Khotbah Populer

Aktualisasi Kuasa Kenaikan

Fri, 1 June 2012 - 15:04 | Dilihat : 8755
Tags : Artikel Artikel Kenaikan

Terkait


 Pdt. Bigman Sirait

Itu adalah pertanyaan dari para murid ketika Tuhan Yesus hendak naik ke surga.  Menarik, sampai kepada detik Yesus akan diangkat ke Surga, pun murid-murid masih tetap memiliki pengharapan besar Yesus dapat memulihkan kerajaan Israel.  Apa sebenarnya yang ada di dalam benak mereka tentang pemulihan, yang patut dilihat lebih lanjut.  Ternyata orientasi tentang pemulihan yang diminta para murid kepada Yesus masih sama dengan orientasi pemulihan semula, ketika Yesus belum mati.  Mereka masih berharap bahwa Yesus akan menjadi pemenang “the winner”atas kerajaan yang mengacaukan Israel.  Pada konteks itu adalah Roma.  Ironisnya, di tengah penharapan yang besar itu Yesus justru mati.  Ini yang membuat syok para murid.  Karena, di benak mereka sudah tidak ada lagi harapan untuk sebuah perubahan.  Parahnya lagi, sampai Yesus hendak naik ke surga pun murid-murid masih berpikir tentang pengharapan duniawi itu.  Mereka (Israel) ada dalam kondisi akan ditinggal oleh Yesus.  Yesus memang sudah bangkit, tapi apa lacur, yang diharap, perubahan yang ditunggu itu tak kunjung nampak.  Israel seperti tak mendapat apa-apa.
Sebuah tuntutan  yang sangat manusiawi, yang lahiriah, dan bisa dipahami.  Tetapi justru di situlah letak kesalahan fatal para murid, ketika mencoba menelusuri dan memahami bahwa Yesus akan membereskan persoalan-persoalan lahiriah Israel di muka bumi ini dalam penyataan-Nya.  Para murid masih saja belum mampu menangkap secara utuh bahwa Yesus akan berbuat lebih dari itu.  Bahwa  Yesus akan berbuat yang lebih luar biasa, untuk membangun kerohanian yang justru paling utuh.
Menjadi paling penting bukan soal pemulihan kerajaan, tetapi pengangkatan manusia, yaitu hari di mana Yesus nanti akan datang kembali.  Di mana genderang perang bertalu-talu dibunyikan,  dosa menjadi pecundang, dan Kristus akan muncul menjadi pemenang, dan sebagai hakim yang akan membereskan semuanya.  Tetapi bukan lagi dalam rangka akan datang sebagai penebus.   Sebab itu sudah digenapinya ketika Dia datang untuk pertama kali.   Yang kedua kali, kelak Dia akan datang untuk membereskan segala sesuatu dan untuk menghakimi dunia.  Kapan waktunya? Soal pemulihan kerajaan itu adalah otoritas Bapa.  Yang terpenting adalah orang memahami tugas sebagai orang percaya itu apa? Tugas kita adalah “Tetapi kamu akan menerima kuasa , kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku  di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. “  
Jadi, pada waktu Yesus naik ke surga, bukan hal penting orang menanyakan “Tuhan maukah  Engkau memulihkan kerajaan Israel ini sebelum Engkau naik ke surga”.  Atau  pertanyaan “Tuhan maukah  Engkau memulihkan persoalan-persoalan di bumi ini sebelum Engkau naik ke surga”.  Dalam doa Yesus, seperti diceritakan oleh Injil Yohanes, Yesus menyebut bahwa kita bukan dari dunia, tetapi kita ada di dalam dunia.  Dia juga berdoa bahwa kita bukan untuk dunia.  Kalimat berikutnya sangat menarik, kita di dalam dunia, tapi kita bukan milik dunia. Yesus berkata kepada Bapa “Namun Aku tidak memintamu Bapa untuk mengangkat mereka dari dunia”.  Jadi, ini bukan dalam rangka percaya kepada Kristus yang sudah naik itu, lalu ketika kita mati langsung terangkat ke Surga.  Tidak,  bukan soal itu.  Jauh lebih penting adalah, ada satu tugas yang harus diemban, tugas yang harus dilaksanakan, yaitu meneruskan apa yang sudah Yesus  lakukan di dalam dunia.  Pertarungan terhadap kejahatan, pertarungan terhadap dosa tetap berjalan.  Di sini, di dunia ini, dan sekarang ini.  Itulah yang sebenarnya juga menjadi tugas para murid.  Sehingga, sesungguhnya  yang menjadi penting bagi mereka bukanlah kapan Bapa akan memulihkan kerajaan israel ini, kapan Bapa akan memulihkan kehidupan di bumi ini. Tetapi, yang menjadi panggilan para murid, juga kita, sejatinya adalah bagaimana kuasa kematian dan kebangkitan Kristus itu memberikan pencerahan baru kepada kita.  Di mana Roh kudus menyatakan kasih dan kuasanya, sehingga   orang-orang percaya akan mendapat kuasa dari Roh kudus, untuk menjadi saksi-saksi Tuhan. 
Kenaikan Kristus adalah pencurahan Roh Kudus.  Ini tidak berarti bahwa Roh Kudus sebelumnya tidak bekerja.  Karena waktu Yesus bertanya kepada para murid, “menurutmu siapakah Aku”, maka Petrus menjawab, “engkau adalah Mesias Anak Allah”.  Lalu Yesus menjawab, “bukan engkau Petrus, tapi Roh Bapaku yang mengatakannya.”  Artinya, Roh Kudus sudah berkarya jauh sebelum peristiwa itu.  Kenaikan menjadi pencerahan bagi para murid dan orang percaya, di mana murid memainkan peran yang aktual.  Dan tercatat dalam sejarah, para murid di kemudian hari mengalami perubahan-perubahan yang sangat luar biasa.  Kenaikan-Nya menjadi bukti bahwa Dia telah memainkan peran yang luar biasa.  Mati, bangkit, dan naik ke surga.  Dia telah memenangkan pertarungan penebusan. Di taman getsemani Dia tidak lari, tapi menuntaskannya. 
Orang-orang Kristen seharusnya sadar, ketika dipanggil menjadi orang percaya, kita mengemban tugas yang besar untuk boleh menyuarakan suara kebenaran.  Mengalami kepahitan, penderitaan dan kesulitan, tetapi tetap berkenan bertempur di dalam kehidupan, tampil menjadi pemenang.  Hendaknya kita jangan menjadi kristen yang cengeng.  Orang kristen dipanggil bukan untuk sekadar hip-hip hura, memuaskan nafsu, supaya Tuhan memenuhi semua permintaan kita.  Akhirnya, hanya melulu bicara soal hal yang lahiriah, tetapi lupa pada nilai-nilai yang batiniah.  Orang hanya berdiskusi dan berbicara hanya soal bagaimana mendapat uang, memperoleh pertolongan Tuhan, dan kesehatan.  Tetapi lupa bagaimana harus hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.  Orang hanya berpikir “apa yang akan Tuhan berikan”, tetapi lupa bertanya,  “apa yang harus saya kembalikan kepada Tuhan”.    Bertanya dan berbicara soal bagaimana Tuhan memuaskan keinginan diri, tetapi lupa panggilan diri untuk memuaskan apa yang menjadi kehendak Tuhan.  Untuk itulah kita menerima kuasa.  Tetapi kuasa bukanlah soal pengalaman diri, pengetahuan, kehebatan atau kedudukan di gereja.  Tetapi kuasa itu adalah kalau Roh Kudus turun ke atas kita. 
Semua orang percaya pasti mendapat kuasa Roh Kudus, bukan satu, beberapa orang atau monopoli kelompok tertentu saja.  Tetapi sesungguhnya kita sendiri yang mengondisikan dan melabelisasi seseorang atau sekelompok orang itu sebagai “agen kuasa”.  Hal ini yang justru menghina kuasa Allah.  Mendapat kuasa bukan berarti orang lantas menjadi hebat dengan membuat mujizat.  Lebih dari itu, kita menerima kuasa untuk menjadi Saksi-Nya, di Yerusalem, Yudea, dan Samaria.  Ini tidak menunjukkan suatu urutan tertentu.  Tapi lebih berarti di setiap tempat, disetiap lini, orang kristen dituntut menjadi saksi.  Siapa? Yaitu orang-orang percaya, bukan hanya Pendeta dan Pelayan Tuhan.  Roh kudus yang akan memampukan orang, menolong untuk menjadi saksi-Nya.  Bersaksi juga bukanlah soal kisah tentang bagaimana orang ditolong Tuhan.  Bersaksi adalah mengaktualisasi Injil secara utuh.  Menekankan pada dua prinsip penting, pertama kasih kepada Allah dengan segenap jiwa, akal budi, pikiran, dan kasih kepada sesama seperti kita mengasihi diri sendiri.  Demonstrasi cinta kasih yang luarbiasa, aktualisasi Injil.  Cinta kasih yang dinyatakan pada banyak orang di sekitar, sehingga orang tahu, Yesus yang naik ke surga itu adalah Yesus yang hidup dan hidup dalam orang percaya. 
Dia yang naik itu akan datang lagi percis seperti Dia naik.  Aktual Dia naik, aktual Dia turun.  Realitas Dia naik, realitas pula ketika Dia turun.  Maka kenaikan membuktikan bahwa surga ada.  Itu menjadi pengharapan yang kuat bagi orang percaya.  Dia yang naik ke surga akan datang kembali membawa umat-Nya ke surga.  Pengharapan yang sejati itu ada dalam iman orang-orang percaya.  Orang percaya yang sudah terikat dengan surga. Kini, persoalannya adalah bagaimana orang percaya menghidupi dan membuktikannya lewat aktualisasi Injil dalam realitas nyata. 
(Disarikan oleh Slawi dari CD Khotbah Populer) 

Lihat juga

Komentar


Group

Top