Sudut Pandang (SUP)

Ketika Menjilat Terasa Manis

Penulis : Pdt Bigman Sirait |
HIRUK-PIKUK penghitungan suara hasil Pemilu 2004 masih berlangsung, namun pemenangnya sudah semakin jelas. Yang menarik adalah Partai Golkar. Sebelum pemilu berlangsung banyak tokoh Golkar dimasukkan ke dalam keranjang sampah tempat khusus bagi para politikus busuk . Golkar juga dinubuatkan akan mengalami kemunduran. Tapi, kenyataan berkata lain. Entah ini murni pilihan rakyat, ataukah cara penghitungan suara yang direkayasa, atau mungkin juga lantaran kepongahan sekaligus kebodohan partai politik (parpol) lainnya. Yang pasti, Golkar memimpin dalam perolehan suara sementara, bersaing dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di peringkat dua, dengan perbedaan suara yang sangat tipis. Besar kemungkinan Golkar akan tampil sebagai pemenang pertama.

Di sisi lain muncul pula kuda hitam, yaitu Partai Demokrat, partai baru dengan prestasi wah, yang menembus ke-5 besar. Sementara itu, partai bernuansa agama semakin hari semakin nyata, bukan merupakan pilihan pertama dari umat beragama. Partai bernuansa nasionalis ternyata lebih diminati. Realita ini tentu saja mengganggu mereka yang sangat pede (percaya diri) dan beriman besar sebelum pemilu berlangsung. Perasaan terkejut dan gelisah yang amat sangat melanda banyak para politikus.

Sebelum pemilu, banyak politikus menempatkan diri sebagai pahlawan terbaik, bahkan juru selamat bangsa ini. Mereka seolah berlomba meneriakkan dirinya paling bersih, paling demokratis, dan sudah pasti layak menjadi RI 1. Namun apa yang terjadi, penghitungan suara belum selesai, sudah muncul sekelompok politikus yang menyatakan diri Aliansi 19 Partai , dan bertekad menolak hasil pemilu. Mengkritisi cara kerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentu penting, bahkan harus. Tapi menyatakan penolakan sebelum proses selesai, tentu sangat sulit dipahami. Belum selesai, belum ada kesimpulan, lha, kok sudah ditolak. Bukankah ada jalur hukum sebagai kereta demokrasi? Biarlah pengadilan yang memutuskan, bukan aliansi partai yang nggak jelas arahnya itu. Mungkin ada kecurigaan bahwa pengadilan akan curang, tapi itulah jalur resmi yang ada.

Dengan demikian, kita belajar berdemokrasi sekalipun terasa sangat pahit. Berbeda bukan untuk terpecah. Tapi bagi para tokoh kita yang agung dan selalu benar itu , sulit menerima kenyataan ini, karena merekalah yang benar. Rakyat, hanya termangu. Usai memilih kok malah jadi ramai. Tahu begini, mending nggak usah memilih kata rakyat kebanyakan . Tapi ada lagi yang lebih menarik, sangat menarik, bahkan membuat kita tercengang. Ada tokoh maupun partai yang sebelum Pemilu secara terbuka atau samar mengutuki Golkar sebagai hunian politisi busuk, namun kini dengan malu-malu kucing mulai menyatakan cinta. Lamaran koalisipun mulai dikumandangkan secara halus tapi jelas, sejelas busuknya hati mereka. Jatuh cinta pada yang dikutuk busuk, sungguh pembusukan yang sangat busuk. Namun sudah dapat dipastikan, jawabannya pasti sangat klise; ini kan politik, kita harus realistis.

Realistis memang harus, tapi tanpa etika itu sama saja dengan mengkhianati konstituennya. Tapi, siapa peduli. Toh yang dikejar oleh kebanyakan politisi, khususnya yang miskin etika (maklum, hati nuraninya sudah bangkrut), mereka hanya mengejar kursi parlemen, bukan berjuang untuk konstituennya. Kursi yang bisa menebalkan kocek setiap bulannya, yang membuat banyak pendeta parlemen mengabaikan domba gembalaannya atau politisi tulen yang rela mengobral harga dirinya dengan special rate . Golkar kini bagaikan madu yang diburu kumbang. Kumbang yang coba mendapatkan madu itu dengan sejuta cara. Kenyataan ini sungguh merupakan pembelajaran politik yang sangat penting bagi seluruh anak bangsa, khususnya umat Kristen.

Semua harus mau belajar fakta di lapangan bahwa untuk berpolitik diperlukan modal dasar yang tidak bisa ditawar, yaitu I-4: Ilmu tentang bidang politik yang ditekuni, Iman yang dapat dipertanggungjawabkan, Integritas yang sudah teruji, dan Interaksi Komunikasi yang melintasi batas kesukuan atau keagamaan. Analisa tiap politisi yang mencalonkan diri, apalagi yang suka mempublikasikan diri. Mereka yang besar mulutnya tetapi kecil kemaluannya . Model yang seperti ini tidak akan sungkan berpindah partai atas nama mengabdi, padahal mereka mencari upeti. Umat dituntut untuk jeli dan tidak mudah terprovokasi dengan yel-yel yang tampaknya patriotik dan karismatik. Tak kurang yang menjual visi dibungkus dengan baju rohani yang tampak wah, lengkap dengan ayat suci dan pertemuan pribadi dengan yang illahi. Atau, juga dukungan dari banyak pendeta provokator yang memberi dukungan secara membabi-buta tanpa catatan kaki yang berarti. Anda jangan ikut menjadi buta dan memutuskan pilihan dengan emosional. Jangan lupa menganalisa dengan I-4.

Nah, kembali kepada para politisi yang suka menjual diri kepada orang yang pernah mereka caci-maki sebagai busuk, kini nyatalah mereka tak memiliki integritas. Kemenangan partai dari masa ke masa masih ditentukan oleh rendahnya pendidikan politik kebangsaan secara menyeluruh. Yang jeli itu baru di kota besar saja, dan itu pun tidak seluruhnya. Situasi ini disadari dan dimanfaatkan betul oleh politisi yang mengisi pundi-pundinya atau popularitas dirinya dengan menjual program yang tak bertuan. Bagi para politisi ini menjual diri bukanlah masalah, apalagi menjual konstituennya. Itu pekerjaan rutin lima tahunan. Menjilat terasa manis, itulah yang mereka nikmati dengan penuh gairah. Mencaci kemudian memeluk, berkata benci tapi rindu setengah mati, mengutuk tapi kemudian bertekuk. Menjilat itu manis, kata mereka, bahkan mereka kecanduan menjilat.

Ah, politisi.. politisi, merekalah yang membuat orang banyak salah persepsi dan berteriak politik kotor. Kelakuan kotor inilah yang membuat orang alergi pada politik yang tujuannya an sich adalah mulia, karena untuk kebaikan bersama sebagai sebuah bangsa. Akhirnya, tak lagi ada kata yang tersisa kecuali Mata Hati mengucapkan: Selamat menjilat semoga nikmat.

Komentar


Group

Top