Manajemen

Managing Energi

Penulis : Harry Puspito | Fri, 1 June 2012 - 13:37 | Dilihat : 1571

Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Perusahaan menuntut kinerja dari para karyawannya. Dengan melakukan investasi ke dalam diri seorang karyawan, perusahaan berharap seorang karyawan akan memiliki kontribusi untuk keberhasilan perusahaan. Sudah barang tentu perusahaan berharap kinerja yang optimal, tidak ala kadarnya.
Sebenarnya bukan hanya soal pekerjaan saja kita dituntut memiliki kinerja, tapi sebagai manusia, khususnya orang percaya, kita dituntut memiliki kinerja dalam ‘segala hal’ (Mazmur 1:3).  Ini berarti, baik dalam pekerjaan, di keluarga, di gereja, di masyarakat, dan di mana pun kita ditempatkan.  Tuhan telah memberikan kepada setiap orang ‘talenta’ yang berbeda-beda, dan Dia menuntut return dari talenta yang Dia percayakan. Bahkan Dia menuntut kinerja yang maksimal (Matius 5:48).
Dua faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang, adalah waktu dan penggunaan waktu itu. Mengenai hal pertama, setiap orang memiliki waktu yang sama, yaitu 24 jam per hari; sekitar 8 jam di antaranya per hari untuk bekerja, dan 16 jam sisanya perlu dibagi untuk berbagai kegiatan, dari pemeliharaan diri, istirahat, kegiatan ibadah dan pelayanan, keluarga, sosial, pengembangan diri, dsb. Teknik-teknik time management sudah banyak dipelajari dan dipraktekkan untuk pengelolaan penggunaan waktu.
Namun, masalah besar yang dihadapi bukan lagi mengelola waktu, tapi bagaimana dalam setiap slot waktu, ketika seseorang menjalani suatu aktivitas, bisa memiliki kinerja yang optimal. Dengan time management kita bisa mengalokasikan waktu untuk mengikuti suatu rapat penting, tapi apakah di dalam rapat kita memberikan kontribusi yang terbaik? Atau kita terkantuk-kantuk karena kurang tidur, kelelahan, tidak sehat, atau sedang memiliki masalah yang mengganggu emosi kita. Kita menjadualkan pulang kantor pada jam tertentu, agar sempat bertemu dengan anak yang sudah remaja. Setelah bertemu, ternyata dia bersikap acuh dan mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan. Apakah kita mampu meng-handle situasi agar komunikasi tetap berjalan baik? Dengan kata lain, pada setiap aktivitas yang kita jalani, apakah kita memiliki energi yang cukup untuk menjalani? Jika tidak, maka bukan saja percuma kita hadir di suatu aktivitas, bahkan kita potensi mengalami kegagalan dalam kegiatan itu. Karena itu, masalah ‘managing energi’ menjadi sangat penting kalau kita ingin memiliki kinerja yang terbaik dalam segala hal.
Alkitab berbicara tentang waktu dalam dua pengertian, pertama, sebagai kronos atau waktu yang berlalu itu. Kita memang perlu mengatur penggunaan waktu sehingga cukup untuk kebutuhan kita. Namun, Alkitab juga berbicara waktu dalam konsep kairos (Lihat Efesus 5:15-18), yaitu, peluang-peluang yang Dia timbulkan dalam kronos. Ketika kairos melalui diri kita, apakah, kita mampu meraihnya sehingga menjadikannya suatu kinerja bagi Tuhan kita? Sementara Alkitab memerintahkan kita menggunakan ‘kairos’.
Diperingatkan hari-hari ini adalah jahat, tidak kondusif untuk seseorang memiliki kinerja bagi Tuhan. Berita-berita yang kita dengar setiap hari membuktikan betapa kejahatan menguasai dunia: korupsi, narkoba, perkosaan, pembunuhan, dsb. Belum termasuk dosa-dosa yang tidak masuk berita, tapi marak terjadi: marah, malas, sombong, dsb, termasuk kejahatan-kejahatan yang tidak punya nilai berita. Semua membuat orang kehilangan energi untuk berbuat baik.
Orang percaya diperingatkan agar memperhatikan bagaimana dia hidup. Dia harus waspada, terus mengevaluasi diri dan membangun kebiasaan-kebiasaan dan gaya hidup yang sesuai dengan panggilannya. Orang percaya diperingatkan, jangan bodoh, tapi hidup bijaksana, yaitu terus belajar dan melakukan apa yang didapat dari belajar. Alkitab mengkaitkan hidup bijak dengan kesadaran akan terbatasnya waktu itu (Mazmur 90:12).
Perumpamaan gadis yang cerdik dan bodoh mengingatkan, agar orang percaya selalu siaga untuk menyambut Kristus yang siap datang setiap saat, yang tidak kita ketahui waktunya. Tapi perumpamaan ini juga mengingatkan kita agar ketika kairos datang, kita siaga, memiliki energi yang cukup untuk menangkap peluang itu. Setiap hari kita diperhadapkan kepada berbagai kairos dalam rangka mengasihi Allah dan mengasihi sesama: apakah itu peluang beribadah, bekerja, pelayanan, menjalani peranan dan tanggung-jawab di keluarga, bersaksi, dsb. Apakah kita menangkap kairos-kairos itu atau kita membiarkannya berlalu karena tidak ada semangat dan tenaga mengerjakannya? Kita memerlukan tidak saja energi fisik, tapi juga energi mental, emosi, dan rohani. Karena itu kita perlu melatih diri, tidak saja fisik, tapi rohani (1 Timotius 4:75, 8), dan membangun gaya hidup yang sehat agar menjadi pribadi yang memiliki stamina tinggi untuk menggapai peluang-peluang dari Tuhan. Puji Tuhan, Dia bahkan menyediakan penolong yang setia, Roh Kudus, agar kita memiliki kinerja yang sempurna, yang berkenan kepada Allah (Efesus 5:18).
Tuhan memberkati!!!

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top