Lihat Aku, Teladani Aku

Pdt. Bigman Sirait

Reformata.com JUDUL di atas, sekilas tampak sombong atau biasa kita sebut takabur. Ya, terasa sangat percaya diri. Namun jika ditelusuri lebih mendalam, apa yang diucapkan Rasul Paulus ini adalah fakta yang tak terbantah. Dia tidak sedang mengatakan cita-citanya, dan meminta untuk diteladani. Atau sekadar berbagi visi, dan menantang orang untuk mengikutinya, namun di balik semuanya ada motivasi yang tidak murni. Paulus, dalam wibawa kerasulannya menggugat jemaat Korintus agar hidup sebagaimana harusnya kehidupan seorang Kristen.
Ada apa dengan jemaat Korintus? Jemaat di sini ternyata dipenuhi dengan pertikaian. Di pasal 1, Paulus dengan jelas mengatakan mereka masih duniawi. Tragisnya, pertikaian mereka terasa sangat bodoh, karena meributkan soal kelompoknya. Ada yang merasa unggul karena menjadi pengikut Apolos, Kefas, atau Paulus. Bahkan mereka ada yang menyebut diri sebagai pengikut Kristus, namun dalam semangat pertikaian yang sama. Ya, terasa sangat ironis, karena orang percaya yang semestinya menjadi satu tubuh Kristus ternyata terpecah belah. Belum lagi perasaan unggul satu dengan yang lainnya, ketika mereka menyebut karunia yang mereka punyai lebih hebat. Ada yang merasa unggul karena berbahasa Roh, sementara yang lain mengklaim diri sebagai penubuat hebat.
Luar biasa kekacauan mereka, karena karunia Roh pun dianggap sebagai kelebihan diri. Paulus dengan keras mengatakan bahwa ada berbagai karunia Roh tetapi satu Roh. Ya, semua karunia datang dari Roh yang satu, bagaimana mereka bisa terpecah. Karunia Roh dikaruniakan oleh Roh, bagaimana mereka bisa sombong dan merasa hebat dari yang lainnya. Bahkan menggunakan karunia Roh secara tidak tertib, hanya untuk menunjukkan keunggulan diri dan bukan kemuliaan ilahi. Dalam pasal 12 dan 14 Paulus menguraikan semuanya secara jelas dan gamblang. Dan dalam pasal 13, Paulus mengingatkan yang terutama, dan terpenting, dalam kehidupan orang percaya adalah buah, yaitu kasih. Gilanya, jemaat Korintus merasa hebat karena penuh karunia namun tidak ada buah kasih di sana. Mereka merasa hebat sendiri dan berlomba “show karunia”. Sebuah ironi yang ternyata tidak pernah berhenti.
Di tiap generasi selalu ada pertikaian dan kesombongan atas rasa unggul yang tidak jelas, dan sangat bodoh dalam perspektif iman Kristen yang sehat. Cobalah simak, masih saja ada orang Kristen masa kini yang meributkan soal cara baptisan, bukannya makna baptisannya. Sehingga baptisan kehilangan makna dan hanya didominasi oleh keributan cara. Orang Kristen bisa terpecah hanya oleh sebuah cara, termasuk cara menyanyi, tepuk tangan atau tidak. Dan merasa kristiani padahal faktanya terpecah. Belum lagi soal bahasa Roh, yang dengan jelas Paulus telah menjelaskannya termasuk tata tertib pada jemaat mula-mula yang memang belum memiliki Injil seperti jemaat masa kini.
Jemaat masa kini telah memiliki Injil yang lengkap, yang mestinya mengerti semuanya dengan baik. Namun ternyata, sama saja seperti jemaat mula-mula yang belum memiliki injil yang tertulis dan terkumpul lengkap (sedang berproses). Tidakkah, kenyataan ini sangat memalukan. Sudah seharusnya orang Kristen mawas diri dan introspeksi diri. Bagaimana mungkin ajaran Injil yang sudah lengkap harus dipinggirkan hanya oleh soal karunia yang mestinya domain Roh Kudus, bukan domainnya para pemimpin Kristen. Tapi tampaknya para pemimpin umat berlomba menjadi agen tunggal, bahkan cenderung memerankan diri sebagai “Roh Kudus”, dengan mengobral tumpangan tangan bagi yang merindukan kuasa. Apakah Roh Kudus sudah tak lagi mampu bekerja pada diri-Nya sendiri? Sama seperti ketika Roh memberikan kuasa pada para rasul, di Kisah Para Rasul 2. Tak ada tumpang tangan di sana. Dan juga para rasul tak pernah sembarang menumpangkan tangan.
