Manajemen

Abraham Meninggalkan Zona Nyamannya

Penulis : Harry Puspito | Tue, 2 February 2021 - 12:37 | Dilihat : 942

Dalam beberapa tulisan sebelumnya kita telah membicarakan tentang 'comfort zone,' satu konsep yang bahkan sudah 'keluar' dari wawasan Alkitab ke dunia luas. Comfort Zone atau zona nyaman diyakini menjebak orang dalam situasi dimana seseorang merasa nyaman sehingga dia tidak mau melangkah keluar, walau pun itu memungkinkan dia menggapai potensi-potensinya yang lebih besar.

Alkitab menuliskan banyak kisah orang meninggalkan 'comfort zone' mereka untuk dipakai Tuhan. Fenomena ini adalah konsekuensi wajar dari sikap dasar iman Kristen yang mendorong seseorang untuk melangkah keluar secara radikal dari kehidupan lamanya dengan kenyamanan dalam kendali diri sendiri, tapi penuh keterbatasan dan masalah itu, kepada panggilan Sang Pencipta, untuk menyerahkan kendali hidupnya kepada Dia, melalui iman kepada Yesus Kristus.

Sebenarnya ini adalah langkah keluar dari zona nyaman paling besar dalam hidup seseorang karena melibatkan penyerahan kendali kehidupannya secara total kepada otoritas di luar dirinya. Namun dengan pengenalan dan keyakinan bahwa pemegang kendali hidup barunya itu adalah Allah yang kasih dan benar, maha kuasa dan berdaulat, maka kita memiliki keyakinan hidup baru kita itu sama sekali lebih baik dibandingkan hidup lama kita. Inilah yang para teolog sering sebut sebagai panggilan primer.

Namun titik perubahan yang sering kita sebut sebagai lahir baru itu, ternyata baru awal dari perjalanan keluar zona nyaman seumur hidup seseorang, seperti antara lain diungkapkan dalam Efesus 2:8-10 berikut: Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ternyata setelah pertobatan panggilan iman berikut dari Allah, yaitu panggilan sekunder dan ini terjadi dalam sisa hidup kita.

Dalam perjalanan iman kita inilah kita sering membentuk zona nyaman baru dan kemudian terjebak didalamnya. Kita mengelilingi diri kita dengan lingkungan orang-orang seiman yang membuat kita merasa nyaman. Kita melakukan kegiatan-kegiatan, termasuk kegiatan pelayanan untuk Tuhan, yang membuat kita merasa sudah menjalankan tugas tapi aman-aman. Kita lupa dengan apa yang mula-mula terjadi dengan hidup kita. Kita lupa bahwa Tuhan kita memanggil kita ke kehidupan baru yang di luar imajinasi kita.

Salah satu ilustrasi kisah panggilan sekunder itu adalah yang terjadi pada Abraham yang meninggalkan keluarga dan negerinya pergi ke negeri asing yang akan Allah tunjukkan kepadanya (Kejadian 12:1-3). Panggilan pertama Abraham ditulis pada pasal sebelumnya. Dia bersama dengan Terah ayahnya, Sara istrinya dan Lot keponakannya dipanggil keluar dari tanah kelahiran mereka Ur-Kasdin menuju tanah Kanaan, ya tanah yang nantinya diterima oleh bangsa Israel setelah keluar dari perbudakan Mesir dan melampaui perjalanan di padang pasir selama 40 tahun. Namun mereka berhenti di Haran dan tinggal disana sampai Terah mati. Kemudian Allah memanggil Abram keluar dari negerinya itu, dari sanak saudaranya, dan dari rumah bapanya itu menuju ke negeri yang akan Allah tunjukkan kepada Abram (Kej 12:1).

Rumah adalah tempat yang paling nyaman dan aman bagi kebanyakan orang. Kemana pun kita pergi, betapa pun menariknya tempat yang kita kunjungi, pada akhirnya kita memilih untuk pulang ke rumah. Di rumah ada keluarga yang menerima kita dengan segala kelebihan dan kekurangan kita. Kita merasa nyaman di rumah yang segala sudut-sudutnya kita kenali. Ketika kita membutuhkan ketenangan kita tahu kemana kita akan pergi. Pada masa Abraham, rumah bukan sekedar tempat tinggal bersama, tapi bersama keluarga di rumah, adalah masalah survival.

Ada tujuan besar di balik panggilan Tuhan yaitu menjadikan keturunan Abraham suatu bangsa yang besar, memberkati dia, menjadikan namanya masyhur, dan menjadikan dia berkat - dan pada akhirnya Kerajaan Allah dalam Yesus Kristus. Untuk itu Allah memerlukan 'ruangan' besar untuk mendidik, mempersiapkan Abraham dan untuk mewujudkan rencana-Nya itu melalui seorang Abraham. Ini tidak bisa terwujud di tengah keluarga, di negeri Abraham itu. Menjawab panggilan Allah itu, Abraham harus keluar dari zona nyaman tempat tinggal dan keluarga besarnya menuju tempat yang dia belum tahu, tapi dia punya iman itu adalah yang terbaik bagi dirinya. Terlebih dia melihat itu sebagai bagian dari rencana besar Allah bagi segala bangsa, yang akan melimpahkan segala berkat-Nya.

Apakah kita menyadari panggilan-panggilan Allah yang terus menarik kita keluar dari zona nyaman kehidupan kita? Belajar dari hidup Abraham, kita tahu panggilan Allah itu adalah untuk menjadikan kita menjadi lebih besar dalam kerajaan-Nya. Itu berarti menjadikan kita pelayanan-Nya dengan jangkauan yang semakin besar. Bagaimana kita menanggapi panggilan-Nya itu? Tuhan Yesus memberkati!

Lihat juga

Komentar


Group

Top