Khotbah Populer

Ekspresi Iman Dalam Budaya

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Mon, 12 January 2015 - 10:30 | Dilihat : 2494
Ilustrasi Sumber Foto: Www.hidupkatolik.com

Pdt. Bigman Sirait

Follow     @bigmansirait

Budaya adalah suatu tatanan nilai/adat istiadat, yang mengatur kehidupan. Setiap kelompok masyarakat memiliki tatanan yang unik, yang khusus, dan sangat berkaitan dengan pengalaman hidup masyarakat itu, termasuk berhubungan dengan kehidupan seperti letak geografis, dan sebagainya, karena itulah terdapat perbedaan (budaya) antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok lain.   
Dalam budaya sering kita mendengar istilah tentang budaya tinggi.  Budaya tinggi akan menghasilkan suatu nilai hidup yang juga tinggi. Namun demikian, sekalipun seseorang berbudaya tinggi, tidak berarti ketinggiannya itu membuat suatu budaya dianggap benar atau dibenarkan.  Jika demikian, maka apa yang bisa dijadikan ukuran untuk menakar budaya itu benar atau tidak?  Atau bagaimana seyogyanya orang melihat budaya?  Budaya harus ditempatkan pada proporsi yang pas, dan alat ukura yang digunakan, tak lain  adalah Alkitab itu sendiri.
Sebab Alkitab sebagai kebenaran tertinggi memberikan gambaran yang patut ditelisik tentang apa itu budaya dan bagaimana relasi seharusnya manusia dengan budaya.  Alkitab mencatat bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang berbudaya, yang memuliakan Allah melalui karyanya. Kejadian 1: 27-28 begitu jelas mengatakan bagaimana Allah mencipta manusia dengan dianugerahi suatu karunia yang teramat besar, yakni diciptakan menurut gambar-Nya.  Ini adalah potensi berbudaya yang diberikan Allah kepada manusia, yang dicipta dalam suatu mandat yang harus dipenuhi, yakni: “Beranakcuculah  dan bertambah banyak; penuhilah bumi…….”
Benar, manusia memang memenuhi perintah untuk berkembang biak menjadi masyarakat dunia, yang berbudaya, yang diberi kemampuan mengelola dan menguasai dunia.  Namun sayangnya, manusia jatuh ke dalam dosa. Dan dosa merusak seluruh sistem pada kehidupan manusia, yang mengakibatkan manusia tidak lagi hidup memuliakan Dia.     
Sebagai makhluk berbudaya dan diberi potensi untuk berbudaya, Allah juga memerintahkan manusia untuk mengasihi sesama seperti dirinya sendiri (Mat 22: 39).  Di sini teramat terang, betapa  budaya yang Allah maksudkan sesungguhnya juga terkait erat dengan relasi manusia dengan sesamanya.  Budaya yang Alkitab maksudkan adalah konteks mengatur relasi itu sendiri, sehingga manusia saling menopang, bergotong-royong untuk menciptakan suatu sistem masyarakat yang penuh dengan cinta kasih. Suatu sistem masyarakat yang saling mendukung. Inilah panggilan budaya yang Allah ingin orang lakukan.  

Budaya dan Ekspresi Iman
Dalam kaitan dengan keberimanan seseorang, budaya itu sendiri adalah refleksi dari orang beriman. Dengan ini budaya patut dijunjung tinggi. Lagi-lagi bukan budaya yang biasa-biasa, apalagi budaya yang asal-asalan, tetapi budaya yang sepadan atau sejalan dengan Alkitab. Budaya yang mengekspresikan bahwa manusia adalah ciptaaan Allah yang harus mengabdi kepada Allah. Manusia yang harus tahu diri, tahu diuntung, bahwa dirinya adalah ciptaan Allah. Manusia yang seluruh nilai, tindakan, pemikiran, mesti diperbandingkan kembali dengan Allah. Dengan demikian, tindakannya mencerminkan kasih Allah, menjadi budaya hidupnya. Seseorang dapat disebut berbudaya ketika ia menjadi manusia yang sadar akan dirinya, mengabdikan diri pada Allah. Barang siapa sadar akan dirinya sebagai ciptaan Allah, mengabdikan diri pada Allah, pastilah tidak akan merusak sistem dan tatanan dunia. Kehidupannya tidak menjadi batu sandungan. Memang di antara kita banyak orang mengaku beriman, tetapi menjadi batu sandungan bagi orang lain, karena tidak bisa menghargai orang lain, tidak mau mendengarkan orang, dia tidak mampu bermasyarakat.
Padahal manusia sebagai makhluk berbudaya harus berelasi, menjadi masyarakat.  Orang tidak boleh hanya bisa beragama, tapi lupa berbudaya.  Kepada orang yang seperti ini Yakobus berkata: “Kalau engkau punya iman, aku punya perbuatan. Mana imanmu? Kutunjukkan perbuatanku.”

Bersaksi Melalui Budaya
Semakin tinggi budaya seseorang, makin tinggi rasa kebergantungannya pada orang lain. Semakin tinggi rasa kebergantungan pada orang lain, maka setiap orang semakin saling menghargai satu sama lain. Karena saling menghargai, maka dunia aman, tenang dan nyaman. Meski demikian, budaya perlu mengalami suatu pembangunan, pembaruan, dan terus diproses untuk selalu sepadan dan sejalan dengan kehendak Allah. Tuhan tidak menciptakan manusia dengan kemampuan liar, yang membuatnya tidak  mampu bermasyarakat. Tuhan menjadikan manusia dengan kemampuan untuk menerima perbedaan orang lain. Dengan demikian manusia mampu berelasi dengan orang lain, dalam kesadaran, dalam suatu ketergantungan.
Sebagai makhluk berbudaya, kita harus menjalin relasi yang baik dengan semua orang, termasuk yang bukan Kristen. Terlebih dalam kehidupan kita mungkin malah lebih sering berurusan dengan orang yang tidak kenal Tuhan, dan di sini kita harus bersaksi. Tapi yang namanya bersaksi tentu bukan dengan mengatakan, “Percayalah bahwa Yesus adalah Tuhan…….”  Yang justru sangat penting adalah bagaimana mereka melihat dan yakin bahwa kita benar-benar pengikut Yesus, tentu lewat perilaku kita. Maka jadilah murid Tuhan yang mendemonstrasikan hidup dan tatanan nilai yang luar biasa, sehingga dunia tidak lagi bisa membantah apa yang kita ucapkan.
?(disarikan oleh Slawi)

Lihat juga

Komentar


Group

Top