Perilaku-perilaku Yang Tidak Rasional

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*
DALAM ke-4 kitab Injil dikisahkan kejadian tragis, Yesus ‘memprediksi’ Petrus akan menyangkal mengenal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok. Dan prediksi yang Petrus sendiri tidak percaya bakal terjadi menjadi kenyataan. Bahkan Injil Markus memberikan detil, kali ketiga Petrus mengutuk dan bersumpah tidak mengenal Yesus (Markus 14:71). Ini adalah kejadian yang tidak masuk akal, seorang murid Yesus yang berani, calon rasul dan sedang dalam perjalanan bersama Tuhan sendiri
Predictably Irrational adalah judul buku yang ditulis oleh Dan Ariely dan telah menjadi best seller New Yourk Times – membahas perilaku-perilaku manusia yang ‘tidak rasional’. Manusia membayangkan dirinya bisa mengatur hidupnya secara rasional, seperti seseorang mengemudikan mobil dan berperilaku terbaik. Namun penulis melakukan berbagai eksperimen yang cerdas dan membuktikan bahwa banyak perilaku kita yang tidak rasional bahkan cenderung tidak rasional. Penulis membahas adanya ‘kekuatan-kekuatan’ yang membuat orang tidak bertindak rasional.
Satu contoh Dan melalui suatu eksperimen mendapatkan ketika beberapa orang diminta menyampaikan pesanan makanannya secara terbuka cenderung menghindari memesan menu yang sama. Ketika diminta memberikan nilai kepuasan terhadap pilihannya secara diam-diam, kepuasan mereka berbeda-beda, di mana orang pertama cenderung lebih puas daripada yang lain. Kekuatan ego untuk tampil beda menyebabkan orang tidak mau memilih menu yang sama, walaupun bisa jadi itu adalah yang dia sukai. Akhirnya dia tidak mendapatkan makanan yang paling memuaskan.
Sangat tidak rasional Petrus mengingkari Yesus. Namun ada power  yang membuat Petrus melakukan. Rasa takut dan ketidakberanian menghadapi risiko ditangkap menyebabkan Petrus mengingkari Yesus.
Kekuatan-kekuatan seperti ini sangat nyata bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Karyawan yang paling disiplin datang pagi adalah mereka yang baru pertama bekerja tapi bersamaan dengan waktu banyak yang kemudian tidak disiplin. Ketika memulai karirnya kemungkinan Gayus adalah orang yang ‘baik-baik’, tapi kemudian dia berubah menjadi seorang koruptor besar yang menghebohkan.
Dari Alkitab kita belajar adanya dua kekuatan yang berusaha menjatuhkan kita. Dari dalam, ada kekuatan yang berasal dari sinful nature manusia (lihat Roma 7: 14, 15). Manusia diciptakan sesuai dengan gambar Allah, baik bahkan sangat baik; namun Alkitab menuliskan bahwa ma-nusia telah jatuh dalam dosa. Orang percaya telah menerima pengampunan dan pemulihan tapi pemulihan itu bersifat progresif. Sinful nature masih dimiliki ma-nusia yang menyebabkan manusia cenderung melakukan perbuatan-perbuatan yang melawan kebenaran, termasuk orang yang sudah ditebus.
Sifat dosa manusia tampak pada anak-anak, yang tidak diajar tapi dengan mudah dia berbohong kepada orang tua untuk meng-hindari teguran. Orang percaya masih terus-menerus berbuat dosa seperti bersikap sombong, tidak jujur, malas, rakus, menyakiti orang lain, dsb.
Di samping itu Alkitab juga berbicara tentang musuh ma-nusia yang digambarkan seperti singa yang mengaum-aum siap menerkam (1 Petrus 5: 8). Celakanya musuh itu tidak kelihatan kasat mata, tidak terdengar melalui telinga dan tidak tercium kehadirannya. Ketika seseorang lengah maka dia akan menjadi korban, ditarik dalam perbuatan yang ‘tidak rasional’ dan harus menanggung akibatnya yang kadang berat – perceraian, permusuhan dengan orang-orang dekat, masuk penjara; kadang tidak berat namun semuanya menyebabkan seseorang tidak mencapai sasaran Allah yang terbaik.
Tidak heran kalau Alkitab terasa sangat ‘lebai’ dan banyak memberikan peringatan kepada kita agar kita berjaga-jaga, was-pada dan awas. Di mata manusia sepertinya kita aman-aman, tidak ada ancaman, tidak ada yang perlu ditakuti. Kita tidak melihat kekuatan-kekuatan dan musuh yang berusaha menjatuhkan kita terus-menerus. Karena itu percayalah Alkitab, hidup dengan waspada. Di Taman Getsemani Tuhan Yesus memperingatkan para murid berjaga-jagalah dan berdoalah agar tidak jatuh dalam pencobaan (Matius 26:41). Kewaspadaan kita kombinasikan dengan doa yang akan mem-berikan kekuatan adikodrati akan melindungi kita.
Alkitab juga memperingatkan kita agar hidup dengan strategi menghadapi hari-hari yang ja-hat (Efesus 5:15). Kita perlu mengenali diri, mengetahui ke-cenderungan-kecenderungan tidak rasional kita dan membuat strategi menghadapinya.
Kita membutuhkan kekuatan di luar diri kita untuk menghadapi kekuatan-kekuatan dalam diri kita yang bersinergi dengan kekuatan luar berusaha membuat kita tidak produktif dan lumpuh. Puji Tuhan kekuatan itu disediakan oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam diri orang percaya.
Ketika kita hidup waspada dalam kepenuhan Roh Kudus, seharusnya kita akan hidup ‘rasional’ dan memberikan yang terbaik bagi kemuliaan Allah kita dan sesama. Tuhan memberkati.v

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *