Bangkit Dari Keterpurukan

Ardo Ryan Dwitanto*

BAGI penggemar sepakbola, khususnya liga Eropa, tentu masih ingat pertandimgan final Liga Champions pada 2006.Ketika itu, tim yang bertanding adalah Liverpool FC (Inggris) melawan AC Milan (Italia).

Babak pertama, AC Milan unggul 3-0 atas Liverpool FC. Banyak pengamat sudah memberikan komentar bahwa itulah waktunya AC Milan kembali juara setelah sekian lama. Memasuki babak ke-2, Liverpool mengejar ketinggalan hingga akhirnya menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Dan akhirnya, Liverpool FC memenangkan pertandingan lewat adu penalti. Luar biasa!

Perjuangan Liverpool tersebut memberikan suatu gambaran yang luar biasa tentang kebangkitan dari keterpurukan. Tidak masalah sejauh mana mereka ketinggalan, namun mereka bangkit dan akhirnya menang. Tentu perjuangan Liverpool tidak seperti membalikkan telapak tangan. Setiap orang tentu pernah mengalami kegagalan-kegagalan yang membuatnya terpuruk. Namun, yang membedakan dari setiap orang adalah bagaimana mereka bangkit dari keterpurukannya.

Keterpurukan yang dimaksud adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak mengalami hidup. Dia memang hidup secara biologis, namun di dalam sanubarinya tidak ada suatu passion (gairah) untuk menjalani hidup. Jadi, di luarnya kelihatan hidup, namun di dalamnya sebenarnya sudah sekarat. Apakah Saudara pernah mengalami keadaan seperti ini?
Banyak orang hanya mengatakan kepada orang-orang yang patah semangat, “everything is gonna be ok!”. Tetapi tetap pertanyaan besarnya adalah, “how everything is gonna be ok?” Tentu keadaan tidak akan menjadi baik dengan tidak melakukan apa-apa. Harus ada usaha yang besar untuk bangkit! Ada beberapa hal yang dapat menjadi prinsip supaya kita dapat bangkit dari keterpurukan.

Terima kegagalan
Ketika menemui kegagalan, kita cenderung menghibur diri dengan mengatakan pada diri kita bahwa tidak ada yang salah pada kita dan mulai menyalahkan orang lain. Ini adalah kecenderungan yang tidak baik. Kecenderungan ini hanyalah membawa kita kepada sebuah ilusi bahwa kita sebenarnya tidak gagal. Ilusi tersebut tidak akan menyembuhkan kita sepenuhnya. Cepat atau lambat kita akan menyadari lagi bahwa kita gagal.
Kegagalan harus diterima meski itu pahit rasanya. Menerima kegagalan akan membuat kita menyadari keadaan kita sebenarnya dan selanjutnya mencari cara bagaimana kita dapat bangkit. Perlu diingat bahwa kita jangan menerima kegagalan terlalu berlebihan dengan menghukum diri sendiri karena itu akan membawa kita kepada keterpurukan. Menghukum diri sendiri atas kegagalan juga merupakan sikap yang tidak baik.

Menerima kegagalan harus disertai dengan pengendalian diri. Kita harus mengatakan pada diri kita, “Saya memang jatuh tapi saya tidak akan jatuh hingga tergeletak”. Sikap tersebut akan membawa kita untuk dapat berpikir “ke depan” bukan “ke belakang”. Yang dimaksud dengan berpikir ke belakang adalah menyesali kegagalan, “seandainya saya…, maka hal ini tidak perlu terjadi.”. Orang yang berpikir “ke depan” mengatakan, “saya gagal karena….Selanjutnya bagaimana saya memperbaikinya?”. Dengan kata lain, berpikir ke depan tidak memusingkan faktor-faktor kegagalannya, melainkan memikirkan bagaimana memperbaikinya.

Terbuka terhadap bantuan
Seringkali seseorang menghadapi kegagalan dan berusaha untuk memperbaikinya sendiri. Setiap orang lain hendak membantunya, dia menolaknya dan memberikan kesan bahwa dirinya baik-baik saja. Sikap hati seperti ini hanyalah membuat kita lebih buruk. Dari sekian kesaksian orang-orang yang bangkit dari keterpurukan, saya selalu menemukan ada orang-orang lain yang membantu mereka.
Orang yang mengalami kegagalan tidak mampu untuk mendorong dirinya sendiri. Pada awalnya, mungkin dia dapat memotivasi diri sendiri. Tetapi, itu sebenarnya belum cukup untuk membuatnya mantap untuk bangkit. Bahkan, ketika kita berada di dalam kegagalan, kita cenderung untuk melihatnya dari sudut pandang yang sempit. Kita butuh orang lain yang dapat menolong kita untuk dapat melihat gambaran besar atau big picture dari kegagalan kita. Orang lain yang mampu untuk memberikan kita orientasi ketika kita mengalami disorientasi.

Tetapkan strategi
Kembali kepada kisah dramatis final Liga Champions 2006. Kemenangan Liverpool bukanlah sesuatu yang dikerjakan tanpa strategi. Rafael Benitez (pelatih Liverpool saat itu) pasti menyusun strategi untuk merebut kemenangan. Seringkali, strategi diilustrasikan sebagai sebuah jembatan untuk membawa kita kepada tujuan (goal). Tujuan boleh ditetapkan, tetapi jika tidak ada strategi, maka tujuan tidak akan mungkin tercapai.
Strategi membuat kita dapat melihat tujuan dengan jelas. Dengan kata lain, strategi membuat tujuan makin dapat dicapai. Sebagai contoh, ketika Daud berhadapan dengan Goliath, yang adalah raksasa dengan persenjataan lengkap. Tujuan Daud merupakan suatu tujuan yang besar dan berpeluang besar untuk gagal. Namun, Daud membuat strategi yang jitu. Dia membuat umban yang berisi batu kali dan melemparkan itu ke bagian vital dari Goliath, yaitu kepalanya, sehingga batu itu terbenam di kepalanya dan tewas seketika.

Strategi haruslah merupakan langkah-langkah yang tersusun rapi, konkrit, dan sambung-menyam-bung menjadi satu (terintegrasi) menuju kepada tujuan. Tersusun rapi maksudnya adalah langkah-langkah tersebut disusun secara sistematis. Contoh, Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) Indonesia sewaktu masa pemerintahan Soeharto, disusun secara bertahap dan sistematis, seperti Repelita I, II, III, dan seterusnya. Masing-masing Repelita mempunyai sasaran yang semakin lama, sasarannya semakin besar. Sasaran Repelita III tidak akan tercapai, jika sasaran Repelita I belum tercapai. Ini yang dinamakan dengan langkah-langkah yang terintegrasi.
   
Jalani strategi
Prinsip yang keempat adalah menjalankan strategi. Di dalam permainan sepakbola,  tim yang kalah, dapat disebabkan oleh keengganan pemain untuk menerapkan strategi pelatihnya. Menjalani strategi butuh disiplin dan kemauan yang kuat.
Strategi merupakan jalan kembali ke kejayaan (path to glory). Tekuni itu, maka kita akan bangkit dari keterpurukan dan berjalan menuju keberhasilan. Perlu diingat bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui panjangnya path to glory. Orang tertentu butuh waktu yang pendek untuk mencapai keberhasilan. Thomas Alfa Edison butuh waktu yang lama, berupa beribu-ribu pencobaan untuk berhasil menemukan bohlam lampu. Berapa pun panjangnya path to glory, jika kita tekuni akan terasa nikmat.

*Dosen Tetap
UPH Business School

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *