Khotbah Populer

Perjalanan Hidup Oleh Iman

Wed, 10 October 2012 - 14:51 | Dilihat : 5803
Tags : Artikel Spiritual Kristen Artikel Spiritual Kristen

Terkait


 Pdt. Bigman Sirait

From Faith To Faith! Kalimat terkenal ini pernah dilontarkan Rasul Paulus, dalam Roma 1:16-17, namun dipopulerkan, dibuat menjadi lebih dikenal lagi olehMartin Luther, tokoh terkemuka dan reformator gereja. Luther percaya, bahwa sola fide, “hanya karena iman” dia diselamatkan.  Itu menjadi pergumulan dalam pencariannya dalam hidup memahami  apa itu anugerah Tuhan.
Iman adalah proses, iman adalah perjalanan panjang orang benar, orang percaya, dari iman memimpin kepada iman, orang benar akan hidup oleh iman. Tentu saja iman kepada Injil, Yesus Kristus yang telah mati, bangkit dan naik ke surga itu, tidak lebih tidak kurang.   Iman tidak saja soal bagaimana orang bisa percaya, tapi  juga terkait erat dengan persoalan hidup, dengan perjalanan dan memandang hidup itu sendiri.  Hidup benar, menaati kehendak dan perintah Kristus, meneladani dan hidup seperti Kristus, itulah hidup beriman itu.
Tentu masih melekat di ingatan bagaimana atau kapan kita mengalami titik balik dalam hidup kerohanian.  Salah satu penandanya pastilah sebuah pertobatan. Pada waktu bertobat orang percaya akan mempunyai iman kepada Yesus Kristus, Anak Allah.  Tapi sadarkah kita jika iman itu sejatinya tidak keluar dari diri kita secara independent, alias niat dan prakarsa kita sendiri?  Alkitab, khususnya dalam 1 Kor 12:3 menyebutkan hal ini, bahwa iman itu sebenarnya adalah anugerah yang Roh Kudus berikan. Sebab tidak ada satu orang pun dapat percaya kepada Kristus kalau bukan karena Roh Kudus.  Jadi, beriman kepada Kristus itu bukanlah pilihan orang. Bukan karena kehebatan kontribusi manusia,  tapi semua itu adalah karya Roh kudus.  Yohanes juga menceritakan bagaimana Roh Kudus menginsafkan manusia akan dosa kesalahan dan seterusnya.  Roh menyadarkan orang bahwa dia adalah manusia berdosa.  Dengan demikian manusia juga dimampukan untuk beriman dalam Kristus, beriman kepada kebenaran.  Pertobatan dimulai dari iman percaya kepada Injil, yakni Kristus itu sendiri.  Dan iman itu adalah anugerah dari Roh Tuhan, Roh yang membuat orang mampu beriman, bisa percaya, bisa menyerahkan diri kepadaNya.
Tidak berhenti di situ, iman itu juga terus bergerak maju.  Jatuh-bangun, porak-poranda, namun tetap progres menuju puncak.  Orang dapat beriman dan percaya karena anugerah, orang bisa menjalani hidup keberimanannya itu juga dalam anugerahNya.  Hidup beriman tidaklah seperti tafsiran banyak orang masa kini yang kerap mengaitkannya dengan kekayaan dan kesuksesan.  Dalam kitab Korintus misalnya, iman dan hidup dalam keberimanan tidaklah berbicara soal harta. Korintus menggambarkan orang yang berdosa sebagai orang miskin, orang sakit, orang payah yang disembuhkan oleh bilur Kristus, Penebus dosa itu.  Dalam konteks ini, orang itu diperkaya oleh Kristus.  Korintus hendak menggambarkan kondisi orang dalam keberdosaan adalah orang yang miskin, sementara mereka yang kaya-raya adalah orang yang hidup dalam keberimanan.  Karena kaya bukan angka.  Itu juga mengapa Tuhan Yesus berkata, untuk apa kita memiliki seluruh dunia, tetapi kehilangan kehidupan yang sejati.  Kehidupan sejati itulah kekayaan sebenarnya.  Kekayaan dunia itu sebenarnya tak lebih dari kemiskinan dan pemiskinanan. Kalau memang Allah memberi kekayaan di dunia ini, itu bukanlah dosa.  Sebaliknya, kalau hidup kita terus menerus miskin, hari-hari diwarnai kesusahan, itu bukan pula malapetaka.
