Konsultasi Theologi

Ketika Tuhan Menjadi Manusia

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Thu, 6 January 2011 - 14:35 | Dilihat : 7714

Pdt. Bigman Sirait

Bapak Pendeta yang kami hormati, dalam suasana Natal di bulan Desember ini, saya sangat ingin mendapatkan pencerahan dari Bapak tentang Tuhan Allah pencipta alam semesta yang lahir ke dunia, dan menjadi sama dengan manusia.
Bagi saya pemahaman ini sangat penting, sebab menyangkut keberimanan kita yang sangat fundamental sebagai orang Kristen. Terus terang saja Pak, saya selama ini juga masih kurang bisa memahami bagaimana Tuhan bisa menjadi manusia. Apa maksud dan rencana Tuhan dalam hal ini?
Saya kira cukup sekian dulu pertanyaan saya Pak, semoga jawaban Bapak juga bisa menjadi pencerah dan penguat iman kita semua. Selamat Natal
Kim Sok
Palembang

Reformata.com -KIM Sok yang dikasihi  Tuhan, senang mengulas pertanyaan Anda tentang hakekat Natal yang hakiki. Dalam perspektif Perjanjian Lama (PL), Allah dominan tergambar sebagai Allah yang transenden. Transen-den artinya, Allah yang terasa “jauh” tidak terjangkau, karena kebesaran dan kemahaan-Nya. Seperti ungkapan Ayub yang berkata: Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasa-an yang maha kuasa (Ayub 11: 7). Atu gugatan Yesaya: Jadi dengan siap hendak kamu samakan Allah, dan apa yang kamu anggap dapat serupa dengan Dia (Yesaya 40: 18). Dan masih banyak ayat lainnya yang sangat kental dengan kemahaan Allah, sehingga dengan segera membentangkan jarak tak terhingga antara Dia dengan manusia. Pemazmur bahkan mengambarkan manusia hanyalah seperti debu yang mudah tertiup angin, atau rumput yang segera layu, di hadapan Allah.


Betapa besarnya Dia, itulah yang dimaksud gambaran Allah yang transenden. Lawan dari transenden adalah imanen, sangat dekat. Jika dalam PL nuansa transenden lebih terasa, maka sebaliknya dalam Perjanjian Baru (PB) nuansa imanen sangat kental. Yesus sendiri berkata kepada murid-murid Nya, sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia (Yohanes 14: 7). Atau Yohanes 17: 3,  Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus.


Kim Sok yang dikasihi Tuhan, kedua istilah ini perlu kita hayati dalam memahami besarnya kasih Allah ketika rela menjadi manusia yang seutuhnya. Pertanyaan pertama bagaimana Allah bisa menjadi manusia, sangatlah sederhana jawabannya. Allah pencipta yang maha, maka sudahlah pasti bukan masalah untuk menjadi manusia. Manusia adalah ciptaan-Nya, apalah susahnya menjadi seperti ciptaan sendiri.


Yang  menjadi pertanyaan justru adalah kenapa Dia mau menjadi manusia. Banyak orang menggugat kekristenan dengan berkata: Kok manusia (Yesus Kristus) dijadikan Tuhan? Sebuah pertanyaan yang salah besar, karena kekristenan tidak pernah menjadikan Yesus sebagai Tuhan. Yang benar adalah, Yesus yang Tuhan, rela menjadi manusia, sebagaimana ucapan Yesus sendiri. Lalu ada juga yang berkata, jika Yesus itu Tuhan, kok bisa mati di  kayu salib. Itu adalah soal kecil, bahkan manusia biasa pun bisa memerankan mati di salib. Yang menjadi persoalan justru, kenapa Yesus Tuhan yang tidak bisa mati karena dia pemberi hidup, rela mati?


 Jadi pemahaman yang tepat harus dibangun dulu agar kesalahpahaman tidak terjadi terus-menerus. Begitu juga soal lahir. Kok Tuhan lahir? Hal ini kita ulas sekaligus dengan pertanyaan Anda berikutnya. Pertama harus kita ketahui, tidak ada satu apa pun yang bisa meminta, apalagi memerintah Tuhan untuk menjadi manusia. Ketika Yesus, Tuhan yang bersemayan di surga itu menjadi manusia, adalah ketetapan berdasarkan kerelaan-Nya sendiri. Alkitab berkata: Bahwa Dia (Yesus Kristus), yang setara, atau sama dengan Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah megosongkan diri Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2: 6-7).


