Dahsyatnya Kata-kata

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

The real art of conversation is not only to say the right thing at the right time, but to leave unsaid
the wrong thing at the tempting moment. Dorothy Nevill

 

SUATU studi yang cukup  baru mengungkapkan  bahwa seorang menge-luarkan kata-kata sebanyak sekitar 16,000 per hari. Mitos bahwa wanita lebih banyak berbicara daripada pria ternyata tidak terbukti. Memang kaum Hawa menggunakan lebih banyak kata-kata dalam sehari tapi jumlahnya tidak terlalu jauh berbeda dengan yang dipakai kaum Adam per harinya.
Setiap hari kita terus-menerus terekspos kepada kata-kata orang lain, baik yang kita dengar atau kita baca. Sebaliknya kita juga terus-menerus menge-luarkan kata-kata ke lingkungan kita. Kata- kata kita pakai dalam berpikir dan dalam berko-munikasi, baik secara lisan mau pun secara tertulis.

Pada tulisan sebelumnya kita sudah membahas satu aspek dari perkataan kita, yaitu aspek kejujurannya. Sebagai orang yang mau bertumbuh maka kita harus bertumbuh dengan me-ningkatkan integritas kata-kata yang kita pakai. Namun ada sisi lain dari perkataan-perkataan kita di luar masalah kebenarannya, yaitu apakah kata-kata kita bersifat positif atau negatif, menyemangati orang atau melemahkan, menyembuhkan yang terluka atau melukai, membangun kepercayaan diri orang atau menghancurkan. Kadang sang pembicara tidak bermaksud serius  – “Saya hanya bergurau” na-mun tetap saja kata-katanya menancapkan bekas yang tidak bisa dihapus, apakah positif atau negatif. Bagaimana Anda sendiri selama ini telah berkata-kata kepada orang lain?

Alkitab menggambarkan Allah kita bekerja melalui kata-kata dan kata-kata-Nya itu berkuasa. Dia berbicara dengan manusia dengan kata-kata. Ketika Allah menciptakan bumi dan segala isinya, Dia berkata-kata maka jadilah apa yang Dia katakan: terang, cakrawala, langit, darat, laut, tanaman, benda-benda di langit, binatang, dan manusia. Bahkan Alkitab itu disebut kata-kata atau firman Allah. Dan Allah itu sendiri disebut sebagai Firman atau Kata (Lihat Yohanes 1). 

Manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah sehingga manusia sedikit banyak memiliki karakteristik Allah. Oleh itu kata-kata manusia juga memiliki kuasa dalam batas-batas yang Allah ijinkan. Tidak heran kata-kata manusia juga memiliki dampak yang luar biasa apakah itu positif atau negatif. Oleh karena itu jelas kata-kata kita penting. Seperti kata-kata Allah, seharusnya kata-kata manusia seharusnya berpengaruh positif atau baik bagi lingkungan.
Namun sayang, manusia termasuk kata-katanya, sudah dirusak oleh dosa. Tidak heran kata-kata manusia bisa mem-bangun tapi juga banyak meng-hancurkan orang lain. Jika demi-kian kita perlu memilih kata-kata dengan hati-hati. Ba-nyak orang tua yang me-ngatakan anak-anaknya bodoh, brengsek, ti-dak tahu diri, dsb dan itu tertanam dalam diri sang anak, menim-bulkan luka sam-pai dia dewasa. Banyak suami-istri saling menje-lekkan, saling menyakiti dengan kata-kata sehingga pasangan menjadi musuh. Banyak atasan dengan kata-kata membo-dohkan bawahannya sehingga anak buahnya kehilangan kepercayaan diri. Banyak orang terus-menerus berkeluh-kesah tentang apa saja sehingga orang lain merasa capek mendengar-kan. Belum lagi banyak orang yang terus-terusan marah dan menggunakan kata-kata yang tajam sehingga melukai hati orang lain.

Yakobus menggambarkan mulut – sumber kata-kata kita – sebagai mulut kuda yang perlu dipasangi kekang sehingga dapat dikendali-kan sesuai dengan kehendak sang pemilik. Lidah yang mengucapkan kata-kata digambarkan sebagai kemudi kapal yang mengarahkan kapal yang besar, perlu dikemu-dikan agar menuruti kehendak sang jurumudi. Lidah juga digam-barkan sebagai api yang dapat membakar hutan yang besar. Lidah sangat berbahaya dan digambar-kan sebagai binatang buas yang belum ada seorang pun yang berkuasa menjinakkan. Dari lidah orang memuji Allah (seperti ketika orang beribadah atau berdoa) tapi dengan lidah dia mengutuk manusia yang adalah ciptaan Allah.
Kita memerlukan penguasaan diri kalau mau mengendalikan lidah kita. Penguasaan diri yang kuat adalah buah Roh (Galatia 5: 23). Mau berubah dan bertumbuh dalam kata-kata kita Anda, ijinkan Roh Allah membentuk dan menguasai Anda. Perhatikan dan hematlah kata-kata Anda maka Anda akan menjadi orang yang ‘berakal budi’ (Amsal 10:19). Tuhan memberkati.v 

*Penulis adalah Partner di Trisewu Leadership Institute

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *