Finishing Well

Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Sekarang kita adalah orang percaya, yang kenal Tuhan, bertumbuh, bersemangat melayani Dia. Setiap Minggu kita beribadah kepada Dia. Kita melayani Tuhan dalam pekerjaan dan bahkan dalam pelayanan rohani. Banyak di antara kita yang dipakai secara khusus dalam berbagai tugas yang luar biasa sesuai dengan talenta yang Dia karuniakan, apakah itu memberitakan Injil, mengajar, memimpin, mengusahakan dana yang besar untuk pembangunan gereja, dsb. Kita tidak sekedar memberi persepuluhan tapi tidak terhitung jumlah yang kita persembahkan untuk pekerjaan Tuhan. Kita bersemangat belajar Alkitab melalui PA, seminar, buku-buku bahkan banyak yang sampai kuliah teologi dan menggapai gelar akademis.
Pertanyaannya bagaimana keadaan kita ketika mengakhiri periode hidup kita di bumi ini? Apakah kita akan masih di dalam semangat dan proses pertumbuhan itu? Atau kita telah ada dalam perubahan arah dan menjadi lemah? Apakah pada waktu itu kita ada dalam daftar pokok doa agar iman-nya tetap kuat, karena menunjukkan gejala-gejala melemah atau kita semakin dilihat sebagai teladan iman? Dengan perkataan lain apakah kita akan Finishing Well atau Finishing Bad.
Pertanyaan ini penting karena Alkitab mengutamakan Finish daripada Start, akhir daripada awal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu. (Matius 19:30). Ayat ini diulang-ulang oleh Tuhan dalam berbagai kesempatan, menunjukkan Tuhan concerned dengan kecenderungan orang merosot dalam imannya. Demikian serius Finishing Well bahkan Finishing Bad bisa membuat kita ditolak Dia seperti terlihat dalam beberapa tokoh Alkitab.
Misalnya, Allah menentang jemaat Efesus yang sudah pernah mengasihi Allah dengan luar biasa tapi kemudian kehilangan kasih mula-mula mereka (Wahyu 2: 4). Allah menuntut mereka agar bertobat dan kembali kepada kasih mereka kepada Dia yang mula-mula dengan melakukan apa yang mula-mula mereka lakukan bagi Allah itu.
Tidak hanya di lingkungan kita, kita melihat banyak orang yang tidak Finishing Well bahkan dalam Alkitab kita melihat banyak tokoh yang demikian. Saul yang diurapi Samuel menjadi raja Israel yang pertama mengakhiri hidupnya dengan tragis, ditolak Tuhan danmati bunuh diri. Yudas menjadi salah satu dari 12 murid Yesus, tapi kemudian mengkhianati Yesus dan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Salomo yang dipuji Tuhan karena berdoa untuk hikmat untuk memerintah sebagai raja pada masa mudanya – tidak meminta harta dan kematian musuh-musuhnya – tapi kemudian pada masa jayanya memiliki 700 istri, 300 gundik yang sangat mengikat hatinya dan membuat dia terlibat dalam penyembahan berhala.
Robert Clinton yang menyelidiki tokoh-tokoh pemimpin di Alkitab dab berdasarkan data-data yang ada menyimpulkan kurang dari 1 dari 3 pemimpin yang Finishing Well. Artinya mayoritas tokoh-tokoh pemimpin dalam Alkitab tidak Finishing Well.
Namun kebalikannya kita juga melihat dari lingkungan kita orang-orang yang Finishing Well, baik yang dipanggil pada usia yang relatif mudah mau pun yang dipanggil pada usia lanjut. Demikian juga kita melihat dalam Alkitab contoh-contoh tokoh yang demikian.
Kaleb, misalnya, adalah salah satu dari 12 utusan Musa yang percaya Israel seharusnya bisa mengalahkan penduduk Kanaan dengan kekuatan Tuhan dan menduduki tanah perjanjian itu. Hingga usia lanjut dia masih bersemangat berperang untuk menduduki tanah perjanjian. Jusuf, salah satu dari 12 anak Yakub, adalah salah satu toko Alkitab yang mengakhiri dengan baik. Dari seorang anak yang manja; terbentuk menjadi pekerja yang takut Tuhan di keluarga Potifar, di penjara Mesir; tapi akhirnya menjadi orang kedua di kerajaan itu. Menjelang akhir hayatnya kepada saudara-saudaranya dia mengatakan: “Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub.” (Kej 50:24b).
Satu tokoh yang Finishing Well adalah Paulus, seorang Farisi yang semula memusuhi umat Tuhan tapi kemudian bertobat, melayani pemberitaan Injil secara luar biasa dan terus bersemangat hingga akhir hayatnya. Kesadarannya tentang arti hidup sebagai suatu perjuangan yang harus dimenangkan hingga akhir hayat terlihat dalam salah satu ungkapannya dalam 2 Timotius 4:7 – Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

Ini menjadi peringatan bagi kita.
Apa yang terjadi dan kita alami sekarang tidak menjadi jaminan akan terus kita alami pada akhir hidup kita jika kita lengah. Saya percaya hanya kasih karunia Allah yang memberi visi tentang akhir misi dan hidup kita di bumi. Kesadaran akan kemungkinan terjadinya kegagalan dan tidak Finishing Well seyogyanya mendorong kita memikirkan strategi bagaimana kita tidak termasuk dalam kelompok yang gagal di tengah jalan tapi termasuk dalam kelompok yang Finishing Well. Banyak hal kita bisa belajar dari para tokoh Alkitab maupun dari luar Alkitab bagaimana kita bisa menyelesaikan hidup dengan berkemenangan dan beberapa akan kita bahas dalam tulisan yang akan datang. Namun secara prinsip kita harus hidup dalam rencana Tuhan yang menginginkan kita Finishing Well, yaitu membuat rencana dan pilihan-pilihan dalam mengarungi kehidupan yang mendekatkan kita kepada Dia. Dengan kata lain, kita seyogyanya berpegang pada Plan Well, Start Well and Finish Well. Tuhan memberkati!!!

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *