BERANI MATI UNTUK MENGABDI DIRI

Penulis : Bigman Sirait | Tue, 29 June 2010 - 11:33 | Dilihat : 3149
Pdt. Bigman Sirait
Reformata.com - ESTER adalah nama yang tak asing di Alkitab. Dia hidup di era pemerintahan raja Ahasyweros, raja kerajaan Persia. Hidup sebagai orang buangan, Ester justru menjadi ratu yang tak terduga. Perjalanan hidup Ester bagaikan dongeng Cinderela. Menjadi ratu, Ester banjir fasilitas. Tinggal di puri karena telah menjadi seorang putri, Ester juga selalu dilayani banyak dayang-dayang. Sebuah perubahan hidup yang sangat dramatis. Namun yang menarik, Ester tak pernah lupa diri.     Di kenikmatan istana, ternyata, di luar sana kehidupan sesama Yahudi terancam rencana mengerikan dari Haman, seorang petinggi istana yang tak suka dengan sikap Mordekhai. Haman yang diberi kedudukan ekstra oleh raja sangat gila hormat. Sehingga ketika Moredekhai tak rela sujud menyembah kepadanya, ditambah hasutan beberapa penjilat, maka Haman sangat berambisi untuk menghabisinya. Namun, untuk menunjukkan betapa hebatnya dia, maka Haman tak hendak hanya membunuh Mordekhai saja, tetapi juga semua orang Yahudi.  
Rencana pembumihangusan ini tercium oleh Mordekhai. Esther yang adalah sepupu Mordekhai (anak dari dari saudara ayahnya), segera dikabari tentang rencana busuk Haman. Mengingat kuatnya posisi Haman, satu-satunya cara adalah memohon kebijakan raja. Ester harus menghadap kepada raja. Namun apa daya, peraturan istana sangat jelas tentang hal ini. Ratu tak boleh menghadap jika tak dipanggil oleh raja. Kematian adalah hukuman atas sebuah sikap yang dianggap lancang pada waktu itu. Sebuah situasi yang sangat genting. Tak ada jalan lain, kecuali menghadap raja. Namun di sisi lain, menghadap raja tanpa diminta adalah kematian. Betapa peliknya, karena nyawa seluruh orang Yahudi menjadi taruhannya.
Mordekhai meminta Ester untuk mengambil sikap yang tegas  di situasi yang genting itu. Ester meminta semua orang yang dekat dengannya yang ada di puri, dan semua orang Yahudi di luar istana untuk berpuasa dan berdoa. Sangat luar biasa hebat keputusan yang dibuat Ester, yaitu menghadap raja, apa pun risikonya. “Jika aku harus mati, maka aku siap mati,” ucap Ester. Dibulatkannya hati untuk menghadap raja dengan konsekuensi kematian. Ester tak terlena dengan posisi tinggi sebagai ratu istana. Ester merasa bertanggung jawab penuh akan ancaman terhadap saudaranya sebangsa. Dipertaruhkannya nyawa, bukan mencuci tangan dan menganggap itu tragedi. Sebuah sikap langka dalam dunia kepemimpinan. Dan terasa semakin luar biasa mengingat Ester adalah seorang wanita.  
Semakin hari, semakin mudah kita menemukan pemimpin berwajah seribu. Yang selalu berkata manis, tapi tak terlihat di tindakan nyata. Pemimpin yang selalu berlindung di balik anak buahnya, dan mengorbankan anak buah jika diperlukan. Demi kursi mereka, anak buah selalu menjadi tumbal. Mereka tidak peduli apa yang terjadi pada orang di sekitarnya. Jika perlu dia akan mengadu domba bawahannya demi keamanan posisinya. Dipeliharanya suasana saling curiga, agar dia dapat tetap memerintah. Jangankan nyawa, sedikit kerugian harta saja mereka tak rela. Hidup semakin hari semakin kehilangan nilai, manusia tak lagi menghargai arti setia kawan. Yang lebih ironis adalah ketika pemimpin dengan entengnya mengeluarkan pernyataan seakan dia bersih, anak buahnya yang kotor. Padahal dalam kenyataannya si anak buah bertindak atas permintaan sang pemimpin.  
Mereka cuci tangan seperti Pilatus yang oportunis. Tahu kebenaran, tapi keuntunganlah yang diperhitungkan. Kebenaran dikorbankan demi materi dan kedudukan. Ester berhak untuk diam seribu bahasa. Dia bisa dan bebas memilih tak ikut campur. Tapi dia juga adalah seorang yang tahu untuk apa dia ada di sebuah posisi. Inilah yang tak dimiliki oleh banyak pemimpin masa kini. Para pemimpin kehilangan tujuan tertinggi, yaitu memimpin untuk memanusiakan manusia. Dalam konteks sebuah negara untuk kesejahteraan rakyatnya. Pemimpin masa kini hanya memandang kursi kekuasaan sebagai waktu untuk mengumpulkan kekayaan, dan mengumbar kepuasan. Rakyat hanya dijadikan isu politik. Rakyat hanya menjadi bagian dalam pembicaraan tapi tak mendapatkan haknya sebagai warga negara. Bahkan rakyat seringkali dipinggirkan atas nama pembangunan negara. Kesejahteraan untuk rakyat hanyalah wacana yang tidak pernah menjadi nyata.  Pernyataan manis dalam berbagai pidato, baik resmi maupun tidak, tak lebih dari basa- basi yang kurang bernilai.  