Itu sebab, ketika Simon si penyihir (Kisah 8) minta ditumpangi tangan agar mendapat kuasa, yang didapatnya adalah teguran keras dari Rasul Petrus. Sekarang hal itu tak ada lagi. Simon sihir tetap ada dan meminta kuasa. Yang tak ada ialah Petrus yang menegurnya. Maklum sekarang semua serba diobral, sampai-sampai kuasa karunia Roh pun diperlakukan sama. Simon si penyihir berganti baju sebagai orang yang hidupnya penuh kegelapan, tapi mengklaim diri penuh kuasa ilahi. Nah, terguran rasul Paulus sangat pas, kalian masih duniawi. Berbaju Kristen tetapi bersemangat dunia, sungguh memalukan. Kuasa diteriakkan bahkan diobral, tetapi kasih yang murni tak terlihat lagi. Semua hanya berlomba tentang “aku”. Semua berlari untuk menggapai berkat ilahi, yang diterjemahkan sebagai tambah kaya (kuantitas), bukan tambah murah hati (kualitas). Hidup yang sehat, bukan hidup yang benar. Serba aksesoris. Dan lebih gila lagi, itu bukan hanya gairah para umat, tetapi juga menjadi gairah para pemimpin umat. Semakin hari semakin sulit untuk mendengarkan pemimpin yang berkata “Lihat aku, teladani aku”, dalam kehidupan kristiani yang total dan benar.
Ya, Paulus tak pernah bicara soal angka rupiah. Paulus tak pernah bicara soal perpuluhan dan berkat berganda yang akan diterima kembali. Dan yang lebih terang lagi, Paulus tak naik kereta kuda sekalipun banyak pengusaha kaya yang menjadi orang percaya karena pelayanannya. Paulus hidup bersahaja, alias belajar cukup. Dia mengumpulkan uang bukan untuk diri tetapi pelayanan. Bahkan Paulus mengatakan, adalah haknya sebagai rasul untuk mendapatkan upah dari pemberitaan Firman, namun bagi dia upah sejati adalah, jika memberitakan Injil tanpa upah (1 Korintus 9:18).
Ah, luar biasa sekali. Paulus bukan tipe rasul parlente dengan pakaian yang selalu bermerek sesuai jamannya. Dia juga tak memotivasi jemaat untuk memberi tumpukan materi, untuk kekayaan diri. Bahkan Paulus menegur jemaat, ketika mereka hidup berkecukupan, namun saat yang bersamaan mengabaikan saudara lain yang membutuhkan. Paulus juga mengajarkan memberi dengan sukarela, bukan memberi supaya menerima kembali berkali-kali lipat. Sebuah teori dagang dengan Tuhan, dan ini biasanya dilakukan oleh orang yang tidak mengenal Tuhan, dengaa memberi persembahan sebagai sesajen agar diberkati oleh “tuhannya” (ini dianut oleh banyak aliran non-Kristen). Paulus juga menekankan bahwa memberi adalah dengan semangat menciptakan keseimbangan. Paulus juga menegur yang pelit memberi, dengan berkata bahwa Tuhan mampu memberkati dia. Artinya, hanya orang bodoh yang berpikir dengan memberi dia akan miskin, tetapi yang lebih bodoh lagi adalah ketika dia berpikir, dengan memberi maka Tuhan akan mengembalikan berkali lipat lagi.
Bagaimana tidak, betapa bodohnya orang yang berhitung-hitung tentang berkat yang akan dikembalikan Tuhan, padahal Tuhan sudah memberikan nyawa-Nya untuk menebus dosa umat-Nya. Bukankah hanya orang yang superbodoh, atau superbebal saja, yang mampu melakukan hal seperti itu? Seharusnya kita bersyukur bisa memberikan persembahan, sebagai kesempatan bersyukur atas anugerah keselamatan yang Tuhan berikan. Cobalah tenang dan pikirkan dengan bijak. Sama seperti orang Korintus, bagaimana mungkin mereka ribut dan terpecah, padahal Kristus mati untuk mereka disatukan. Bagimana mungkin mereka bisa merasa hebat atas karunia karunia Roh, padahal itu dianugerahkan untuk melengkapi tubuh Kristus, bukan untuk memecah belahnya.
Paulus telah menjadi teladan dalam pelayannya. Dia tegas tak mengenal kompromi soal kebenaran. Dia lurus dan tak mengambil keuntungan diri dari pemberitaan Injil. Dia sangat terbuka dan siap diuji. Paulus telah rasul yang patut diteladani dalam berbagai aspek. Sebuah koreksi sekaligus tantang agar gereja masa kini berjuang di lini yang sama. Dapat diteladani dalam kejujuran, keuangan, kesungguhan, kecerdasan, kepemimpinan, termasuk kehidupan keluarganya.
“Lihat aku, teladani aku”. Bilakah itu meluncur dari kehidupan pemimpin umat, dan umat berkata, “Ya, bapak atau ibu telah menjadi teladan bagi kami, bagaimana seharusnya hidup sebagai orang percaya”. Mari bertanding dan jangan pernah lelah, agar kita semua dapat menjadi teladan. Selamat menjadi teladan yang terpuji dan teruji keutuhannya.v

Recommended For You

About the Author: Pdt Bigman Sirait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *