Khotbah Populer

Ketika Yesus Menampakkan Diri

Wed, 2 March 2011 - 09:13 | Dilihat : 15677
Tags : Artikel Paskah

 Pdt. Bigman Sirait

Reformata.com - BERITA tentang penampakan Yesus sudah sering kita dengar. Beberapa tahun lalu, di Ambon (Maluku)  pernah merebak isu tentang Yesus yang menampakkan diri. Tak lama setelah itu, isu yang sama melanda  Kota Jayapura (Papua). Kemudian warga Jakarta dan sekitarnya juga pernah heboh oleh isu yang sama. Berita tentang penampakan Yesus selalu mengundang banyak orang untuk membuktikannya. Namun kelanjutannya tidak pernah jelas, bahkan mungkin mengecewakan bagi banyak orang, karena memang tidak bisa dibuktikan. Sewaktu isu penampakan di Jakarta beberapa waktu lalu, salah seorang pengunjung begitu ber-semangat menceritakan tentang penampakan Yesus tersebut. Namun ketika kepadanya ditanyakan apakah dia sendiri melihat Yesus, dia justru berkelit bahwa cerita itu dia dengar dari orang lain. Dia sendiri tidak pernah melihat penampakan itu.


Saudara, dalam Yohanes 20: 24-29 dibeberkan tentang Thomas, salah seorang murid Yesus, yang tidak percaya akan kebangkitan Yesus. Thomas yang selalu meragukan sesuatu di dalam pemahamannya tentang Yesus yang bangkit, tidak bisa menerima kenyataan, tidak bisa menerima kesaksian dan kepastian dari murid-murid lain bahwa Sang Guru telah bangkit dari kematian. Ini sebenarnya bisa dimengerti karena murid-murid yang lain sebenarnya ada di dalam keraguan dan kebingungan. Waktu Yesus memberikan kesempatan kepada Thomas untuk menjamah tangan dan lambung-Nya, dia menjadi percaya karena sudah melihat. Tetapi Yesus berkata, “Ber-bahagialah mereka yang percaya sekalipun mereka tidak melihat”.
Sebelum Yesus naik ke surga, kepada kita diberikan pengertian-pengertian yang jelas. Bahkan para murid tidak bisa langsung mengerti kecuali lewat sebuah proses. Sebelum Yesus naik ke surga, ada tenggang waktu antara kebangkitan dan kenaikan, Dia menampakkan diri untuk meneguhkan dan menjelaskan bahwa kebangkitan-Nya adalah sesuatu yang aktual. Ini penting untuk meng-genapi apa yang diker-jakaan Tuhan Yesus. Sesudah Yesus naik ke surga, cerita sudah menjadi lain. Tidak ada lagi cerita bagaimana Dia menam-pakkan diri, kecuali dalam beberapa hal yang menyangkut pertobatan, seperti kepada Saulus yang kemudian menjadi Paulus. Itu pun Paulus hanya melihat sinar.      


Kebangkitan Yesus dari kematian memang menimbulkan perdebatan karena sulit memahaminya. Karena kebang-kitan itu adalah sesuatu yang tidak pernah terbayangkan. Kebang-kitan dari orang yang menjanjikan sangat berbeda dengan kebang-kitan Lazarus yang dibangkitkan Tuhan Yesus. Lalu siapa yang membangkitkan Yesus? Jikalau Yesus mampu membangkitkan orang mati seperti Lazarus, lalu siapa yang bisa membangkitkan DIA? Oleh karena itu, Thomas yang selalu skeptis, yang selalu meragukan sesuatu, yang rasional, mengatakan tidak mungkin DIA bangkit. Maka ketika Thomas datang ke tempat para murid berkumpul, Yesus langsung berkata, “Thomas, taruhlah jarimu ke sini dan ulurkanlah tanganmu dan cucukkanlah ke dalam lambung-KU, supaya engkau percaya.”
Ketika kalimat itu diucapkan, artinya, Yesus tahu apa yang menjadi pergumulan Thomas. Yesus tahu apa yang menjadi keraguan Thomas, tetapi Yesus tidak marah, malah memberikan kesempatan kepada Thomas untuk membuktikan itu. Dan seluruh keraguan Thomas digugurkan oleh pembuktian dari Tuhan Yesus. Itulah yang terjadi di masa transisi antara kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga.  Memang setelah Yesus bangkit pada hari yang ketiga itu, para murid tidak langsung dapat mengenalinya, kecuali seperti disebutkan Alkitab, Roh Kuduslah yang menolong mereka. Tiba-tiba mata mereka dibukakakan lalu sadarlah mereka, itu Yesus. Ada sesuatu yang luar biasa, tubuh kebangkitan itu tidak langsung dikenali.


