Sudut Pandang (SUP)

Ketika Persekongkolan Mengabaikan Nilai

Penulis : Pdt Bigman Sirait |
Pinang meminang antara para calon presiden (capres) dan wakil presiden (cawapres) berakhir sudah. Entah apa dan berapa jumlah "mas kawin"nya, tak jelas terdengar. Yang kita tahu cuma perhelatan tiap pasangan berlangsung meriah dan diusahakan seheroik mungkin. Heroik, karena acara dilakukan di tempat yang memiliki nilai sejarah, seperti Tugu Proklamator. Pernyataan mereka pun meniru-niru tokoh-tokoh pejuang, bahkan tidak segan memproklamirkan diri sebagai harapan bangsa.

Media massa yang meliput kembali menuai iklan gelombang kedua setelah pemilihan umum legislatif yang telah usai. Kelima pasang capres dan cawapres, sudah terdaftar di KPU. Masing-masing menyebut diri sebagai pasangan yang sangat ideal: militer -sipil, agamais -nasionalis, dan satu lagi pasangan pembela reformasi. Gong kampanye belum dibunyikan, namun dengan jeli mereka memperkenalkan program sekaligus mendaulat diri sebagai pimpinan yang akan membawa negeri ini keluar dari jurang kehancuran.

Mereka membentuk barisan pendukung, pembela, atau apa pun namanya. Suasananya sangat meriah, maklum baru kali inilah rakyat diberi "kehormatan" memilih junjungannya. Nah, di tengah hiruk-pikuk "pesta kawin" para capres tersebut, hadir pula tamu-tamu yang notabene petinggi parpol peserta pemilu yang tidak bisa mencalonkan diri karena suara yang diperoleh partainya tidak mampu melewati angka 3 %. Tidak lolos menjadi capres-cawapres, tidak membuat mereka "alergi" dengan politik dan kekuasaan. Para tamu agung yang tidak pernah kehabisan akal ini menjalin koalisi dengan partai pemenang pemilu. Untuk apa? Untuk mencari "kesempatan".

Kesempatan yang dimaksud di sini bisa jadi berupa pembagian jabatan. Dan hal semacam ini memang lumrah dalam dunia politik. Hanya saja, ini menjadi tak lumrah bagi partai partai politik yang meneriakkan idealisme dan janji-janji selangit kepada konstituen (pemilih)-nya. Kuli adalah seorang konstituen sebuah partai. Dengan berang dan suara garang dia berkata, Berkoalisi, itu sama saja dengan menjual ideologi yang saya yakini! Badut, temannya, menjawab dengan lugu, Kok bisa begitu? . Lha, bagaimana tidak! sergah Kuli, tetap dengan nada garang. Wong dulu mendirikan partai, alasannya kan jelas, yaitu untuk memperjuangkan kepentingan kita. Partai didirikan dengan biaya tinggi. Karena itu saya memilihnya. Tetapi sekarang tidak ada yang mau memperjuangkan nasib kita. Lalu, jika kenyataannya adalah kalah mengapa harus berkoalisi? lanjut Kuli masih tetap galak.

Badut mencoba menenangkan temannya, Aku baca koran, para pemimpin partai berkata bahwa kita memiliki persamaan visi. Kuli yang belum mau terima, masih kukuh, Tidak bisa! Kalau memang ada persamaan visi, itu sudah diketahui sejak awal. Kalau ada persamaan visi ngapain ramai-ramai mendirikan partai. Kan lebih bagus bergabung sehingga lebih kuat. Yang terjadi sekarang ini kan akal-akalan, teriaknya.

Badut terdiam sesaat, dia sungguh tak tahu apa-apa soal politik. Dia hanya tahu melucu dengan kata-kata yang apa adanya. Dia tidak biasa menelikung kata, apalagi berpura-pura. Kemarin, waktu memilih partai, dia juga memilih karena mendengar pemimpin partai berkata dalam kampanye, Kami ada untuk Anda, membela yang tersingkir dan mengembalikan hak Anda sekalian. Badut percaya itu, karena baginya adalah tabu untuk menipu. Badut tidak menyadari bahwa bagi para orator partai yang berkoar-koar di atas mimbar itu, tidak menipu justru tabu. Sehingga setelah mendengar dan menyimak argumentasi temannya itu, Badut mendesah dan berkata lirih, dengan mimik wajah yang sama sekali tidak lucu, Aduh, kalo gitu aku ketipu. Mengetahui argumennya dapat diterima, Kuli makin bergairah, Lha iya, bukan hanya kita, tapi jutaan pemilih yang lainnya, kata Kuli. Sekarang, aku malah merasa kehilangan kekuatan, sepertinya untuk mengangkat satu keranjang saja aku tak mampu (biasanya dia mampu mengangkat lebih dari lima keranjang sekaligus).

Kuli dan Badut hanyalah dua dari jutaan pemilih yang harus kecele. Tapi sekali lagi, itulah realita politik. Seharusnya para pemimpin partai politik memiliki etika yang tinggi. Lebih baik memilih sendiri dan tidak berkoalisi dalam memilih presiden, kecuali lewat fraksi, karena tuntutan minimal kursi yang dimiliki. Berkoalisi dengan partai lain, dengan alasan memiliki persamaan visi, hanyalah sebuah pembodohan. Sekalipun kalah, partai politik toh bisa bersikap elegan, memberikan pelajaran politik dengan cara mengakui dan menjelaskan kekalahan. Kemudian memberikan kebebasan kepada para konstituennya memilih capres disertai pembekalan yang cukup. Memberi pernyataan untuk tidak akan terlibat dalam kabinet (tidak mencari kursi) dan memilih menjadi oposisi murni, suatu bukti elegansi. Sedikit banyak, sikap semacam ini memberikan nuansa kemurniaan bagi para petinggi partai, sekaligus keyakinan dan kebanggaan bagi para konstituennya.

Kalah, itu biasa. Tapi jangan memalukan. Malu, ahhh Karena itu setiap politisi harus menyadari risiko politik, dan bukan memanfaatkan ketidaktahuan konstituennya. Entah sampai kapan, tapi semoga kita bisa belajar. Akhirnya, semua itu berpulang pada Anda, yang katanya dikehendaki Yesus menjadi garam dan terang dunia. Masih asinkah saudara, atau sudah tawar karena terlalu banyak tawar-menawar? Sudah terangkah saudara? Atau justru perlu untuk diterangi karena terbiasa gelap-gelapan? Karena itu jadilah cerdas, belajarlah agar tidak mengulangi kesalahan. Selamat memilih presiden dan jangan lagi menjadi korban gosip (ocehan atau SMS gelap tak bertuan).

Komentar


Group

Top