Sudut Pandang (SUP)

Ahli Taurat Yang Ahli Menjerat

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Tue, 31 August 2010 - 10:27 | Dilihat : 3322
Tags : Ahli Taurat

Pdt. Bigman Sirait

Follow Twitter: bigmansirait

Reformata.com - MARKUS 12: 38-40 mengisahkan sindiran keras Tuhan Yesus terhadap ahli Taurat. Ahli Taurat yang memang ahli soal Taurat dilukiskan sebagai orang yang selalu berpenampilan rohani. Ya, jubah keimaman selalu menempel pada tubuhnya, dan berjalan ke sana ke mari untuk sebuah pengakuan. Mereka “sangat hadir” di dalam rumah ibadat, tak ada kata absen dalam kamus mereka. Dan, soal doa, mereka luar biasa. Berdoa panjang-panjang, dan menyusun kata sedemikian rupa. Betul-betul penampilan yang sangat rohani, tapi bukan karena kehidupan batiniah mereka memang sangat rohani, melainkan upaya memikat umat agar terikat. Mereka mengatur penampilan agar dihormati dan diakui sebagai rohaniwan yang baik. Semua serba asesoris, sangat jaim (jaga imej).
Berkhotbah, mereka manfaatkan untuk mempengaruhi umat, dan menjadi alat untuk berkuasa. Seribu satu cara mereka bersilat kata, sehingga khotbah tampak bagus, padahal keropos di dalam. Tak ada ajaran yang benar di sana, yang ada hanya ajaran manusiawi, mengkultuskan si pemimpin dan menjadikan pengikutnya “gelap mata”. Para ahli Taurat ini tak sedikit yang mendapat pengikut. Mereka rajin memojokkan umat yang kritis, dan jika perlu diletakkan pada posisi perusak agama. Mengucilkan dan memusuhi umat yang kritis menjadi keahlian mereka juga. Maklum, bagi para ahli Taurat, umat yang kritis adalah kerikil yang menghalangi jalan mulus mereka dalam mendaur keuntungan pribadi. Karena bukan rahasia lagi, agama telah menjadi tempat mengeruk kekayaan yang efektif. Dan ini sudah berlangsung sejak dulu kala. Selalu ada nabi yang diutus Tuhan untuk mengoreksi, tetapi selalu pula praktek ini berlanjut dan bahkan semakin menggila.
Betullah apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus: “Memang harus ada penyesat, tetapi celakalah mereka yang menjadi penyesat”. Ini menjadi gambaran jelas tentang perilaku rohaniwan yang selalu berusaha membalut diri dalam perilaku rohani yang saleh, tetapi penuh kebusukan di dalamnya. Itu sebab, tanpa segan-segan Tuhan Yesus menyebut para ahli Taurat sebagai penipu lewat doanya, dan penghisap hak janda miskin. Mereka gila hormat, mengkultuskan diri sendiri, dan menyebut diri sebagai biji mata Allah yang tak tersentuh. Mengaku sebagai yang hamba yang diurapi, dan menakuti jemaat yang coba kritis.
Ironis, banyak jemaat yang mengamininya, karena mereka tak pernah belajar mendalami pesan Alkitab yang sesungguhnya. Mereka termakan oleh khotbah pendeta tanpa pernah memeriksa-nya di dalam Alkitab. Ahli Taurat berhasil menanamkan pengaruhnya ke dalam kehidupan umat. Tuhan Yesus mengkritik mereka dengan sangat keras dan mengingatkan umat agar tak terjebak jerat mereka. Jika Tuhan Yesus sampai menasihatkan umat agar berhati-hati terhadap ahli Taurat, betapa seriusnya hal ini. Sekaligus betapa rusaknya agama dan pusat ibadah. Rohaniwan, pemimpin agama, telah menjadi penjerat yang paling hebat. Mereka tega pada janda miskin, dan tak perduli pada yang lainnya. Jutaan alasan selalu mereka tampilkan, dan membungkus erat kebusukan dirinya. Apa yang dilakukan Tuhan Yesus menjadi koreksi penting terhadap kehidupan agama saat itu. Sikap Tuhan Yesus yang tegas dan menelanjangi kebusukan, harus menjadi model yang perlu diteruskan oleh para pencinta kebenaran. Sekalipun itu pasti menjadi kegelisahan bagi para munafikin keagamaan.