Ketika Thomas menyentuh tangan dan lambung-Nya, dia langsung berkata, “Ya Tuhan dan Allahku”. Ini pengakuan yang sangat mendalam. Thomas tidak menyebut, “Ya guruku”, tetapi “Ya Allah dan Tuhanku”. Di hadapan Yesus, si Rasional ini menjadi sangat beriman. Dan Yesus berkata, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Tetapi berbahagialah mereka yang percaya sekalipun tidak melihat Aku”. 

Rasional atau tidak
Yang berbahagia adalah mereka yang percaya sekalipun tidak melihat Yesus. Ada iman yang kuat dan solid yag bertumbuh di dalam hidup mereka. Tetapi di jaman kita ini justru terbalik. Yang berbahagia justru mereka yang melihat Yesus maka percaya. Itu sebab orang berlomba untuk datang dan melihat ketika isu penampakan Yesus itu santer.  Apakah mereka dapat digolongkan sebagai orang yang tidak percaya sehingga harus melihat dulu supaya percaya? Ataukah mereka orang percaya yang berambisi besar untuk melihat? Sulit memang menjelasakannya, karena kepercayaan dan iman yang kuat adalah justru ketika semua itu terjadi di dalam pertempuran pergumulan iman yang solid, membawa kita ke dalam pengalaman iman yang utuh mengenal Allah yang hidup.        Saudara, melihat atau tidak melihat, sama bisa mengenal Yesus. Tetapi berbahagialah mereka yang percaya kepada Yesus sekalipun tidak melihat. Tetapi kenapa sekarang keinginan untuk melihat Yesus menjadi sangat besar? Jawabannya sederhana, saya kira jaman kita memang jaman visualisasi. Apa pun ingin divisualisasikan, diwujudkan, ditampakkan. Maka manusia yang rasional, suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, ingin membuktikan segala sesuatu dengan indrawinya. Maka peran iman seringkali tanpa sadar menjadi tergeser. Iman dikaitkan dengan pemikiran: rasional atau tidak rasional. Iman dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman mistis. Sehingga iman yang aktual, iman yang sejati, iman yang murni seakan-akan tidak lagi mempunyai tempat yang cukup di hati anak-anak Tuhan. Pergaulan dengan Tuhan hanya diukur dengan sesuatu yang bisa diukur: “Jika IA memberiku uang atau IA memberiku kesembuhan, aku percaya”. Kesembuhan bukan sesuatu yang salah, dan ingin punya banyak uang juga bukan salah, tetapi jika itu menjadi ukuran anugerah Allah, oh betapa sedihnya.


Pergeseran-pergeseran terjadi. Sekarang bagaimana kita kembali kepada standpoint, itu harus menjadi pergumulan. Sebagai Kristen yang sejati mari kita hidup sesuai firman Tuhan supaya mereka tetap percaya sekalipun tidak melihat. Kalaupun Tuhan menampakkan diri kepada seseorang, biarlah itu urusan pribadinya dengan Tuhan, tetapi janganlah itu disebarluaskan lalu dijadikan tontonan.v 
(Diringkas dari CD khotbah oleh Hans P Tan)

Lihat juga

Komentar


Group

Top