Sudut Pandang (SUP)

Akademi Fantastik Intelegensi

Penulis : Pdt Bigman Sirait |
Tiap Sabtu malam, sekelompok orang aneka usia tampak antusias di ruang studio salah satu stasiun televisi swasta. Pada saat yang sama, untuk acara yang sama, ribuan atau mungkin ratusan ribu pasang mata pemirsa di segala penjuru Nusantara "melotot" di depan layar TV masing-masing. Semua mata baik di studio maupun di depan televisi tertuju pada sosok-sosok akademia (peserta) yang berusaha tampil abis dengan gaya dan busana, walaupun banyak yang hanya bermodalkan suara pas-pasan.

Akademi Fantasi Indosiar lebih dikenal dengan AFI itulah nama program televisi yang lagi ngetrend di kalangan pemirsa, khususnya remaja. Orangtua banyak yang peduli, terlebih jika ada anak, keponakan, atau cucu mereka yang tampil sebagai akademia. Sementara para remaja menjadi suporter karena berbagai alasan. Misalnya ada kaitan kekeluargaan, persahabatan, atau hanya sekadar ngefans pada akademia tertentu.

Akademi ini cukup unik. Unik, karena sistem penilaian bukan berdasarkan kepiawaian para juri yang jeli menangkap "basah" suara-suara fals, atau teknik vokal yang tidak profesional sebagaimana dituntut dari seorang penyanyi. Keunikan yang lain, sekalipun ada penyanyi profesional yang menjadi penilai dan memberikan penilaian yang cukup teliti, tetapi penilaian final ada di tangan para penonton atau pemirsa. Padahal, penonton sebagian besar dipastikan buta gaya, tuli nada. Tetapi di AFI, mereka mendadak mendapatkan kedudukan terhormat sebagai juri penentu nasib para akademia.

Anak penulis yang kursus musik mengaku bingung dan dengan nada protes berkata, Mestinya akademia yang ini yang tereliminasi, bukan yang itu, dengerin aja tuh vokal dan tekniknya... Dengan nada suara yang masih gemas dia melanjutkan, Mentang-mentang cantik dan berpenampilan wah, dia menang. Emangnya fashion show. Aneh tapi nyata. Tapi ini sejalan dengan semangat post-modernism yang menjungkirbalikkan nilai-nilai rasional dan menggesernya ke arah emosional. Yang penting rasa, bukan fakta. Itu semangatnya. Maka harmonisasi berubah menjadi disharmoni. Jadi tidak mengherankan jika penilaian bukan lagi pada fakta melainkan selera.

Post-modernism yang telah menjungkirbalikkan nilai memang mendapat sambutan hangat di kalangan kaum muda yang merasa bosan "dijajah" oleh keteraturan. Kaum muda yang suka berperilaku "liar" seakan menemukan dunianya di era post-modernism. Bagi mereka, post-modernism bagai sebuah improvisasi yang inovatif atas kejenuhan hidup modern yang serba teratur. Modernisme memang suatu bahaya yang telah menggerogoti kehidupan beriman umat beragama, dengan merelatifkan kemutlakan kebenaran wahyu Allah. Modernisme telah menjadi "agama" baru dalam beberapa abad terakhir, di mana manusia "naik pangkat" menjadi penentu bagi dirinya sendiri. Tuhan dikudeta, sekalipun memang ada ruang yang disisakan. Minimal manusia bisa berdiri sejajar dengan Tuhan.

Tetapi, dalam era post-modernism, manusia bahkan tidak lagi memberikan sedikit pun ruang bagi Tuhan, karena semangat "I am God" dalam diri manusia tumbuh subur. Kita adalah Tuhan, jadi apa pun yang kita inginkan, bisa kita dapat, demikian manusia-manusia di era ini berkata dengan pongah. Nah, dalam bentuk praktis non-teologis filosofis, muncullah fenomena nyeleneh: aku adalah aku yang menentukan pendapatku, dan pendapatku adalah kebenaran yang tidak perlu tunduk pada apa pun dan atas penilaian siapa pun.

Jadi kembali ke topik awal sah-sah saja penonton menjadi juri seperti di AFI, atau penentu jawaban yang benar pada acara televisi Family 100 , misalnya. Dalam acara ini, survei membuktikan, bukan fakta atau data yang penting, tetapi apa kata pemirsa. Jadi manusia berasyik-ria "playing God". Tentu saja para penonton atau penyelenggara tidak serta merta dapat dikatakan sebagai penganut post-modernism. Karena post-modernism berjaya sebagai sebuah pemikiran yang menanamkan pengaruhnya pada sebuah era tanpa disadari oleh penganutnya. Semua orang akan merasa itu sekadar sebuah trend. Dan itulah tragisnya, kita hanyut oleh arus post-modernism yang tidak pernah kita kenal, apalagi membedah secara tuntas baik buruknya. Semakin tragis lagi karena banyak orang justru merasa hebat dengan pendapatnya yang cenderung asal ucap (baca: asap, karena perkataannya memang seperti asap, tidak bisa dipegang). Pokoknya beda, namun disukai banyak orang.

Post-modernism memang sangat memanjakan manusia. Membuat manusia sama seperti Tuhan adalah finalitas nilai pada dirinya. Sekali lagi, manusia diberi ruang seluas-luasnya untuk playing God. Di sini saya meminjam istilah AFI yang terkenal itu dalam nada plesetan menjadi Akademi Fantastik Inteligensi, karena memang sangat fantastik. Buktinya, dalam waktu sekejap mampu mengumpulkan ribuan juri tanpa gaji. Dan dengan inteligensi yang tinggi, dalam waktu sekejap pula, para juri lewat short message system (SMS) mampu melahirkan jawara-jawari nyanyi untuk kebutuhan industri rekaman dan show. Tentu saja inti masalah bukan pada acara AFI, melainkan cara berpikir penyelenggara acara ini.

Dalam salah satu episode, seorang komentator yang kebetulan dari perusahaan industri rekaman, mengatakan bahwa pihaknya tidak terlalu peduli pada teknik menyanyi atau vokal. Yang penting, yang dengar senang, katanya membuka "rahasia". Wajar saja, sebab yang namanya industri, kan jualan/dagang. Masalahnya, apakah dengan demikian orang yang menyanyi dengan teknik dan vokal yang benar tidak akan disukai? Nah, nilai mana yang akan kita junjung? Bagi post-modernism yang penting adalah rasa bukan fakta. Bagaimana dengan Anda?

Komentar


Group

Top