Di era ini telah terjadi kemerosot-an rohani yang sangat meng-gelisahkan. Lihat saja semakin beraninya orang menjadi rohani-wan yang tak beretika. Bersem-bunyi di balik khotbah, karena perilaku mereka jauh dari yang Tuhan ajarkan. Semakin panjang barisan rohaniwan yang menjadi pengkhotbah dengan mengandal-kan kefasihan lidah mereka. Maklum, di saat yang bersamaan umat memang menyukai khotbah layaknya sebuah entertainment. Situasi ini menjadi titik krusial kemerosotan gereja. Pengkhot-bah fasih lidah, dan umat si pemanja telinga menyatu menjadi persekutuan semu. Umat tak lagi kritis, tak mencermati kehidupan perilaku atau apa yang disebut Alkitab sebagai buah kehidupan. Sangat jelas Alkitab berkata: “Pohon dikenal dari buahnya”, atau sederhanya orang dikenal dari perbuatan hidupnya, terlebih lagi pengkhotbah. Alih-alih memahami, malah semua bersembunyi di balik kata-kata: “Itu urusan masing-masing dengan Tuhan”. Entah bagaimana caranya manusia bisa berurusan dengan Tuhan, padahal berurusan dengan sesama manusia saja tak bisa. Betul sekali apa yang dikatakan Alkitab: “Bagaimana engkau dapat berkata mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan, semen-tara saudaramu yang kelihatan kamu benci”.
Ah, betapa munafiknya gereja seperti ini. Seharusnya kehidupan gereja seperti benda di dalam estalase yang terbuka: Bisa, dilihat, dirasakan, diukur dan diuji. Namun dalam kenyataan, bukannya berto-bat dan mengubah diri, gereja justru berusaha menyembunyikan diri dan membangun tembok-tembok palsu. Itu sebab para ahli Taurat, juga bukan bertobat, bahkan berpikir bagaimana caranya membungkam Tuhan Yesus. Ahli Taurat yang asli Yahudi, yang sangat benci pada penjajah Romawi, bisa berdamai demi menghabisi Tuhan Yesus. Mereka menjebak, memfitnah, hingga menyalibkan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus yang seharusnya mereka dengar, mereka taati, karena memang Dia benar, malah dihabisi.
Ingat kejahatan tetap jaya, kepalsuan semakin menjadi-jadi. Tuhan Yesus mati di kayu salib, tapi ahli Taurat tetap menjadi penguasa Bait Allah, penguasa sistem keagamaan yang ada. Kebusukan terus merajalela seakan tak ada ujungnya. Ahli Taurat itu ternyata tak hanya ahli dalam hal Taurat tetapi juga ahli untuk menjerat umat. Mereka mengeduk keuntungan besar dari Bait Allah, memeras umat atas nama perpuluhan, dan terus memperka-ya diri sendiri. Mereka semakin jaya sementara umat semakin terpu-ruk. Gaya hidup para ahli Taurat semakin wah, pakaian mewah, fasilitas ekstra, hingga kekuasaan yang sangat besar. Mereka telah menjadi virus yang merusak umat Allah. Hidup mereka sama sekali tak memiliki integritas. Mereka tak peduli pada asas kepatutan sebagai seorang imam. Tak lagi tersisa rasa bersalah, apalagi rasa malu. Sayangnya, situasi itu tak berhenti di sana, tetapi terus hingga di sini, di era kita ini. Umat semakin bingung mencari model hidup yang benar, yang sesuai dengan apa yang diajarkan Alkitab. Umat hanya mendengar kata tanpa melihat wujud nyata. Saat ini, ironis, dengan mudah kita akan mendapatkan contoh yang salah. Contoh yang benar semakin langka. Semua kita tanpa terkecuali, baik pemimpin maupun umat, dituntut untuk bisa menjadi model yang benar di dalam kehidupan ini. Kita harus berani hidup benar dengan segala konsekuensi yang menanti. Berani mengoreksi yang salah sekalipun bisa jadi malah tersingkir.
Penegakan kebenaran tak pernah berbiaya rendah. Untuk kebenaran, Tuhan Yesus mengor-bankan nyawa-Nya, siapkah kita? Jika tak berani berkorban jangan pernah membayangkan kebenar-an akan mewarnai semua gereja. Ahli Taurat, ahli menjerat, bukan-lah sebuah kebanggaan melainkan ironi, begitu juga sekarang. Umat harus hidup dengan integritas yang teruji dalam perjalanan waktu dan di berbagai kondisi. Sementara para pemimpin yang berjalan salah, yang hanya mencari keuntungan diri, kiranya kembali ke jalan yang benar. Atau Anda akan terus memainkan peran ahli Taurat, dan terus jual-beli kebe-naran untuk tumpukan materi. Bangga karena semakin kaya, bukan karena semakin benar. Bangga karena jemaat terus bertambah, bukan perbuatan baik yang nyata. Bangga karena gedung besar, bukan karena berkorban besar.
Awas, jangan terjerat agar hidup tak menjadi pecundang. Semoga kita menjadi ahli, karena mengerti dengan baik kebenaran Firman, dan melakukan dengan taat tiap tuntutan Tuhan, dan tentu saja berani setia sepanjang hayat. Jangan sampai menjadi pemimpin agama yang ahli menjerat umat, itu bahaya yang mengerikan. Jangan lupa, pada akhirnya Yesus Kristus kepala gereja akan menggugat dan menghukum semua kepalsuan. Ingat, menjerat umat, akan membuat diri terjerat.v

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top