Khotbah Populer

Allah Itu Roh, Tapi Nyata

Tags : Doktrin Allah Doktrin Roh Kudus

Terkait


Pdt. Bigman Sirait

Follow Twitter: @bigmansirait

Kita akan berangkat dari kitab Keluaran 3: 13-14—Lalu Musa berkata kepada Allah: “Lalu apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya, apakah yang harus kujawab kepada mereka? Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”

Bagaimana memahami secara utuh makna pernyataan Allah kepada Musa ini?

Bagian pertama yang perlu kita ketahui, sekarang ada dua istilah: teistik dan ateistik. Teistik adalah percaya akan adanya Allah. Lalu ateistik adalah orang yang tidak percaya Allah itu ada. Kelompok yang percaya Allah itu ada disebut orang beragama. Sedangkan kelompok kedua, katakanlah, diwakili oleh komunisme. Sebetulnya komunisme itu berangkat dari paham materialisme, yang menganggap segala sesuatu itu berasal dari materi. (Tapi ingat, materialisme beda dengan materialistis!)

Materialisme percaya bahwa segala sesuatu itu berasal dari materi. Karena itu tidak ada roh, dan tidak ada yang tak kelihatan. Semua pasti kelihatan, karena materi. Jadi, mereka tidak percaya Allah itu ada. Kemudian pandangan ini masuk ke dalam paham komunisme, sehingga komunisme tampil ateis, tidak percaya Allah itu ada. Tetapi waktu kita bicara teistik (orang yang percaya Allah), muncul lagi persoalan: “Allah yang mana?” Allah setiap agama kan beda. Keyakinan tentang Allah juga beda rumusannya. Tapi kita tidak akan membahas masalah perbandingan agama, tapi memikir-kan tentang Allah yang kita sembah itu seperti apa dan bagaimana?

Yang perlu kita ketahui, pertama, Ia adalah Allah Roh, bukan materi. Karena Ia roh, Ia tidak bisa dikurung dalam ruang dan waktu. Ia tidak berdaging. Karena Ia roh, Ia tidak sama dengan kita. Tetapi ketika dikatakan kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, lalu apanya yang segambar dan serupa? Suatu waktu kita akan membahas ini. Tetapi paling tidak, kita mengerti kalau yang dikatakan “segambar dan serupa dengan Allah” itu adalah potensi yang ada pada diri-Nya, ditaruh pada manusia. Secara sederhana saja, Allah bisa bersekutu, maka manusia juga mampu bersekutu. Allah itu mampu mencipta, manusia juga mampu mencipta tetapi cuma “fotokopinya”. Sedangkan Allah mencipta dari yang tidak ada menjadi ada.

Allah yang roh itu adalah Allah yang juga intervensi atau menyatakan diri dalam kehidupan umat-Nya. Ia bukan  allah roh yang berada nun jauh di sana, kemudian tidak bisa dikenal, dan sangat mistis. Ia Allah yang roh, tetapi nyata. Tentang ini Yesus berkata kepada Nikodemus, “seperti angin yang kau tahu dan yakini, kau yakin ia ada, tetapi kau tidak bisa melihat dan menjamah, tak tahu dari mana dan mau ke mana ia pergi, tetapi ia ada”. Jadi Allah itu adalah Allah yang roh, tetapi sekaligus Allah yang menyatakan diri, Allah yang nyata, sekalipun tak bisa diraba, tetapi Ia aktual dalam kehidupan umat-Nya.

Musa

Ketika Musa bertanya kepada Allah tentang siapa diri-Nya, Allah berkata, “AKU adalah AKU...”  Musa bukan orang bodoh, apalagi dia pernah mendapat pendidikan di istana Mesir. Maka bagi Musa, sangat perlu mengetahui dengan jelas tentang identitas, kekuasaan, atau wewenang pihak yang menyuruhnya, agar dia bisa menjelaskan hal itu kepada orang-orang Israel. Bagi dia, segala sesuatu itu harus clear (jelas).

“AKU adalah AKU”, sekaligus menegaskan bahwa tentang siapa Allah, bukan berdasarkan keterangan manusia atau keterangan Musa. Allah bisa melakukan itu di dalam kesendirian-Nya. Tetapi di ayat 15, Allah juga memberikan penjelasan: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun”.

Jadi yang bisa kita pahami, pertama, Allah adalah Allah yang menyatakan diri-Nya. Ia Allah yang tidak membutuhkan penjelasan manusia tentang siapa Ia. Sebab Ia bisa menyatakan apa yang ingin Ia nyatakan. Dan Ia menyatakan hanya sebatas apa yang ingin disampaikan-Nya, atau apa yang ingin dikatakan-Nya. 

Jadi, di dalam pemikiran dan pemahaman kita tentang Allah, kita perlu memerhatikan secara serius, ada bagian kedaulatan Allah yang mutlak dikatakan kepada kita, tetapi ada bagian lain yang dinyatakan kepada kita dengan tuntas, lugas. Jadi dalam hidup ini, ada  bagian di mana menyangkut relasi kepercayaan kita dengan Tuhan. Dan yang kedua, itu juga bisa kita jelaskan kepada orang lain yang ingin mengenal siapa Tuhan. Tapi hati-hati, sebab kita tidak akan pernah mampu menjelaskan Tuhan dengan tuntas. Karena untuk mengenal Tuhan, ada penjelasan yang bisa dipakai. Tetapi jangan lupa, kuasa Tuhanlah yang membuat orang mengenal siapa Ia.

 “AKU adalah AKU”, menyatakan, pertama: Allah itu adalah Allah yang berdaulat yang tidak bisa diganggu gugat. Ia berdaulat penuh atas umat-Nya. Ia Allah yang berdaulat, yang bisa melakukan apa yang Ia mau. Ia tidak perlu menjelaskan siapa diri-Nya. Ia tidak tunduk kepada penjelasan manusia, dan penjelasan manusia  tidak akan membuat Ia menjadi Allah, atau menjadi Allah yang dikenal. “AKU adalah AKU” cukup sampaikan itu, jangan tanyakan yang lainnya. “AKU adalah AKU” jalankan saja bagianmu.

Tidak sederhana, tetapi itulah yang dikatakan Allah. Ia adalah Allah yang berbuat, tetapi Ia juga Allah yang menjamin. “Lakukan saja apa yang Ku-katakan, dan jangan takut akan hidupmu, jaminan yang akan kau dapatkan, karena AKU adalah AKU.”q         

Komentar


Group

Top