Kerohanian Yang Sehat Secara Emosi

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Gereja pada masa kini menghadapi banyak tan-tangan, salah satunya adalah kenyataan banyak gereja telah menjadi ‘mandul’, tidak membuat jemaatnya mengalami transformasi pribadi sehingga selama bertahun-tahun berjemaat,  jemaat tidak mengalami perubahan diri, malahan mengalami kemerosotan. Masalah ini ditunjukkan antara lain oleh kenyataan bahwa emotional intelligence (kecerdasan emosi) dan kesehatan emosi banyak jemaat tidak berbeda dengan orang-orang di luar gereja.
“Emotional Intelligence” adalah kapasitas mengenali perasaan-perasaan sendiri dan orang lain untuk memotivasi diri, mengelola emosi sendiri dan dalam hubungan-hubungan dengan orang lain. Emotional Intelligence yang rendah ditunjukkan oleh rendahnya kesadaran akan emosi-emosi yang dialami sehingga dia tidak bisa mengelolah emosi-emosinya dengan baik. Contoh yang umum adalah mudahnya seseorang meledak emosinya ketika menghadapi masalah dan emosi amarah itu berkelanjutan tanpa kendali dan batas.  Contoh lain orang dengan inteligensi emosi yang rendah ditunjukkan oleh sikapnya yang selalu khawatir dan bersikap pesimis. Tidak ada hari tanpa khawatir. Sudah barang tentu orang ini akan sulit memotivasi dirinya sendiri.
Orang dengan kecerdasan emosi yang rendah sulit mengetahui situasi emosi orang lain sehingga dia sulit berempati dengan orang lain yang sedang bermasalah. Dia akan berbicara dan bertindak  “sembarangan” tanpa kesadaran akan akibatnya kepada orang tersebut. Dia tidak bisa menjadi pemimpin yang baik karena ketidak-mampuannya memahami emosi orang-orang  yang dipimpinnya. Tidak heran faktor kecerdasan emosi ini diyakini jauh lebih penting daripada kecerdasan intelektual untuk keberhasilan seseorang dalam karir, keluarga, bermasyarakat dan hidupnya.
Kita tidak bisa mengabaikan komponen emosi dalam diri kita karena emosi adalah kenyataan dan bagian penting dalam hidup kita. Kita diciptakan sesuai dengan gambar Allah dan Allah kita adalah Allah yang tampil beremosi, yang berbelas-kasihan, yang mengasihi, yang cemburu, kadang sedih dan marah kepada manusia.
Pentingnya mengenali dan mengelola emosi dalam diri orang percaya dapat kita kaitkan dengan perintah-perintah Tuhan kepada orang percaya dalam menjalani kehidupan mereka. Perintah utama itu sudah barang tentu “mengasihi Allah” dan “mengasihi sesama”, perintah yang sarat emosi. Belum ketika perintah ini dikaitkan dengan orang-orang tertentu yang menyulitkan kita, yaitu “kasihi musuhmu”. Di luar ini Tuhan memerintahkan kita agar kita tidak kuatir, tidak takut, tapi senantiasa bersuka-cita. Ketika marah jangan sampai matahari terbenam.
Alkitab berbicara tentang bagian-bagian dari diri seorang manusia walau kadang istilah-istilah yang digunakan tumpang tindih, seperti roh, jiwa, akal budi, emosi, hati di samping yang kasat mata adalah tubuh dan sesama – yang menunjukkan manusia adalah mahluk sosial. Manusia yang sehat adalah sehat secara holistik, walaupun Alkitab menyatakan bahwa bagian “dalam” dari manusia adalah lebih penting. Kadang orang bisa tidak sehat fisiknya, tapi kalau roh dan jiwanya sehat adalah jauh lebih baik. Karena itu penting untuk kesehatan manusia salah satunya adalah kesehatan emosinya.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa emosi adalah bagian dari diri manusia yang “merasa”. Manusia bisa merasa banyak hal tapi psikolog menemukan delapan keluarga emosi yaitu marah, sedih, takut, kenikmatan, kasih, kaget, jijik dan malu. Emosi manusia itu kompleks, ada yang bisa dimengerti terjadinya tapi banyak yang sulit, dan banyak orang mengalami kesulitan dalam mengelolah emosinya karena tidak tahu bagaimana caranya.
 Ketika emosi seseorang sehat, dia bisa mengidentifikasikan emosi-emosi tertentu yang sedang dia alami. Dia akan mengalami emosi-emosi yang tepat dengan situasi yang dia alami. Ketika ada duka cita, dia bisa ikut merasakan kedukaan. Ketika seseorang diberkati, dia bisa ikut merasa sukacita. Ketika ada sesuatu yang mengejutkan dia bisa merasa kaget, dan seterusnya.  Orang yang sehat secara emosi akan berdampak kepada kesehatan sosialnya. Orang demikian akan bersikap hangat kepada orang lain, tidak sengit dan tidak “moody”. Sedangkan orang yang tidak sehat secara emosi, bisa berespon secara berlebih dan dikuasai emosi. Misalnya, ketika dia bersedih karena kedukaan, kesedihannya berlebihan dan tidak berhenti-henti bahkan bisa berkeinginan bunuh-diri.
Alkitab menggambarkan orang percaya akan mengalami transformasi pribadi secara terus menerus dengan sasaran ‘menjadi serupa dengan Kristus’ (Roma 8:29), menuju suatu kesempurnaan (Matius 5:48). Dengan kata lain kita tidak boleh merasa sudah cukup dan tidak perlu berubah atau bertumbuh lagi selagi kita masih di dunia. Karakteristik orang bertumbuh yang dikehendaki adalah pribadi yang mengasihi Allah dan sesama (Matius 22:37, 39).
Transformasi emosi ada-lah bagian penting dari transformasi pribadi seseorang. Pemuridan atau training rohani adalah untuk melatih kita untuk berpikir, merasa dan bertindak seperti Kristus dalam situasi-situasi yang kita hadapi dan ini adalah kunci untuk transformasi pribadi. Dan orang dengan kedewasaan emosi terutama akan dikuasai emosi kasih, sukacita dan damai sejahtera walau dia bisa mengalami emosi-emosi lain (Lihat Galatia 5:22, 23). Kebiasaan-kebiasaan yang teratur dan kebiasaan-kebiasaan rohani seperti berdoa, retreat, bermeditasi, dan sebagainya; serta  penguasaan diri sangat berpengaruh kepada pembentukan kesehatan emosi seseorang. Tuhan memberkati!
 
 
 

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *