Konsultasi Theologi

Lho, Tuhan Kok Beranak?

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Wed, 1 December 2010 - 10:25 | Dilihat : 7695

Pdt. Bigman Sirait

Syalom Pak Pendeta. Sebagai warga minoritas, saya kerap mendapatkan pertanyaan (atau lebih tepat olok-olok) dari beberapa orang penganut agama lain.

Mereka antara lain paling suka mempersoalkan tentang ketuhanan Yesus. Misalnya mereka mempertanyakan hal-hal seperti ini: Masak Tuhan disalib? Tuhan kok disiksa? Masak Tuhan beranak? Masak orang Kristen Tuhannya ada tiga? Dan lain-lain...
Bagi saya pertanyaan-pertanyaan seperti di atas sering membuat hati jadi jengkel dan panas juga. Saya mengaku memang tidak tangkas dalam menjawab, meski iman dan akal saya sebenarnya bisa mengerti dan menerima ketuhanan Yesus yang oleh orang lain dipandang aneh dan tidak masuk akal itu. Pak Pendeta mungkin bisa memberikan penjelasan gamblang dan sederhana untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas? Terimakasih atas penjelasan Pak Pendeta.
Maria Devie
Tangerang

MARIA yang dikasihi Tuhan, gairah kamu untuk menjelaskan kebenaran sangatlah penting dalam keimanan. Mari kita coba meluruskan perma-salahan yang ada, dan coba memikirkan jawaban yang bijak atas setiap pertanyaan yang ada. Yang pertama, saya rasa perlu mengoreksi pemahaman tentang warga minoritas. Ini sebuah istilah yang amat sangat salah. Sebagai warga Indonesia, Anda bukanlah minoritas di negara Republik Indonesia. Karena bukan keagamaan yang membuat Anda menjadi seorang Indonesia, melainkan kebangsaan, dan negara kita menjamin kebe-basan beragama. 


Bahwa dalam prakteknya ada kekisruhan, itu adalah kegagalan kita dalam bermasyarakat, dan juga kegagalan para pemimpin kita dalam mengejawantahkan kehidupan berbangsa, yang adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia yang telah diatur dalam UUD 45 dan Pancasila sebagai falsafah bangsa. Kehidupan yang bermusyawarah dengan semangat berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Jadi, Kristen itu bukan minoritas melainkan bagian utama dari anak bangsa, karena itu kita harus hidup dengan pengabdian terbaik untuk nusa dan bangsa. Jadi tak perlu resah hanya karena berbeda agama, tetapi resalah jika hidup tak bertanggung jawab sebagai anak bangsa. Untuk yang ini, kita harus bertanding membuktikan bahwa sebagai umat Kristen kita adalah anak bangsa yang baik, benar, dan mengabdi penuh secara bertang-gung jawab. Menaati setiap undang-undang dan memelihara kebersamaan sebagai anak bangsa yang ada dalam kepelbagaian. Ingat semangat para bapak bangsa yaitu, bhineka tunggal ika.


Nah, sekarang soal ketuhanan Yesus. Menurut saya itu bukan wilayah untuk diperdebatkan me-lainkan dipersaksikan. Maksudnya, kita ceritakan dengan cara bertanggung jawab. Namun harus diingat dengan baik bahwa perde-batan selalu terjadi karena perbedaan persepsi. Kristen dan non-Kristen tidak mungkin memiliki satu persepsi, itu sudah pasti. Karena itu harus jelas dulu, ini sebuah diskusi atau hanya sekadar saling ejek. Awas jangan terjebak. Kalau diskusi boleh diteruskan, dan itu baik sekali. Dalam kesempatan ini tentu saja saya tidak akan memakai ayat-ayat Alkitab secara langsung, karena non-Kristen tidak menerima Alkitab sepenuhnya sebagai kebenaran sebagaimana yang kita pahami. Jadi arena diskusi kita harus seputar logika dan kebenaran struktural.  
Kenapa Tuhan kok disalib, penjelasannya harus memakai latar belakang yang jelas. Tuhan disalib, memang sesuatu yang sulit dipahami. konsep soal Tuhan kan mahakuasa sehingga tidak mungkin tersalib. Karena itu perlu dijelaskan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang rela menjadi manusia. Bukan manusia yang dituhankan, seperti isu salah yang berkembang secara umum. Nah, berikutnya harus dipahami tujuan kerelaan-Nya menjadi manusia, yaitu untuk berkomunikasi dengan manusia. Ingat Tuhan sangat mengerti manusia, tetapi manusia tidak bisa mengerti Tuhan seutuhnya. Dia sudah menyatakan diri lebih dahulu lewat para nabi, dan untuk kita, Dia datang sendiri mengenapinya. Sebagai manusia, Dia adalah Tuhan yang membatasi diri (istilah sederhana dari istilah teologisnya, kenosis). Membatasi diri artinya, rela menjadi terbatas, karena jika Dia sepenuhnya seperti yang di surga maka manusia tidak mungkin bisa berhadapan dengan Allah yang suci. Orang beragama bisa memahami hal ini.


Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa Dia mau menjadi manusia? Tidak ada jawaban lain kecuali oleh karena kasih-Nya. Lalu Dia disiksa dan disalibkan. Jika Tuhan Dia kan bisa membereskan semua persoalan sehingga tidak mungkin tersiksa apalagi tersalib, itu pertanyaan berikutnya. Jawabannya sederhana saja, bahwa betul Dia bisa membereskan semuanya, bahkan dengan amat sangat mudah. Tapi demi sebuah pelajaran kasih kepada umat yang dikasihi-Nya, Dia rela menjalani semuanya. Betapa besar kasih Yesus Tuhan. Dan sudah seharusnya Tuhan itu penuh kasih bukan? Yesus membuktikannya. Dia mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Seharusnya manusialah yang tersalib karena telah berbuat dosa. Tetapi jika manusia dihukum itu berarti semua manusia mati, masuk neraka, tak satu pun yang selamat.
Nah di sini, di dalam kematian-Nya di kayu salib, Yesus menebus dosa. Dengan kematian-Nya, maka manusia yang seharusnya mati diampuni dosanya. Yang menjadi pertanyaan di sini bukanlah kenapa Tuhan bisa mati disalib? Tuhan Yesus tidak bisa mati di kayu salib. Ingat, Dia pernah menghidupkan Lazarus, apalah susahnya mempertahankan hidup-Nya sendiri. Itu amat sangat mudah. Yang menjadi pertanyaan justru, mengapa Dia rela mati? Padahal yang berdosa dan seharus-nya dihukum adalah manusia. Jawabannya adalah karena kasih-Nya. Kasih Tuhan yang mahabesar itu memang sangat membingung-kan manusia yang mahakacau, dan itu wajar. Wajar karena manusia terlalu kacau, pembenci, sehingga sulit, bahkan tidak mungkin memahami kasih yang maha. Kecuali manusia merasakan sendiri kasih Tuhan Yesus itu.


Jadi tak ada yang salah dalam ketuhanan Yesus, yang salah adalah ketidakmampuan kita memahami-nya. Tetapi memang kita terbatas dalam memahami kesempuranaan Tuhan, mengingat kita tak sempur-na. Karena itu jangan Tuhan yang dipersalahkan ketika kita tidak mengerti, melainkan diri kita sendiri.
Nah, Maria yang dikasihi Tuhan, selanjutnya tentu menguji kebe-naran kisah tentang Yesus Kristus yang ternyata tercatat juga di kitab suci selain Alkitab. Belum lagi berbagai fakta penemuan yang krusial. Tetapi lepas dari semuanya kesaksian Alkitab itu sendiri lebih dari cukup. Tinggal bagaimana kita sebagai seorang Kristen mengolah data yang ada. 
Soal Tuhan beranak, lucu juga. Yesus Kristus memang Anak Allah, dan disebut juga Allah Anak. Tetapi itu tidak berarti Tuhan beranak, seperti seorang wanita melahirkan anak. Coba pikirkan, antara kita dan kata-kata kita. Kata-kata saya lahir dari saya (mulut), bukan berarti saya hamil dan melahirkan kata-kata. Itu adalah ungkapan teologis yang menggambarkan sebuah relasi yang satu dan tidak terpisah. Ingat ungkapan “Ibu Pertiwi menangis”, yang menggambarkan kesedihan bangsa? Padahal jika dilanjut lagi, bangsa itu yang mana? Pasti Maria bisa memahami sepenuhnya.     Demikianlah kita dalam berdiskusi dengan orang non-Kristen, dalam menolong mereka memahami pengertian iman kita dengan benar. Perdebatan harus dihindari, apalagi kemarahan. Karena ketidakmenger-tian orang akan Kristus itu bisa dimengerti, karena Kristus lebih besar dari pengertian manusia yang sangat terbatas.


Berkata menjelaskan, dan berdoa agar yang mendengar mengerti, adalah panggilan kita yang harus kita lakukan dalam kasih Kristus. Untuk tambahan buat pendalaman pribadi kita soal Yesus Kristus, maka saran saya Maria perlu mendalami bacaan Alkitab ini. Berita kedatangan Yesus (Nubuat: Yesaya 7: 14, Penggenapan: Matius 1: 18-25), kota kelahiran Betlehem (Nubuat: Mika 5: 6, Penggenapan: Matius 2: 1-6). Semua nubuat ini berlangsung ratusan tahun sebelum kedatangan Yesus ke dunia (bagaimana bisa tepat?). Belum lagi hal lain seperti, peristiwa pembunuhan anak-anak (Yeremia 31:15, Matius 2:18), Yesus dibawa ke Mesir (Hosea 11:1, Matius 2:15), dan gambaran Yesus Kristus sebagai hamba yang menderita (Yesaya 53, band dengan kisah kehidupan pelayanan Yesus di seluruh Injil).


Juga perlu soal kesetaraan dan kesatuan Bapa dan Anak (Yohanes 1:1-14, Filipi 2:6-11). Di sini jelas ketuhanan Yesus yang juga adalah pencipta (baca juga : Kolose 1:15-17, 2:6-10). Pengakuan ketuhanan Yesus oleh (Petrus : Matius 16:16, Thomas : Yohanes 20:28, Kepala pasukan Roma yang bukan Kristen : Matius 27:54, bahkan setan sekalipun : Matius 8:29). Namun masih banyak ayat-ayat lainnya yang tidak mungkin saya muat semua.
Akhir kata Maria yang dikasihi Tuhan, selamat menjadi pelayan Tuhan yang memberitakan kebenaran dalam kasih sayang Nya. Tuhan memberkati.v

Komentar


Group

Top