Ester patut untuk menjadi perenungan para pemimpin agar tak menggemukkan diri dan membuncitkan perutnya, dan saat bersamaan melupakan rakyatnya. Pemimpin jangan hanya menjadi penceramah tapi juga melakukan apa yang seharusnya. Ester mendemonstrasikan semuanya. Makan minum ditundanya, nyawa dipertaruhkannya demi keselamatan orang banyak. Dia tak mengambil keuntungan, tapi memberi keuntungan. Itulah seorang pengabdi sejati. Pemimpin yang bisa dijadikan idola rakyat. Dia tak memanfaatkan situasi untuk citra diri, melainkan mengabdikan diri. Bahkan dalam ranah keagamaan pun seringkali terjadi manipulasi yang menyedihkan. Pemimpin dengan sejuta kata tentang melayani, namun tak pernah terlihat terlibat seutuhnya. Ada foto yang sangat menyentuh, namun itu hanya sampai di sana. Belum lagi kesan hebat tentang mengurusi orang miskin, namun ternyata bukan untuk memberi diri. Mereka ada di antara orang miskin justru dengan mengharapkan keuntungan bagi diri.
Mencari pemimpin yang mengabdikan diri memang tak sederhana, apalagi menempatkan pengabdian sebagai harga diri. Ya, pengabdian yang sejati seharusnya adalah harga diri seorang pemimpin. Seorang pemimpin akan merasa tidak berarti jika dia tidak berani mengabdikan diri. Menjadi pemimpin berarti keputusan untuk berbagi diri, lewat pengabdian. Ester menjadi model yang pas bagi ukuran pengabdian pemimpin masa kini, baik dalam konteks sosial politik, organisasi atau negara, maupun kepemimpinan agama. Pengabdian harus dijadikan kebanggan dan kepuasan penca-paian. Untuk itu pemimpin tak layak untuk berhitung apa yang sudah dilakukannya, melainkan berkon-sentrasi pada apa yang masih perlu dikerjakannya. Dengan demikian, maka dalam sepanjang kepemim-pinannya pasti akan terukir berbagai prestasi bernilai tinggi.
Kepemimpinan yang mengabdi merupakan ekspresi ketulusan hati seorang pemimpin. Ini juga merupakan kesadaran intlektual akan apa yang menjadi tujuan kepemimpinan, yakni pengabdian. Itu sebab tidaklah mengherankan jika karya karya besar dalam kehidupan ini lahir dari tangan para pemimpin yang berjiwa pengabdi. Mereka menjadi gelombang perubahan yang sangat ber-pengaruh pada jamannya. Apakah yang dapat dibanggakan dari seorang pemimpin, jika bukan sebuah pembelajaran bagi yang dipimpinnya. Dalam konteks ini yaitu jiwa pengabdiannya. Memang tak dapat dipungkiri, pemimpin yang mengabdi tak akan pernah mengumpulkan tumpukan materi yang berlebih. Dia tak akan miskin karena pengabdian, tetapi juga tidak akan menjadi sekaya yang mungkin bisa digapainya sesuai kemampuan yang ada. Karena hidupnya adalah pengabdian. Kepemimpinannya adalah bagaimana dia memberi diri, mengabdikan diri, sebagai nilai hidup tertinggi. Dia pemimpin yang punya harga diri, dan juga kepuasan diri. Ya, dia akan merasa puas jika bisa menjadi berarti bagi orang di sekitarnya, mengubah sekelilingnya, menyinari mereka dengan gairah hidup baru. Semangat seperti ini harus ditumbuhkembangkan dalam dunia kepemimpinan masa kini.  
Mari menatap diri, dan belomba untuk berprestasi dalam pe-ngabdian yang tulus. Impikanlah untuk mengakhiri hidup ini secara terhormat dengan cara menjadi orang yang dikenang karena pengabdian yang telah kita berikan. Bukan sekadar pujian yang dinantikan, melainkan pengakuan dari ketulusan orang di sekitar, betapa kehadiran kita telah menumbuhkan harapan. Selamat untuk mengabdikan diri, dengan mengingat limpahan kasih ilahi dalam kehidupan ini, yang telah mencurahkan kasih bagi kita. Soli Deo Gloria.v     

Komentar

Top