Jadi sangat jelas, ketika Yesus memilih menjadi manusia, adalah berdasarkan kerelaan-Nya dalam kedaulatan kekuasaan-Nya. Sebelum menjadi manusia Dia adalah Allah (Roh, bukan materi, dan maha dalam segalanya). Tidak usah bingung dengan bertanya di surga ada berapa Allah? Itu adalah pertanyaan yang sangat salah, karena yang kita bicarakan adalah Allah yang maha segalanya, yang Roh, yang bukan materi (fisik yang matematis), seperti yang dikatakan Ayub atau Yesaya di atas. Di lain kesempatan kita akan mendis-kusikan hal ini lebih lanjut.      Selanjutnya, Bapa juga menya-takan kasih-Nya dengan merela-kan Anak Tunggal-Nya datang ke dunia, untuk menyelamatkan umat yang diperkenan-Nya (Yohanes 3: 16). Maka jelaslah mengapa dan bagaimana Yesus yang Allah menjadi manusia. Mengapa? Karena kasih-Nya kepada manusia, sehingga de-ngan menjadi sama dengan manusia, maka Yesus menjadi perwakilan manusia menerima hukuman murka Allah atas dosa. Itulah sebab Alkitab berkata: Dosa kitalah yang ditanggung-Nya sehingga Dia mati di kayu salib (lihat 1 korintus 15: 3, 1 Petrus 2: 24).


Jika manusia yang dihukum langsung oleh Allah, maka habislah semua manusia di muka bumi karna murka Allah yang menyala-nyala, dan karena semua manusia telah berdosa (Roma 3: 10-11). Yesus Kristus, adalah manusia yang tidak berdosa, Dia lahir bukan karena hasrat manusia, melainkan oleh kuasa Roh Kudus, sehingga cukup satu manusia Yesus Kristus yang tidak berdosa, yang mati membayar dosa satu orang Adam yang jatuh kedalam dosa (1 Korintus 15: 20-22). Itulah alasan mengapa Yesus datang ke dunia, dengan lahir sebagai manusia sama seperti kita. Dia datang untuk menye-lamatkan kita. Untuk menjadi manusia, Yesus yang Allah, yang tidak terbatas, rela mengosong-kan diri-Nya (membatasi keilahian-Nya), untuk menjadi terbatas dengan lahir dari rahim Maria, dan dikandung sebagaimana manusia umumnya. 
Nah, Natal adalah kelahiran Yesus Kristus Tuhan kedalam dunia. Tidak ada yang pasti soal waktu kelahiran-Nya, namun yang pasti adalah gereja sepakat memperingatinya pada  25 Desember. Soal kelahiran Yesus Kristus, Injil membicarakannya dengan tuntas dan cukup jelas, khususnya kitab Matius dan Lukas. Sementara kitab Yohanes dengan jelas pula mengisahkan bagimana Allah menjadi manusia, yang biasa kita sebut inkarnasi (baca Yohanes 1: 1-14).


Kim Sok yang dikasihi Tuhan, sangat jelas bukan bagaimana Yesus yang Tuhan menjadi manusia, yaitu dengan me-ngosongkan diri-Nya, me-nanggalkan keilahian-Nya, sehingga Dia yang setara dengan Allah rela merendahkan diri menjadi sama dengan kita manusia. Dia menjadi manusia melalui proses normal seorang manusia, dikandung ibu dan dilahirkan. Dia memiliki silsilah, dan menggenapi semua nubuatan yang ada di PL, yang ada jauh sebelum Dia datang ke dunia. Hal ini menjadi bukti keakuratan pemeliharaan Allah yang berke-lanjutan. Sementara apa yang menjadi maksud dan rencana-Nya, bersifat tunggal, yaitu menyelamatkan umat yang dipilih-Nya. 


Mengembalikan manusia pada tujuan penciptaan yang semula, yang sempurna. Semua adalah wujud kasih-Nya yang tak terhingga. Kita tidak tahu kenapa Yesus Kristus yang Allah, rela melakukan semuanya, kecuali oleh karena kasih-Nya. Inilah makna Natal, Dia rela terlahir menjadi sama seperti kita manusia biasa yang terbatas. Padahal Dia adalah yang sempurna, yang tidak terbatas.
Akhirnya, Kim Sok yang dikasih Tuhan, mari sama-sama kita ucapakan : Terimakasih Tuhan untuk Natal. Imanuel.v

Komentar


Group

Top