menghormati otoritas yang Tuhan tetapkan, yaitu keluarga, gereja dan pemerintah. Ini adalah takut yang sehat dan membawa segala berkat Allah (Misal, Amsal 19:23).

Takut jenis ketiga bisa disebut takut kronis, tidak sehat karena tidak jelas lagi penyebabnya. Kita tahu takut ini dimulai dari dosa dan dari sitasi yang dialami, didengar atau diasumsikan. Takut kronis potensi menjadi kecemasan, stres dan depresi. Takut kronis membuat kita kehilangan kekuatan, sehingga tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Jelas Allah tidak menghendaki kita memiliki roh takut seperti ini (2 Tim 1:7).

Refleksi kita, apakah Anda memiliki rasa takut yang sehat dan baik, yaitu takut yang protektif atau melindungi dan takut akan Allah? Sebaliknya, apakah kita menderita rasa takut kronis yang tidak sehat? Takut yang sehat perlu kita bangun dan takut yang tidak sehat perlu kita atasi.

Kita mau belajar bagaimana menghadapi khawatir dari Paulus pada tulisan berikut. Paulus punya alasan untuk khawatir - usia sudah lanjut, dipenjara Roma tanpa kejelasan apa akan bebas atau akan dihukum mati. Tapi dia mempunyai rahasia yang dia bagikan dalam suratnya kepada jemaat di Filipi agar tidak khawatir tapi mengalami damai sejati. Rahasia mengatasi khawatir adalah doa dalam bentuk khusus seperti Paulus tulis dalam Filipi 4:6-7 dan akan kita bahas pada tulisan berikut. Tuhan Yesus memberkati!

Lihat juga

Komentar


Group

Top