Bertumbuh Dalam Berelasi

Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

“Submit to one another out of reference for Christ” (Ephesian 5:21)

Reformata.com MANUSIA adalah makhluk yang berelasi: baik dengan sesama, dengan Allah mau pun dengan lingkungannya – dengan keluarga, dengan atasan, dengan bawahan, dengan teman, dengan hamba Tuhan, dengan anak, dll. Masalah relasi ini demikian utama sehingga Alkitab memang berbicara praktis hanya masalah-masalah hubungan ini.
Dalam hidup sehari-hari, kita bisa melihat kemampuan berelasi ini yang menentukan sukses-tidaknya hidup seseorang. Para ahli pada umumnya setuju kecerdasan seseorang adalah komponen kecil, sering disebut 20%, untuk men-dukung keberhasilan seseorang; sisanya ditentukan oleh kecer-dasan-kecerdasan lain yang sangat mempengaruhi kemampuan orang berelasi dengan pihak lain seperti kesadaran diri, ketrampilan berelasi, mengelola stres, kemam-puan beradaptasi dan mengelola mood. Jika demikian seharusnya kita, sebagai orang percaya, perlu terus mengembangkan kemam-puan kita dalam berelasi.
Hukum Maslow bisa kita coba pakai untuk menjelaskan mengapa seseorang berelasi. Alasan paling ‘rendah’ orang berhubungan satu dengan yang lain adalah untuk memenuhi kebutuhan fisiologis seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal. Ketika kebutuhan fisiologis seseorang sudah terpenuhi, maka dia berelasi untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu rasa aman, mendapatkan lingkungan sosial, kebutuhan dihormati dan yang paling tinggi adalah ‘aktualisasi diri’, yaitu dia berelasi karena jati dirinya.
Tanpa kesadaran diri, pimpinan Tuhan dan ketaatan yang menuntut pengorbanan, kita akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusiawi kita dalam berhubungan dengan orang lain. Ini berarti berfokus pada pemenuhan kebutuhan pribadi apa pun bentuknya. Kita maunya diperhatikan dan didengar dan tidak dengan tulus mendengar, dan memperhatikan orang lain. Kalau kita sudah berumur dan apalagi seorang pimpinan atau pemilik perusahaan sungguh akan sulit kita menghargai pendapat orang lain, termasuk di gereja. Seperti kata Martin Buber Yahudi, seorang filsuf yang hidup tahun 1878 – 1965, banyak orang membangun sikap relasi I – It, yaitu relasi ‘subyek’ ke ‘obyek’. Orang lain diperlakukan sebagai obyek tidak sebagai subyek. Kita tidak memperlakukan orang lain sebagai sesama manusia yang memiliki pribadi. Ketika berkomunikasi tidak terjadi dialog tapi komunikasi satu arah yang harus diterima oleh pihak lain.
Relasi I – It bahkan kita terapkan kepada Tuhan. Coba perhatikan doa-doa kita, yang minta Tuhan lakukan ini dan lakukan itu. Kita tidak membawakan sikap yang seharusnya terhadap Dia sebagai pribadi pencipta kita, yang punya kehendak dan rencana untuk hidup kita. Kita tidak bertanya apa kehendak dan rencana-Nya bagi kita dan apa yang Dia mau kita lakukan.
Alkitab memberikan arahan yang jelas bagi umat kenapa kita berelasi, yaitu agar kita mengasihi Allah dan sesama (Matius 22: 37-39). Prioritas Alkitab adalah Allah, manusia dan ‘barang’. Ketika berhubungan dengan sesama, Alkitab memerintah-kan kita untuk mengutamakan orang lain daripada diri sendiri (Fil 2: 3). Alkitab berbicara agar dalam melakukan segala sesuatu, termasuk berelasi dan berkomunikasi, seperti kepada Kristus (Kolese 3: 23). Kita diminta merendahkan diri dan ‘meninggikan’ pihak lain dalam Kristus (Efesus 5: 21).
Perintah ini bahkan lebih tinggi daripada pemikiran Martin Buber tentang sikap alternatif lain dalam berelasi yang dia sebut sebagai I – Thou. Dalam sikap ini, manusia memandang orang lain sebagai subyek bukan obyek. Dalam berkomunikasi terjadi saling mendengar, saling memperhatikan, saling hormat dan dialog. Dalam hubungan pernikahan I – Thou, pasangan saling mengasihi; tidak misalnya, suami memandang istri sebagai lebih rendah dan menuntut dirinya diperhatikan, dilayani, dipuaskan kebutuhan-kebutuhan-nya; sebaliknya, dia tidak melakukan apa yang dia tuntut bagai pasangannya.
Efesus 5: 21 yang kita kutip di atas memerintahkan kita saling merendahkan diri, artinya mengutamakan yang lain di dalam Kristus. Ketika dua pribadi tidak memiliki kedewasaan yang sama, maka pribadi yang lebih dewasa yang diminta melakukan bagiannya. Jika demikian sikap I – Thou bisa kita pahami bahwa ketika saya berelasi atau berkomunikasi dengan pihak lain, saya harus memandang seperti sedang berkomunikasi dengan Kristus. Saya harus melihat pihak lain seperti Kristus memandang dia. Bagi Dia saya harus memberikan yang terbaik ketika berelasi.
Dengan dasar kasih, maka ketika berelasi saya harus bersikap sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan tapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharap segala sesuatu dan sabar menanggung segala sesuatu (1 Kor 13: 4-7). Secara alami kita tidak bisa lakukan tapi hanya dengan kuasa Roh Kudus kita bisa jalani. Tidak mudah tapi dengan Tuhan segalanya mungkin. Tuhan memberkati.v

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *