Konsultasi Theologi

BAGAIMANA MENGENALI PERILAKU

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Fri, 1 July 2011 - 14:52 | Dilihat : 4731

Pdt. Bigman Sirait

Bapak Pengasuh yang baik, saya mau bertanya tentang hal-hal berikut ini: 1) Bagaimana kita dapat mengenal motif seseorang dengan tepat saat dia melakukan sesuatu yang baik, kalau itu benar-benar untuk memuliakan Tuhan atau untuk menjadikan dirinya terkenal? 2) Hidup dalam Tuhan, tidak membuat seseorang lepas dari kesombongan. Menurut Bapak, bagaimana menghadapi masalah kesombongan diri ini? 3) Kesadaran bahwa hidup ini adalah pemberian Tuhan, tidak cukup membuat orang menerima dirinya. Ketika ada kekurangan, manusia sering menjadi minder. Bagaimana membangun rasa percaya diri itu kembali? Terimakasih atas perhatian Bapak. Tuhan memberkati!
   Salomo
Bekasi

SEBUAH pertanyan yang menarik. Salomo yang dikasihi Tuhan, memang perlu sikap yang bijak untuk bisa memahami dengan tepat motif seseorang. Salah salah, bisa jadi fitnah yang tentu saja tidak menyenangkan, dan bisa jadi akar keributan yang tidak perlu. Untuk tahu motif seseorang dalam melakukan sesuatu, murni atau tidak, bukanlah hal mudah dan berlangsung sesaat. Perlu ketelitian yang terpola. Pertama tentu saja kita harus mempelajari apa yang akan dilakukan dalam pelayanan yang dimaksud. Meneliti apakah proyek pelayanan yang akan dilakukan memang diperlukan atau tidak, atau hanya sekadar sebuah sensasi. Untuk menyimpulkannya tentu perlu argumentasi yang akurat.
Paulus dengan tegas pernah “menelanjangi” beberapa orang yang mengaku melayani hanya untuk kemuliaan Tuhan. Memakai istilah, jangan mencuri kemuliaan Tuhan. Atau membumbui pelayanan yang dikerjakan dengan berbagai pernyataan yang bombamtis. Ternyata mereka melayani hanya untuk keuntungan pribadi. Dalam Roma 16:18; Rasul Paulus berkata “Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dengan kata-kata mereka yang muluk muluk dan bahasa mereka yang manis, mereka menipu orang yang tulus hatinya.
Jelas sekali bukan, betapa hebatnya penampilan mereka melayani, sehingga sukses menipu dan memperkaya diri. Untuk itu perlu hati-hati terhadap ucapan manis. Ucapan-ucapan yang begitu mudahnya diumbar, pada hal jika dipikirkan dengan teliti, hal itu agak riskan, atau mustahil. Atau kesaksian diri yang bombastis sehingga tampak sangat menonjolkan diri sendiri. Juga khotbah yang lebih banyak pengalaman dirinya daripada penggalian Firman Tuhan. Hati- hatilah! Di sisi lain, kenali pula track record orang yang mengaku pelayan Tuhan. Cari informasi yang mungkin bisa didapatkan sebanyak mungkin.
Ada orang tertentu yang cukup lihai dalam menutupi kebusukannya, namun waktu akan membongkarnya. Untuk yang seperti ini memang perlu waktu. Karena itu sikap hati-hati, teliti, dan mau tahu, akan sangat menolong kita mengenali kepalsuan. Dan yang penting, jangan sampai kita menjadi korban kemunafikan pelayan seperti ini, yang memang banyak jumlahnya, dan selalu ada di sepanjang jaman.
Sementara soal kesombongan pasti ada pada manusia yang memang sudah jatuh ke dalam dosa. Apakah seseorang bisa menjadi tidak sombong? Tentu saja bisa, bahkan harus. Alkitab berulangkali di berbagai tempat menuntut kita sebagai orang percaya agar rendah hati. Ukurannya seperti Yesus Kristus yang Allah tetapi rela mengosongkan diri-Nya untuk menjadi sama dengan manusia (Filipi 2: 1-11). Kerendahan hati adalah buah yang harus nyata dalam kehidupan orang percaya. Pernyataan dalam pertanyaan, bahwa orang hidup dalam Tuhan tidak lepas dari kesombongan adalah salah. Karena memang seharusnya tidak boleh. Tetapi bahwa ada fakta orang yang somong, padahal disebut bertobat, bahkan melayani, atau bahkan seorang pemuka agama, itu adalah betul. Ini fakta yang tidak terbantah. Rasul Paulus menegur umat di Korintus dengan mengatakan bahwa mereka masih duniawi karena masih hidup dalam perselisihan, iri hati (1 Korintus 3: 3) begitulah mereka yang hidup dalam kesombongan. Jadi bukan status kekristenan seseorang yang penting, melainkan buah kehidupannya. Jadi sombong itu salah dan dosa. Karena ittu tidak seharusnya orang sombong.
Apa yang bisa merubah kesombongan? Sederhana saja, yaitu kedekatannya dengan Tuhan. Setiap orang Kristen harus melatih dirinya untuk tertib dan disiplin melakukan perintah Tuhan, termasuk untuk tidak sombong. Caranya belajar mengalah dan menghargai orang lain sebagai yang juga penting. Menghilangkan kesombongan bukanlah sebuah teori melainkan tindakan nyata.
Soal membangun diri karena merasa minder, juga bukan soal teori. Seseorang menjadi minder itu bisa terjadi karena berbagai faktor psikologis. Tetapi bukan itu yang menjadi utama dalam konteks kekristenan. Seseorang yang betul-betul mengalami pertemuan pribadi dengan Tuhan, agar dikuatkan dan dibentuk oleh Roh Kudus. Orang yang bertobat digambarkan sebagai orang yang diciptakan baru, dengan roh dan pikiran yang baru (Efesus 4: 23). Ini artinya pembaharuan yang memberikan diri citra yang baru, yang dengan efektif akan menghilangkan rasa minder.
Sebagian dari para rasul adalah nelayan, yang jelas punya rasa minder jika berurusan dengan para pemuka agama Yahudi. Demikian juga Timotius muda, murid Paulus yang diingatkan agar jangan merasa rendah sekalipun masih muda (1 Timotius 4: 12). Jadi jelas semuanya berkaitan erat dengan relasi pribadi kita dengan Tuhan. Baik soal motivasi, kesombongan, maupun persoalan rendah diri, semua soal citra diri. Dalam keberdosaan kita punya citra diri yang salah, semuanya self oriented. Setelah dilahirkan baru, maka mereka yang sungguh-sungguh, bukan hanya sekadar mengaku sudah lahir baru, citra dirinya dipulihkan, sehingga menjadi God oriented. Terjadi perubahan kualitas kehidupan, dan itu menjadi tanda yang tidak terbantah.
Kita perlu membuat sebuah garis tegas, jika ada orang yang tidak berubah sama sekali, jelas belum ada pertobatan. Jangan sampai tertipu, sekalipun dengan keras orang itu mengaku. Jika ada perubahan namun masih tampak sedikit, itu adalah proses pertumbuhan. Jika sudah matang rohaninya, tampak nyata sekali bedanya. Karena itu setiap kita perlu mempertanyakan diri di mana posisi kita sebenarnya sebagai seorang percaya. Ingat, pohon dikenal dari buahnya (Matius 7: 20).
Demikianlah jawaban dari kami Salomo yang dikasihi Tuhan, kiranya ini boleh menjadi berkat bagi kita semua. Selamat berjuang dan bertumbuh menjadi seorang Kristen yang berbuah, dan hidup menjadi saksi Tuhan yang tidak bercela, di mana pun berada. v         

Komentar


Group

Top