Khotbah Populer

Konsisten Dalam Menentukan Pilihan

Tags : Agama Dan Politik Artikel Politik Artikel Politik Politik Politik

Terkait


Oleh: Pdt. Bigman SiraitAwal bulan ini, tepatnya 5 April 2004, negara kita melaksanakan pemilihan umum (pemilu). Dalam hajatan nasional yang lazimnya berlangsung lima tahun sekali ini, kita akan memilih partai dan calon legislatif. Hasil pemilu ini akan menentukan siapa pimpinan nasional yang diharapkan mampu membawa bangsa dan negara ini keluar dari krisis.

Pemilu tidak bertentangan dengan iman kristiani. Bahkan peran serta kita sebagai terang dan garam sangat diperlukan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang serba pluralistik ini. Salah satu wujudnya, tentu saja, dengan menggunakan hak pilih tadi.

Sebelum membahas topik ini lebih jauh, tidak ada salahnya kita memahami sekilas tentang perkembangan sistem pemerintahan yang ada saat ini, yakni demokrasi. Sistem pemerintahan yang pertama sekali dikenal dalam sejarah peradaban manusia adalah teokrasi. Kemudian berkembang sistem lain yang dikenal sebagai monarki (kerajaan). Lambat laun, sistem monarki semakin tergusur oleh demokrasi yang hingga kini masih dianggap paling ideal.

Perkembangan ini harus kita fahami sebagai proses yang diizinkan oleh Tuhan, sehingga kita harus turut ambil bagian di dalam proses itu. Berhubung karena negeri ini sangat pluralistik, dalam arti terdapat banyak agama dan sukubangsa, maka pemilu dapat dikatakan sebagai sesuatu yang sensitif. Karena itulah setiap orang Kristen dituntut agar cerdik seperti ular, tulus seperti merpati. Artinya, dalam memilih seorang pemimpin, kita tidak gelap mata, misalnya dengan mengatakan bahwa pemimpin itu harus orang Kristen. Ingat, kita ini adalah umat yang hidup di tengah budaya yang serba pluralistik.

Kalaupun pemimpin yang terpilih bukan dari kalangan Kristen, kita harus sadar bahwa itu adalah hak dan kedaulatan Allah. Dan adalah lebih baik memilih calon yang bukan Kristen, tetapi hidupnya dalam kejujuran, benar dan adil. Daripada memilih seorang Kristen yang tidak jujur, tidak adil, dan gemar ber-KKN, untuk apa? Salah satu hal penting yang perlu dicamkan adalah, pemilu bukan ajang untuk menentukan siapa menang siapa kalah. Jadi, orang Kristen yang selalu ingin memenangkan kelompoknya sendiri, pada dasarnya adalah orang yang tidak pernah mau belajar dari sejarah.

Sejarah membuktikan, gereja pernah memimpin negara, tetapi hasilnya kacau-balau. Sebab penyelewengan terjadi oleh Paus sebagai pemimpin tertinggi. Raja-raja yang ada di bawah kontrol Paus tidak menjadi lebih baik. Itu adalah kenyataan sejarah yang tak bisa kita bantah. Jadi, kita harus hati-hati.

Pemilih harus menyadari konsekuensi pilihannya. Sebab, hasilnya bisa baik atau sebaliknya. Pada pemilu yang lalu, Ketua Dewan Pantekosta Indonesia menyerukan umat supaya memilih parpol tertentu. Hasilnya, parpol yang memang keluar sebagai pemenang itu meninggalkan masalah besar bagi bangsa dan negara. Artinya, tindakan umat Kristen yang memenangkan partai tertentu itu menghasilkan sesuatu yang antiklimaks.

Jadi, dalam hal ini gereja harus berhati-hati untuk menunjukkan sikap. Gereja harus memainkan posisinya sebagai kontrol sosial, menyuarakan suara kenabian. Gereja jangan mengambil sikap pro, tapi juga jangan mengambil sikap kontra. Gereja tidak perlu menjadi oposisi. Benar adalah benar, salah adalah salah. Itulah seharusnya sikap yang ditampilkan gereja di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Ketika gereja turut terlibat dalam politik praktis, semua orang akan memandang bahwa kekristenan adalah agama yang bersembunyi di bawah ketiak penguasa demi keamanan dirinya.

Lalu, kita mau ngomong apa jika Kristen dituding sebagai orang yang mau mencari aman dan enaknya saja? Manusia macam apa kita, jika untuk keamanan dan kenyamanan dirinya rela berlindung di balik sepatu lars militer? Jika kita mendapat tudingan-tudingan miring seperti itu, hendaknya kita jangan memprotes secara membabi-buta, sebab nyatanya tindakan kita memang tidak bijaksana. Nah, karena itulah, kekesalan-kekesalan yang dialamatkan kepada orang-orang Kristen, semua itu mestinya dapat dipahami. Karena, di sisi lain, kita memiliki "saham" dalam kesalahan itu.

Kita juga harus berani menerima akibat pilihan dan bertanggung jawab. Artinya, kalau pilihan itu baik menurut kita, mari tunjukkan bahwa itu memang pilihan kita yang tepat. Namun, kalau salah, jangan lari. Setiap orang Kristen harus fair dalam menetapkan pilihannya. Tunjukkan sikap yang konsisten. Kalau salah, minta maaf, dan bereskan. Jangan berupaya berkelit dengan membeberkan rentetan kata-kata yang tidak jelas juntrungannya. Sebab, itu justru membuat jemaat kebingungan. Maka, dengan semangat seperti ini, gereja pun perlu untuk belajar berdemokrasi. Sebab, jika tidak demikian, kita tak layak menuntut demokrasi yang betul-betul murni, di mana rakyatlah pemegang kedaulatan yang sesungguhnya (sedangkan pemerintah hanya mengemban kepercayaan saja).

Kesimpulannya, seorang pemilih harus benar-benar mengenal partai pilihannya, bertanggung jawab terhadap pilihannya, dan bersedia menerima konsekuensi atas pilihannya itu. Akhirnya, mari gunakan hak pilih kita masing-masing dengan sebaik-baiknya, namun dengan sikap hati-hati.

 

 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top