Sudut Pandang (SUP)

Korupsi dan Basa-basi

Penulis : Pdt Bigman Sirait |
Korupsi dalam pengertian sempit adalah suatu tindakan seseorang yang menggelapkan atau menyelewengkan uang yang bukan miliknya. Uang tersebut bisa milik negara, perusahaan, yayasan, lembaga, dan sebagainya. Korupsi bukanlah perilaku baru bagi manusia, namun juga perilaku yang tidak (akan) pernah habis. Nabi Musa, ribuan tahun yang lalu dalam Ulangan 16:19, berkata : Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memurtabalikkan perkataan orang-orang benar.

Korupsi bukan hanya monopoli oknum pegawai negeri, politikus, pejabat, pengusaha, karyawan, tetapi juga rohaniawan yang kehilangan mata rohani nya. Amos, dalam teguran yang sangat keras (pasal 2- 4), membuka kebusukan para pemimpin politik dan imam yang memanipulasi persembahan dan perpuluhan untuk kepentingan diri sendiri. Mereka memperjualbelikan kebenaran, memeras orang miskin. Hati nurani mereka tidak lagi bersuara, yang ada cuma semangat dan konsentrasi tinggi untuk melakukan korupsi. Sungguh suatu kebejatan moral yang sangat menggelisahkan!

Amos, yang sejatinya seorang peternak, muncul dengan sangat luar biasa dan tampil dengan keberanian yang luar biasa pula. Ia berbicara pada kerajaan Israel di utara dan juga Yehuda di selatan. Dia menelanjangi ketidakadilan dan ketidakbenaran yang merajalela di jamannya suatu tindakan yang langka di era kita. Kita membutuhkan tokoh seperti Amos yang bukan hanya sekadar seorang rohaniawan tetapi juga bersih kelakuannya.

Indonesia, negeri dengan sejuta misteri korupsi, mencatat prestasi tinggi di ajang korupsi, bukan saja untuk tingkat Asia bahkan tingkat dunia. Para pemimpin terus berpacu untuk berebut dan berbagi jarahan. Mereka bukannya memikirkan nasib rakyat yang semakin menyayat, malah berlomba kaya dan kuasa. Kulit mereka semakin tebal bahkan melebihi kulit badak. Saking tebalnya, kulit mereka sudah kehilangan fungsi sebagai indera perasa. Kulit yang sudah kebal rasa itu bahkan dijadikan tameng tangguh untuk bertahan dari kritikan. Sangat menyakitkan, tapi itulah kenyataan.

Pada masa kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden, semua calon menjanjikan pemberantasan korupsi. Sebuah janji yang sulit dibedakan dengan mimpi. Mengapa? Jawabnya sederhana saja: Fakta sudah berbicara, di depan mata korupsi masih berlanjut bahkan bertambah. Fakta lain, secara nyata sudah terlihat bahwa dari dulu betapa sulitnya menyeret para koruptor ke pengadilan. Menggiring mereka ke meja hijau saja sudah sulit, apalagi sampai menjebloskan ke bui (penjara), tempat mereka yang sangat pas. Alhasil, bui hanya disesaki penjahat-penjahat kelas teri, bukan koruptor, si maling berdasi, penjahat kelas tinggi itu. Negara kita yang kaya, diperas habis oleh para penjahat elit itu. Harta karun yang terpendam di negeri ini hanya memperkaya sekelompok kecil orang yang tanpa rasa malu menyebut diri pula sebagai pembela ibu pertiwi.

Belum habis kisah sedih tentang para koruptor, dada kita semakin sesak saja menyaksikan sejumlah rohaniawan yang nuraninya sudah rusak. Mata hati mereka rusak karena silau dengan kilauan dunia. Pertikaian, perebutan kekuasaan antar-rohaniawanan, bukan lagi berita baru. Suara sumbang menyangkut pengelolaan dana gereja atau lembaga Kristen semakin nyaring gaungnya. Tidak sedikit pengusaha penyumbang mengungkapkan kekecewaanya karena merasa tertipu. Mereka kaget, sebab dalam benak mereka, aksi tipu-menipu itu hanya ada di dunia usaha, bukan di gereja. Sejauh ini, tidak terlihat tanda-tanda atau harapan akan adanya perbaikan. Yang terjadi hanya pembenaran diri, atau pemutar-balikan fakta. Maklum, harta dan kuasa rasanya sangat manis. Jadi seberapa besar pun rasa malu yang muncul, mereka tidak peduli. Bahkan tidak sedikit yang memperjualbelikan kemiskinan umat di pedesaan untuk mendapatkan dana, namun dana itu tidak sampai dalam jumlah yang utuh ke tangan yang berhak, karena sudah dikorupsi.

Ah, korupsi, membunuh hati nurani. Amos masa kini dituntut muncul untuk memberantasnya. Anda dan saya dituntut untuk mendemonstrasikan keberanian hidup bersih jauh dari korupsi (baca: menggelapkan uang kolekte atau sumbangan). Umat yang masih memiliki hati nurani dituntut berani menyuarakan suara kenabian. Jika belum sampai di pentas nasional, paling tidak tempalah keberanian itu di mana pun Anda berada. Beranilah bersuara. Pemerintah perlu dikritisi agar senantiasa bersih dari korupsi, dan itu adalah tugas mulia gereja.

Saat ini pemberantasan korupsi hanya ada dalam tataran diskusi dan bumbu manis kampanye. Pemberantasan korupsi tidak lebih dari basa-basi para elite, baik eksekutif maupun legislatif. Sementara lembaga yudikatif yang bertugas menegakkan supremasi hukum pun tidak luput dari godaan dan kenikmatan yang ditawarkan para petualang korupsi. Jadi jangan kaget jika di arena hukum ada yang disebut mafia peradilan: jual-beli hukum. Tapi, seperti diungkap di atas, gereja yang seharusnya suci pun ternoda virus korupsi.

Tampaknya situasi ini seperti benang kusut yang tidak jelas bagaimana mengurainya. Namun pengharapan tidak pernah habis. Pengharapan itu adalah Anda yang tidak seperti mereka. Dengan semangat menjadi garam dan terang dunia umat dituntut memainkan peran yang aktual dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keniscayaan membangun bangsa yang bersih bukan lagi sekadar mimpi. Selamat menjadi pemain, bukan komentator, apalagi sekadar penonton.

Komentar


Group

Top