Iman sejati menolong orang mengarah kepada jalan yang benar, jalan yang tapat. Form faith to faith, adalah bagaimana aku hidup oleh Injil dan di dalam Injil. Hal ini menjadi pertandingan yang menyenangkan.  Di situ orang hidup dan bertanding menjalankan apa yang menjadi kehendakNya. Iman sejati itu untuk menguatkan langkah hidup kita, iman menyinari jalan kita yang gelap, iman memampukan orang untuk dapat melihat kebenaran.  Iman menolong kita bisa memandang surga, bukan diri.  Form faith to faith, dari tidak mengenal kebenaran menjadi mengenal kebenaran.  Dari mengenal kebenaran, sampai makin mengenal kebenaran, itulah prosesnya.
Hidup beriman terus bergerak. Iman mewarnai seluruh gerak langkah hidup orang.  Dalam proses suka-duka, iman turut berperan di dalamnya.  Beriman tidak berarti pasti senang terus atau kaya terus.  Lihat saja hidup Ayub.  Titik berat persimpangan hidupnya membuat Ayub seperti tergoncang.  Bagaimana tidak, harta habis, anak mati, kawan pergi, istri meninggalkan dia, kesehatannya pun menurun drastis.  Bukankah ini hal yang ironis.  Menjadi beriman tapi fenomenanya seperti orang dikutuk.  Kendati begitu, segala hal yang terjadi pada diri Ayub adalah lantaran dia orang benar.  Karena Ayub adalah justru orang yang dekat Tuhan.  Ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan orang yang beriman, yang sebelumnya kaya-raya pun bisa  menjadi total miskin.  Dari sehat menjadi sakit, banyak kawan jadi hilang sama sekali.  Hal yang sama pun sebenarnya dialami Yesus.  Paulus, juga tidak jauh berbeda.  Makin dekat dia dengan Tuhan, makin susah hidupnya.  Duri dalam daging pun harus ditanggungnya.  Tapi yang terpenting adalah bagaimana Paulus sadar ada makna dibalik hidup beriman yang dilaluinya:  Di dalam kelemahanku, nyatalah kekuatanMu ya Tuhanku.  Itu pointnya.  Sebab itu, hanya orang Kristen cengeng yang tidak mampu berkata, bahwa apa yang terjadi dalam hidupku itu adalah yang terbaik buatku.
Iman adalah keajaiban yang luar biasa besar.  Mampu merubah segala sesuatu dalam kehidupan, sehingga ledakan penderitaan justru dapat dijadikan kesukaan dan kebahagiaan.  Orang beriman sesungguhnya tidak meributkan soal fenomena, sehat atau sakit, kaya atau miskin, tapi mengarahkan diri pada iman yang sejati.  Karena itu, jika orang menyebut diri beriman, maka sudah sepatutnyalah hidup selaras dengan iman itu, sesuai kehendak Tuhan itu.
Dari iman kepada iman, terus bergerak memimpin hidup orang benar dalam merasai anugerah Allah yang besar.  Bagaimana iman itu bertindak dan bergerak.  Dari tidak mengenal menjadi mengenal. Dari mengenal kemudian menjalani suka-duka.  Dari suka-duka sampai kepada benturan, tetapi tetap saja beriman. Bahkan bergerak terus sampai menuju kepada titik kematian.  Iman itu terus memimpin.  Menatap kematian pun tetap dengan iman.  Seperti yang Paulus katakan, “hidup Kristus, mati keuntungan”.  Orang benar akan hidup dari iman kepada iman.  Adakah nyali kita, hasrat kita sampai ke sana? 
(Disarikan Dari Dimensi Iman Kristiani, Oleh Slawi)
 
 

Lihat juga

Komentar


Group

Top