Konsultasi Theologi

Lagi, Soal Hari Kebangkitan Yesus

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Tue, 27 September 2011 - 09:51 | Dilihat : 5816

Pdt. Bigman Sirait

Reformata.com - Pak Pendeta, menyambung pertanyaan saya yang sudah dibahas pada edisi 141, dengan judul: “Yesus Mati pada Hari Rabu, Bukan Jumat”, yang ingin saya tahu bukanlah soal tiga hari, melainkan soal mengapa Jumat Agung yang disebut sebagai hari kematian. Sebagaimana yang saya sampaikan di edisi sebelumnya, bahwa penyaliban dan kematian Yesus adalah hari Rabu, menjelang perayaan Paskah Yahudi yang jatuh pada 15 Nisan hari Kamis kalender Yahudi. Sehingga hitungan tiga hari tiga malam (72 jam) yang dikatakan Alkitab itu tepat. Jadi hari penyaliban tidak mungkin jatuh pada hari Jumat. Dan, pertanyaannya adalah mengapa disebut hari Jumat.

Mahisah Jusuf
Jakarta Timur

SAUDARA Mahisah Jusuf, menyambung jawaban saya dalam rubrik Konsultasi Teologi edisi 141,  dan merespon jawaban yang baru saya terima berikut lampirannya, dengan ini saya sampaikan tambahan bahan pemikiran, sebagai berikut.
Jika memang Saudara yakin bahwa Yesus Kristus disalibkan dan mati pada hari Rabu, dengan asumsi yang telah disampaikan, juga artikel Manna Surgawi yang dilampirkan, menarik juga untuk kita teliti lebih lanjut. Bahwa jawaban saya di Reformata edisi 141, menurut Saudara tidak menjawab pertanyaan, bisa saya pahami karena sangat tergantung dari sudut pandang.
Dake’s Annotated Bible Reference Bible sebagai salah satu buku tafsir adalah sah. Hanya saja sebuah tafsir harus kita terima dan tempatkan sebagai sebuah sumber pemikiran, dan bukan kebenaran final. Bahwa ada tafsir lain tentang hal ini, itu juga lumrah, karena namanya juga tafsir. Dan perlu diingat, tafsir bukan Alkitab itu sendiri, melainkan tafsir tentang Alkitab itu. Mana yang lebih mendekati kebenaran Alkitab tentu itu kerinduan kita. Sehingga dengan demikian kita tidak menjadi salah dalam mendekati dan memahami Alkitab secara utuh. Mengingat argumentasi yang Saudara sampaikan bahwa Rabu adalah hari yang sesuai dengan Alkitab (usaha memahami tiga hari dan tiga malam, yang juga berarti 72 jam), mari kita lihat dan Sebuah bagan sederhana tentang Tuhan Yesus Kristus disalibkan dan mati hari Rabu : Jadi, jika kita menghitung dengan cara yang umum kita pahami (1 hari, 1 malam 24 jam, dan 3 hari, 3 malam = 72 jam) :
1. Yesus yang disalibkan dan mati dengan asumsi, pada hari Rabu pukul 3 siang (Matius 27: 45-46, Yesus meninggal kira kira pukul 3). Bahwa Yesus akan bangkit setelah tiga hari tiga malam (72 jam), itu berarti Sabtu pukul.3 siang, bukan Minggu dini hari (Matius 28:1-6, Yesus bangkit hari Minggu dini hari). Karena jika bangkit hari Minggu dini hari, itu berarti 84 jam.     Apakah hal ini dapat dikatakan sesuai dengan Alkitab? Saya yakin, fakta ini justru tidak sejalan dengan Alkitab. Dan menurut hemat saya, Saudara juga pasti sependapat kalau 84 jam tidak sama dengan Alkitab. Ingat, asumsi modern kita dengan menghitung hari ke dalam satuan waktu,  yaitu jam.
2. Jika Yesus disalibkan dengan asumsi, pada hari Kamis pukul 3 siang (Matius 27: 45-46), maka Yesus akan bangkit pada hari Minggu pukul3 siang (72 Jam), bukan pukul 3 dini hari, karena itu berarti 60 jam. 
3. Dan juga, jika hari Kamis, itu tidak sama dengan persiapan Sabat khusus (sehari sebelum), yang jatuh pada 15 Nisan, yaitu hari Kamis. Jadi Persiapan Sabat, atau sehari sebelum Sabat, yang dimaksud Alkitab, jelas mengacu ke Sabat rutin (Sabtu), yaitu hari Jumat.
4. Dan perhatikan dengan teliti, fakta Alkitab yang menyebutkan kematian Yesus dengan jelas: pukul 3 siang (Matius 28: 46, Markus 15: 34, Lukas 23: 44) tetapi tidak jelas menunjuk waktu kebangkitan-Nya (Matius 28:1, Markus 16:2, Lukas 24:1, Yohanes 20:1). Jika memang waktu 72 jam itu memang penting, apakah mungkin para murid lalai? Tapi memang jelas, kitalah yang membuat ini menjadi masalah, sementara bagi para murid tidak, karena terminologi yang mereka pakai sangat jelas (bukan 3 hari, 3 malam = 72 jam, tetapi hari ke-3 sesuai perhitungan mereka). Ingat, sorenya pukul 6 (setelah Yesus mati), sudah hari pertama. Konteks mereka bukan konteks kita. Mari kita ikuti apa yang mereka maksud dengan menggali paham Alkitab (eksegese), bukan apa yang kita pahami dan mencocokkannya dengan Alkitab (eisegese).
5. Maka jelas, kesimpulan hari Jumat sebagai hari kematian bukanlah karena keputusan sebuah konsili, melainkan tradisi gereja yang berjalan sejak era para rasul. Sama seperti ibadah kita saat ini hari Minggu (Ahad),  bukan Sabtu (Sabat). Konsili hanyalah meneguhkan ketetapan yang memang sudah ada, sekaligus dalam penyusunan kerangka organisasi, dan hari raya gerejawi. 
Seperti soal ibadah hari Minggu, bukan Sabtu juga menjadi perdebatan bagi beberapa gereja tertentu. Juga cukup tajam di kalangan umat. Hal ini pun sesungguhnya tak perlu terjadi. Namun ini akan menjadi diskusi tersendiri. Hal terakhir yang ingin saya sampaikan adalah, betapa semua ini membutuhkan pendekatan kultural seturut pemahaman yang berlaku pada waktu itu, bukan pemaksaan pemahaman kita di masa kini. Sementara soal tafsir biarlah itu menjadi kekayaan, namun bukan pengharusan. Dalam hal tafsir, argumentasi yang sehat dan benar diperlukan. Di sisi lain, kita juga harus memperhatikan mana yang esensial dan bukan. Kontents Alkitab tetap sama, dulu, sekarang, dan selamanya, namun konteks, berjalan seiring perjalan jaman. Ini seringkali menjadi permasalahan. Karena itu, mari kita pahami kontents Alkitab sesuai dengan konteksnya, dan kita letakkan dalam konteks kita, namun jangan juga dipaksakan. Itu sebab, dalam hal soal kematian Yesus hari Jumat, perhitungan harinya harus kita pahami sebagaimna konteks pada masa itu (lihat edisi 141). Semoga ini memperkaya kita semua. Selamat menikmati tulisan tulisan dalam REFORMATA edisi terbaru ini, Tuhan Yesus Kristus menyertai kita. v







 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top