Khotbah Populer

Yesus Datang, Tak Ada Yang Mengenal-Nya

Thu, 6 January 2011 - 13:53 | Dilihat : 6108
Tags : Artikel Natal

Terkait


 Pdt. Bigman Sirait

Reformata.com - SAUDARA, menyambut Natal,  kita akan merenungkan  sabda Tuhan dalam Yohanes 1: 10-13. “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya...”


Allah Sang Pencipta, mencipta-kan segala sesuatu dalam kesem-purnaan-NYA. Diciptakannya manusia dalam kemampuan berpikir yang mampu mengkopi apa yang dilakukan Allah, memahami apa  yang menjadi kehendak-Nya. Diciptakannya manusia bukan hanya dalam kemampuan mengkopi tetapi
kemudian menjadi creation di dalam dunia yang dibuat-Nya, sehingga manusia menjadi pencipta di dalam dunia. Manusia mampu menciptakan hal-hal yang baru bagi dirinya, menciptakan kemungkinan-kemungkinan dalam hidupnya. Sampai kemudian manusia jatuh ke dalam dosa, kegelapan mewarnai
kehidupan manusia. Seluruh kemuliaan yang Allah berikan, dirampas manusia, dan manusia hidup dalam kengerian. Seluruh kemampuan diklaim sebagai kemampuan diri bukan saja untuk mengelola bumi, namun juga untuk mencari Allah. Manusia mendemonstrasikannya lewat peristiwa Menara Babel.


Manusia yang terus bergerak, semakin jauh dari apa yang Tuhan kehendaki. Manusia makin terpuruk dalam ketersesatannya. sehingga dalam keunggulannya manusia merasa bisa melakukan sesuatu tanpa perlu Allah. Toh manusia bisa bercocok tanam untuk menda-patkan makanan; bisa membuat alat transportasi; bisa membaca dan mengatur cuaca, bahkan bisa membuat hujan. Isu-isu di waktu lampau tak lagi berlaku. Manusia yang mandul selalu punya harapan untuk memiliki keturunan. Wanita bukan cuma bisa melahirkan anak me-lalui bayi tabung, bahkan manusia bisa “mengkopi” anaknya lewat teori kloning. Hebat sekali.
Tetapi  coba bayangkan ke masa 2.000 tahun lalu ketika teknologi itu belum ada,  ternyata manusia telah memberontak secara luar biasa. Manusia tidak mau percaya akan Allah. Artinya, semakin maju teknologi semakin sulit memahami ada orang yang mau percaya kepada Allah. Sebaliknya nun jauh di sana 2.000 tahun yang lampau, juga ada orang-orang yang percaya. Maka dalam tiap jaman pun ada yang seperti itu. 


Sekarang mari kita lihat. Dia sekarang ada di dalam dunia yang dijadikan-Nya, dan dunia tidak mengenal-Nya. Dunia gagal mengenal Sang Pencipta, karena dunia sudah berlumuran dosa, hidup dalam standar dosa. Sehingga ketika Allah yang suci, Yesus Kristus Tuhan yang menjadi manusia datang ke dunia dalam kesucian, Ia menjadi “barang” yang aneh, makhluk aneh dalam hidup manusia. Orang sulit mengerti Dia. Itu sebab para ahli Taurat saat berdiskusi dengan-Nya menganggap DIA gila, bahkan kemudian menyalibkan-Nya.
Bagaimana mau mengerti orang asing ini. orang yang suci di tengah orang berdosa. Orang yang dekat dengan Bapa. Sementara orang-orang Yahudi dan manusia waktu itu hanya orang beragama yang merasa dekat dengan Allah, tetapi sejatinya tidak. Mereka yang rajin beribadah menyebut nama Allah dengan ritual yang sangat  mengagumkan. Siang dan malam berdoa, puasa dua kali seminggu secara rutin, ternyata tidak mampu mengenali Yesus Kristus Tuhan itu. 
Jangan pernah berkata kalau kita lebih baik dari orang Farisi. Karena saya khawatir kita hanya bergerak dalam sebuah perbedaan saja. Kita mengatakan  Yesus itu Tuhan dan menerimanya, sama seperti Yahudi yang menerima Allah Bapa, tetapi menolak Yesus. Kalau menerima Bapa harus menerima Yesus dong. Kalau kita menerima Yesus kita harus melakukan perintah-Nya dong. Bila tidak, maka bila Dia datang, ia akan tetap menjadi makhluk asing.

Yesus ada di mana?
Ada ilustrasi yang ironis tentang Natal. Dikisahkan, para rasul sedang berkumpul di surga bersama orang-orang percaya. Petrus bertanya, “Di musim Natal seperti ini di mana Yesus berada? Lalu mereka jawab: Yesus ada di gereja, di semua gereja. Rasul Petrus menjawab, “Salah. Hampir tak penting lagi Yesus ada di gereja. Toh Dia ada atau tidak ada, gereja tetap jalan. Gereja akan melakukan dan memutuskan sesuatu menurut analisis mereka, semaunya saja. Kalau pun mereka rapat dan berdoa minta pimpinan Tuhan, toh keputusan yang dikeluarkan hanya berbau semangat kemanusiaan. Gereja terlalu sibuk dengan organisasinya”.


Ada yang berkata bahwa Yesus pasti pergi ke penjara, mengunjungi para tahanan. Tetapi Petrus lagi-lagi berkata tidak ada gunanya Yesus ke penjara. Narapidana memang suka Natal tiba, lalu berdoa dan berharap orang Kristen datang. Karena mereka tahu pada saat Natal, orang Kristen yang datang akan membawa kado dan mereka akan menerima pemberian yang lebih baik dari hari-hari biasanya. Jadi bagi para narapidana Natal sangat mengasyikkan karena gereja akan datang dengan setumpuk hadiah. Syukur-syukur gereja itu kaya raya maka hadiahnya mewah. Maka yang terjadi di sana hanyalah barter rasa: yang satu merasa memberi yang lain merasa menerima. Itu saja, tetapi semua dibungkus dalam Christmas Carol.


Yang lain menimpali, “Aku tahu, Yesus pasti ke orang-orang miskin!” Buat apa Yesus pergi ke orang-orang miskin? Toh mereka pun akan bernasib sama seperti para narapidana. Mereka mendadak diperhatikan, mereka mendadak menjadi orang penting. Bahkan ketika mereka belum bangun pintu rumah mereka diketuk dan mereka akan terkejut melihat bingkisan Natal di depan pintu. Orang miskin kan tidak lebih dari orang yang dieksploitasi, dipertontonkan seakan-akan kita yang memberi bingkisan penuh dengan cinta kasih. Tetapi itukah kesejatian?
Ternyata tidak ada yang bisa menjawab, “di mana Yesus pada hari Natal”. Dan itulah yang terjadi pada Natal. Sejatinya Yesus datang, orang menolaknya. Lalu kalau begitu, setiap Natal Yesus turun ke dunia, ke mana dia pergi? Dia mencari hati yang hancur yang berkata, “Ya Tuhan, aku orang berdosa, tolonglah aku”. Sejatinya, Dia ada di situ. Di situlah Yesus ber-Natal. Sangat personal, satu dengan satu, face to face, bukan dalam kelompok orang-orang banyak.
Karena itu, betapa ironinya Natal itu. Siapa yang suka Natal? Kita tidak suka Natal dalam pengertian yang sejati. Kita terlalu sibuk untuk diganggu Yesus. Acara kita terlalu banyak untuk Dia menyela kita, masuk dalam acara kita. Kita terlalu sibuk dengan diri kita. Natal memang ironi.v

(Diringkas dari VCD khotbah oleh Hans P Tan)
 

Lihat juga

Komentar


Group

Top